Jelang Penutupan Masa Kampanye, Kubu Trump Umumkan Rencana Pemangkasan Program Kesejahteraan
Demi Ermansyah | 4 November 2024, 23:27 WIB

AKURAT.CO Menjelang akhir kampanye presiden Amerika Serikat, Anggota koalisi Donald Trump tiba-tiba mengangkat isu baru yakni AS butuh pemotongan anggaran besar-besaran, dan harus dilakukan segera.
Namun, mereka tidak memberikan rincian jelas tentang langkah ini. Bahkan Elon Musk, yang sebelumnya berbicara soal imigrasi, kini berjanji akan memangkas USD2 triliun dari anggaran federalnya atau sekitar sepertiga dari total anggaran pemerintah.
Meski terdengar besar, Musk hanya menyebut akan ada “kesulitan sementara” tanpa menjelaskan lebih lanjut apa bentuknya.
Tak hanya Musk, Ketua DPR AS, Michael Johnson menyebut reformasi kesehatan akan menjadi fokus utama jika Trump menang, termasuk upaya agresif untuk mencabut Affordable Care Act (ACA). Selain itu, miliarder hedge fund John Paulson, yang juga mendukung Trump, turut menyuarakan pentingnya pemangkasan anggaran secara drastis.
Tak hanya Musk, Ketua DPR AS, Michael Johnson menyebut reformasi kesehatan akan menjadi fokus utama jika Trump menang, termasuk upaya agresif untuk mencabut Affordable Care Act (ACA). Selain itu, miliarder hedge fund John Paulson, yang juga mendukung Trump, turut menyuarakan pentingnya pemangkasan anggaran secara drastis.
Baca Juga: Diasosiasikan dengan Trump, Saham Emiten Ini Terus Melonjak di China
Secara tidak langsung pengumuman mendadak ini memperlihatkan bahwa kebijakan Trump berpotensi sulit dijalankan dan kurang mendalam. Padahal saat ini, ekonomi AS sebenarnya sedang berada dalam kondisi yang cukup baik, hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan PDB AS yang melampaui prediksi, tingkat pengangguran rendah, dan inflasi kembali normal.
Secara tidak langsung pengumuman mendadak ini memperlihatkan bahwa kebijakan Trump berpotensi sulit dijalankan dan kurang mendalam. Padahal saat ini, ekonomi AS sebenarnya sedang berada dalam kondisi yang cukup baik, hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan PDB AS yang melampaui prediksi, tingkat pengangguran rendah, dan inflasi kembali normal.
Namun, tantangan tetap ada, terutama dengan suku bunga tinggi dan defisit anggaran yang besar, serta populasi yang menua, yang membuat pengurangan anggaran semakin rumit.
Di tengah situasi ini, baik Trump maupun kandidat lainnya, Kamala Harris, sama-sama mengajukan kebijakan yang malah berpotensi memperbesar defisit anggaran. Namun, rencana Trump akan menambah utang dua kali lebih besar daripada Harris, dan banyak berfokus pada pemotongan pajak bagi golongan terkaya, yang bisa berdampak negatif pada anggaran negara.
Seperti yang diketahui, melansir dari Bloomberg, kebijakan Trump yang menjanjikan pemotongan pajak besar bagi orang kaya justru akan memperbesar utang negara hingga USD7 triliun.
Di tengah situasi ini, baik Trump maupun kandidat lainnya, Kamala Harris, sama-sama mengajukan kebijakan yang malah berpotensi memperbesar defisit anggaran. Namun, rencana Trump akan menambah utang dua kali lebih besar daripada Harris, dan banyak berfokus pada pemotongan pajak bagi golongan terkaya, yang bisa berdampak negatif pada anggaran negara.
Seperti yang diketahui, melansir dari Bloomberg, kebijakan Trump yang menjanjikan pemotongan pajak besar bagi orang kaya justru akan memperbesar utang negara hingga USD7 triliun.
Beberapa analis memprediksi bahwa tarif pajak ini akan memaksa pengurangan manfaat program Jaminan Sosial serta kenaikan pajak bagi sekitar 80% masyarakat. Rencana Trump juga menargetkan pemangkasan pada berbagai program kesejahteraan, seperti Medicare, Medicaid, bantuan pendidikan, serta kupon makanan, yang selama ini sangat membantu masyarakat kelas menengah ke bawah.
Sejumlah pendukung Trump di kalangan bisnis mulai khawatir bahwa proposal kebijakannya dapat mengganggu stabilitas keuangan AS. Mereka menilai bahwa pemangkasan besar-besaran pada program yang dibiayai pemerintah sangat dibutuhkan, tetapi proporsi pemotongannya belum jelas. Ketua DPR Michael Johnson tampak lebih fokus pada pemotongan program kesehatan, namun belum ada kejelasan soal rencana lebih rinci.
Sejumlah pendukung Trump di kalangan bisnis mulai khawatir bahwa proposal kebijakannya dapat mengganggu stabilitas keuangan AS. Mereka menilai bahwa pemangkasan besar-besaran pada program yang dibiayai pemerintah sangat dibutuhkan, tetapi proporsi pemotongannya belum jelas. Ketua DPR Michael Johnson tampak lebih fokus pada pemotongan program kesehatan, namun belum ada kejelasan soal rencana lebih rinci.
Agenda Trump ini tampaknya membawa konsekuensi berupa kenaikan pajak bagi masyarakat kelas pekerja serta pengurangan besar-besaran pada program-program penting yang sangat mereka andalkan.
Langkah ini dilakukan untuk membiayai pemotongan pajak besar bagi segelintir orang kaya, seperti Elon Musk dan John Paulson. Meskipun demikian, jika agenda ini diumumkan terbuka tepat sebelum pemilu, hal ini dianggap berisiko politik yang besar, sehingga kampanye Trump tampak berusaha mengaburkan dampak nyata dari rencananya.
Selama kampanye, Trump berulang kali menyatakan bahwa jika dirinya terpilih kembali, kondisi ekonomi akan kembali seperti pada 2019, sebelum pandemi Covid-19.
Selama kampanye, Trump berulang kali menyatakan bahwa jika dirinya terpilih kembali, kondisi ekonomi akan kembali seperti pada 2019, sebelum pandemi Covid-19.
Namun, kenyataannya pandemi telah membuat utang negara bertambah secara signifikan di bawah pemerintahan Trump maupun Biden. Formula kebijakan Trump pada 2017 pemotongan pajak, peningkatan belanja dalam negeri, dan anggaran militer yang tinggi sulit diterapkan sekarang tanpa resiko ekonomi serius.
Musk bahkan mengakui bahwa kebijakan Trump mungkin akan menurunkan standar hidup masyarakat dalam jangka pendek, namun ia berpendapat bahwa “kesulitan sementara” ini diperlukan untuk pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Namun, pertumbuhan ekonomi AS dalam lima tahun terakhir sebenarnya menunjukkan perbaikan, dengan banyak warga yang merasa terganggu akibat dislokasi sementara seperti pandemi, inflasi pasca-Covid, dan kenaikan suku bunga Federal Reserve.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









