Petani AS Jadi Korban Perang Dagang, Pemerintah Siapkan Bantuan

AKURAT.CO Dampak perang dagang Amerika Serikat dan China semakin dirasakan oleh petani kedelai di jantung pertanian AS.
Penurunan tajam pembelian dari China membuat hasil panen melimpah tanpa pasar, memicu kekhawatiran di kalangan pelaku industri pertanian.
China, yang selama ini menjadi importir kedelai terbesar dunia, belum membeli satu kargo pun dari panen tahun ini. Padahal, tahun lalu negeri itu menyerap sekitar seperlima dari total produksi kedelai AS.
Baca Juga: Scott Bessent dan Kevin Warsh Siap Berebut Kursi Gubernur The Fed
“Hasil panen tahun ini begitu besar hingga kita bisa kehabisan ruang penyimpanan,” kata Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengutip dari laman reuters.
Kondisi tersebut terjadi di tengah ketegangan dagang kedua negara yang terus berlangsung. Beijing dituding sengaja menahan pembelian sebagai alat tawar dalam negosiasi tarif. “Mereka menjadikan petani Amerika sebagai pion,” ujar Bessent.
Kekhawatiran ini turut disuarakan Senator John Hoeven dari North Dakota, negara bagian penghasil kedelai utama. “Kami khawatir China benar-benar beralih ke pasar Amerika Selatan dan menyingkirkan petani kami,” katanya.
Pemerintahan Trump berjanji akan mengambil langkah untuk meringankan beban petani. Presiden Donald Trump menyatakan dukungan melalui media sosial Truth Social dan menyebut pendapatan dari tarif impor yang lebih tinggi dapat dialihkan untuk membantu sektor pertanian.
Baca Juga: Menkeu AS Desak Powell segera Mundur Dari Dewan Fed
Bessent menambahkan, pemerintah akan mengumumkan kebijakan khusus untuk petani kedelai pekan depan. Langkah ini diharapkan dapat menjaga ketahanan sektor pertanian hingga kesepakatan dagang baru tercapai.
Pertemuan sela antara Trump dan Presiden Xi Jinping yang dijadwalkan pada KTT regional di Korea Selatan akhir Oktober menjadi harapan baru. Pemerintah optimistis perundingan tersebut dapat menghasilkan terobosan sebelum masa gencatan tarif berakhir pada 10 November.
Sementara itu, petani di sejumlah negara bagian seperti North Dakota masih menunggu kepastian pasar. “Kami hanya ingin menjual kedelai kami,” ujar Hoeven. “Tapi saat ini, nasib kami bergantung pada keputusan di meja perundingan.”
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









