Tanggapi Pelemahan Rupiah, Bos Kadin: Faktor Dinamika Likuiditas Globak Bukan Fundamental Ekonomi RI

AKURAT.CO Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie menegaskan tekanan terhadap nilai tukar rupiah saat ini lebih dipicu oleh dinamika likuiditas global dibandingkan memburuknya fundamental ekonomi domestik.
Anindya menilai pelaku pasar global tengah mengalihkan fokus ke aset yang memiliki likuiditas tinggi. “Kita di dunia usaha melihat dari krisis ke krisis, Indonesia faktanya, terlepas dari kritik, selalu survive dan jadi lebih baik,” ujarnya dalam konferensi pers Kadin Business Pulse Q1 2026 di Jakarta, Jumat (24/4/2026).
Dirinya menjelaskan, tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari penguatan dolar AS serta perubahan preferensi investor global. “Karena yang dicari oleh pasar adalah mana saja yang bisa memberikan likuiditas. Jadi selama dilihat ada likuiditas di suatu mata uang termasuk rupiah pasti menjadi suatu kemungkinan untuk menarik,” katanya.
Baca Juga: Rupiah Ambruk 105 Poin ke Rp17.286, Airlangga: Kita Monitor Saja
Data resmi menunjukkan, nilai tukar rupiah sempat melemah di kisaran Rp16.200–Rp16.400 per USD sepanjang kuartal I 2026, sejalan dengan penguatan indeks dolar AS (DXY) yang berada di atas level 105.
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik mencatat ekspor Indonesia sepanjang 2025 mencapai sekitar USD258 miliar, dengan kontribusi terbesar berasal dari sektor nonmigas.
Secara historis, Indonesia telah melewati sejumlah krisis besar seperti Krisis Finansial Asia 1997–1998 dan tekanan global saat Pandemi Covid-19. Pada kedua periode tersebut, ekonomi Indonesia sempat terkontraksi namun kembali pulih dengan pertumbuhan positif dalam beberapa tahun berikutnya.
Menurut Anindya, pola serupa kembali terlihat saat ini, di mana tekanan eksternal tidak serta-merta mencerminkan kondisi fundamental dalam negeri. Ia juga menyoroti fenomena tidak lazim di pasar global, di mana aset safe haven seperti emas turut mengalami tekanan akibat kebutuhan likuiditas investor.
Jaga Cashflow Perusahaan
Tekanan likuiditas global berdampak langsung pada volatilitas nilai tukar, biaya impor, serta potensi tekanan terhadap inflasi domestik.
Dalam konteks dunia usaha, Kadin mencatat dua respons utama pelaku bisnis yakni sebagian melakukan efisiensi sambil tetap berinvestasi dan sebagian lainnya menahan ekspansi dan fokus menjaga arus kas. Ia menekankan pentingnya menjaga cash flow di tengah tekanan pendapatan global.
Di sisi fiskal, fluktuasi harga minyak dunia juga berpotensi memengaruhi beban subsidi pemerintah, yang pada 2025 tercatat mencapai lebih dari Rp300 triliun berdasarkan data Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
Kadin mendorong pemerintah dan pelaku usaha memperkuat sektor ekspor sebagai sumber devisa utama, terutama dari industri nonmigas seperti tekstil, furnitur, alas kaki, dan elektronik. “Apapun pokoknya yang bisa menghasilkan devisa harus didorong,” ujar Anindya.
Selain itu, peningkatan investasi dinilai krusial untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus menciptakan lapangan kerja. Ke depan, sinergi antara dunia usaha dan pemerintah menjadi faktor kunci dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian likuiditas global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







