AKURAT.CO Harga minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) mencatat penguatan pada perdagangan Jumat (23/5/2025). Meski mencatatkan tren kenaikan mingguan, potensi lonjakan produksi dalam waktu dekat menahan laju penguatan harga.
Dikutip dari laman berbagai sumber, Sabtu (24/5/2025), berdasarkan data perdagangan BMD, kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Juni 2025 naik tipis sebesar RM2 menjadi RM3.824 per ton. Sementara kontrak untuk Juli 2025 mengalami kenaikan lebih tinggi, yakni sebesar RM3, sehingga mencapai harga RM3.836 per ton.
Adapun kontrak berjangka CPO untuk Agustus 2025 tercatat meningkat 7 Ringgit Malaysia ke level RM3.827 per ton. Kenaikan paling signifikan terjadi pada kontrak untuk pengiriman September 2025 yang melonjak RM12 menjadi RM3.821 per ton, menandakan adanya sentimen positif di pasar menjelang kuartal ketiga 2025.
Penguatan harga CPO berlanjut pada kontrak Oktober 2025 yang naik RM21 menjadi RM3.824 per ton, dan kontrak November yang naik RM22 ke posisi RM3.831 per ton. Peningkatan ini sekaligus mencerminkan minat beli yang relatif stabil dari para pelaku pasar di tengah ketidakpastian global.
Namun demikian, sentimen positif ini sedikit terkoreksi setelah Asosiasi Minyak Sawit Malaysia (MPOA) merilis data yang menunjukkan adanya potensi kenaikan produksi. MPOA memperkirakan produksi minyak sawit untuk periode 1–20 Mei 2025 mengalami kenaikan sebesar 3,51% dibanding periode sebelumnya.
Seorang trader di Kuala Lumpur yang tidak disebutkan namanya, menyebutkan bahwa harga CPO sempat menguat lebih tinggi pada sesi pagi, tetapi mulai melemah setelah publikasi data tersebut. Pasar dinilai cukup sensitif terhadap kabar peningkatan produksi karena dapat memicu kelebihan pasokan, yang pada akhirnya menekan harga di pasar global.
Selain itu, penguatan nilai tukar Ringgit Malaysia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sebesar 0,98% turut menjadi faktor penekan harga. Karena perdagangan CPO menggunakan mata uang ringgit, apresiasi ini membuat produk CPO Malaysia menjadi lebih mahal bagi pembeli asing, sehingga berpotensi menurunkan permintaan.
Dari sisi kompetitor, harga minyak nabati lain seperti minyak kedelai turut memberikan pengaruh. Di pasar Dalian, kontrak minyak kedelai naik 0,18% sementara kontrak minyak sawit turun 0,32%. Di Chicago Board of Trade, minyak kedelai naik lebih tinggi sebesar 1,16%, memperlihatkan adanya pergerakan permintaan yang mulai beralih ke minyak nabati alternatif.
Secara keseluruhan, pergerakan harga CPO masih berada dalam tren positif, namun investor dan pelaku industri tetap harus mencermati dinamika global yang memengaruhi sentimen pasar. Keseimbangan antara suplai dan permintaan, nilai tukar, serta harga minyak nabati pesaing akan menjadi faktor utama dalam menentukan arah harga CPO dalam beberapa pekan ke depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK










