Tarif Perdagangan Jadi Taruhan Politik Ishiba Jelang Pemilu Majelis Tinggi

AKURAT.CO Negosiasi perdagangan antara Jepang dan Amerika Serikat bukan hanya soal tarif dan investasi, melainkan juga menjadi pertaruhan politik bagi Perdana Menteri Jepang, Shigeru Ishiba menjelang pemilu majelis tinggi musim panas ini.
Kepala Negosiator Perdagangan Jepang, Ryosei Akazawa, menegaskan bahwa pemerintah Jepang berupaya menyelesaikan pembicaraan tarif dengan AS sebelum KTT G-7 yang akan digelar Juni mendatang. Rencana itu juga menyusul konfirmasi pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Ishiba dalam forum yang sama.
“Summit ini penting untuk memperkuat posisi kedua negara dalam kemitraan ekonomi global,” ujar Akazawa dikutip dari laman reuters.
Baca Juga: Imbal Hasil Obligasi Jepang Melesat, US Treasury Kehilangan Status Aset Aman Global?
Trump memberikan sinyal positif terhadap kemitraan antara dua produsen baja, Nippon Steel dari Jepang dan United States Steel dari AS, yang menurutnya akan menciptakan puluhan ribu lapangan kerja dan meningkatkan ekonomi domestik.
Namun di sisi lain, Jepang menghadapi tantangan besar. Tarif tinggi dari AS terhadap mobil, baja, dan aluminium masih membebani ekspor Jepang.
Bahkan, tarif mobil dapat naik hingga 24% jika tidak ada kesepakatan pada Juli mendatang. Mengingat industri otomotif menyumbang lebih dari 8% lapangan kerja di Jepang dan sepertiga dari ekspor ke AS, kebijakan ini menjadi ancaman serius.
Selain aspek ekonomi, dampaknya juga dirasakan dalam ranah politik. Dengan popularitas Ishiba yang merosot, keberhasilan dalam negosiasi ini bisa menjadi dorongan signifikan menjelang pemilu majelis tinggi. Namun, konsesi terlalu besar kepada AS, khususnya dalam isu pertanian, bisa memicu resistensi domestik.
Baca Juga: Ketahanan Pangan Indonesia Kian Kuat di Tengah Krisis Beras Jepang
Akazawa menegaskan bahwa pembicaraan mencakup aspek luas, mulai dari tindakan non-tarif hingga keamanan ekonomi. Ia juga memperingatkan agar tidak tergesa dalam menyimpulkan hasil negosiasi.
“Tidak ada yang disepakati sampai semuanya disepakati,” kata Akazawa, mengutip prinsip negosiasi dalam diplomasi modern.
Pertemuan selanjutnya direncanakan digelar minggu depan dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebagai bagian dari rangkaian diskusi intensif antara kedua negara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









