Trump Mau Hapus Kebijakan Chips Act, Akankah Jadi Madu Atau Racun Bagi AS?

AKURAT.CO Sejak diperkenalkan pada 2022 silam, undang-undang Chips Act telah menjadi pilar utama dalam membangun kembali industri semikonduktor Amerika Serikat.
Dimana UU tersebut bertujuan mengurangi ketergantungan AS terhadap produksi cip dari Asia dan memastikan pasokan semikonduktor yang stabil bagi berbagai industri, mulai dari otomotif hingga kecerdasan buatan (AI).
Namun sayangnya, Presiden Donald Trump baru-baru ini menyerukan agar program tersebut dihapus.
Usut punya usut Trump menilai bahwa dana yang dialokasikan untuk CA senilai USD52 miliar sebaiknya digunakan untuk keperluan lain, seperti mengurangi utang negara.
Baca Juga: Memanas, AS - China Perang Tarif Semikonduktor
Akankah Penghapusan Chips Act Pengaruhi Pasar Global?
Mengutip dari laman Bloomberg, semenjak diimplementasikannya, Chips Act faktanya telah memberikan dampak besar tidak hanya bagi AS, tetapi juga bagi pasar teknologi global.
Diantaranya yakni peningkatan Investasi dalam Produksi Semikonduktor, sebab UU tersebut memberikan banyak sekali subsidi dan insentif pajak bagi banyak perusahaan teknologi raksasa seperti Intel, TSMC, dan Samsung yang ingin membangun pabrik baru di AS.
Tentunya hal tersebut bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada manufaktur di Taiwan dan China.
Kemudian, sebelum adanya Chips Act, lebih dari 75% produksi semikonduktor dunia berasal dari Asia, khususnya Taiwan.
Dengan kebijakan tersebut, AS mulai menarik sebagian besar produksi ke dalam negeri, yang secara tidak langsung mempengaruhi keseimbangan industri teknologi global.
Apalagi saat ini, semakin meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan China, Chips Act dianggap sebagai strategi untuk memastikan AS tetap mandiri dalam produksi teknologi penting.
Semikonduktor tidak hanya digunakan dalam perangkat elektronik, tetapi juga dalam sistem militer dan keamanan nasional.
Baca Juga: Prospek Industri Semikonduktor AS di Bawah Trump
Apakah Masih Dibutuhkan?
Dukungan terhadap Chips Act datang dari banyak pihak, terutama di sektor teknologi dan manufaktur.
Namun, beberapa kalangan menganggap program tersebut terlalu membebani anggaran negara dan belum menunjukkan hasil yang signifikan dalam jangka pendek.
Jika undang-undang ini dihapus, maka AS berisiko kehilangan momentum dalam membangun industri semikonduktornya sendiri.
Selain itu, negara-negara lain seperti China dan Uni Eropa kemungkinan akan mengambil keuntungan dengan memperkuat sektor semikonduktor mereka.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









