Stabilisasi Pasar, China Disarankan Terbitkan Obligasi CNY2 Triliun
Demi Ermansyah | 25 Oktober 2024, 20:10 WIB

AKURAT.CO Sebuah lembaga pemikir yang terkait dengan pemerintah China mengusulkan penerbitan obligasi khusus senilai CNY2 triliun, setara dengan Rp4.378 triliun, sebagai upaya untuk menciptakan dana stabilisasi pasar.
Usulan ini muncul dalam pernyataan tertulis dari Institut Keuangan dan Perbankan di Akademi Ilmu Sosial China, yang mengungkapkan bahwa dana ini bertujuan untuk meningkatkan stabilitas pasar melalui pengelolaan saham utama dan dana yang diperdagangkan di bursa.
Dimana lembaga tersebut memiliki afiliasi dengan Dewan Negara China, yang merupakan kabinet pemerintahan negara tersebut. Rencana untuk mendirikan dana ini adalah bagian dari langkah-langkah stimulus yang diluncurkan pemerintah pada akhir September lalu.
Dimana lembaga tersebut memiliki afiliasi dengan Dewan Negara China, yang merupakan kabinet pemerintahan negara tersebut. Rencana untuk mendirikan dana ini adalah bagian dari langkah-langkah stimulus yang diluncurkan pemerintah pada akhir September lalu.
Hal ini bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekuitas dan memperkuat perekonomian negara. Namun, detail lebih lanjut mengenai langkah tersebut masih minim.
Melansir dari Bloomberg, Bank Sentral China, atau People's Bank of China (PBOC), telah meluncurkan program lain, termasuk fasilitas pinjaman untuk membantu perusahaan dan pemegang saham mayoritas dalam membeli kembali saham mereka.
Melansir dari Bloomberg, Bank Sentral China, atau People's Bank of China (PBOC), telah meluncurkan program lain, termasuk fasilitas pinjaman untuk membantu perusahaan dan pemegang saham mayoritas dalam membeli kembali saham mereka.
Fasilitas swap juga disediakan untuk memberi akses kepada investor kelembagaan ke permodalan bank sentral guna membeli saham. Meskipun pemerintah berusaha memperkuat pasar, saham-saham China baru-baru ini mengalami penurunan setelah mencapai rekor tertinggi akibat kebijakan stimulus.
Indeks CSI turun 7% dari puncaknya bulan ini, mengurangi 25% dari level terendah yang dicatat pada bulan September. Kini, perhatian tertuju pada pertemuan anggota parlemen yang akan datang, di mana anggaran belanja pemerintah senilai triliunan dolar diperkirakan akan disetujui.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








