Akurat Logo

Rupiah Menguat Dua Hari Beruntun di Tengah Pelemahan Dolar AS dan Harapan Deeskalasi Timur Tengah

Yosi Winosa | 7 Mei 2026, 19:25 WIB
Rupiah Menguat Dua Hari Beruntun di Tengah Pelemahan Dolar AS dan Harapan Deeskalasi Timur Tengah
Rupiah menguat atas dolar AS

AKURAT.CO Penguatan rupiah berlanjut untuk hari kedua berturut-turut di tengah melemahnya indeks dolar AS, seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap peluang meredanya konflik di Timur Tengah.

Sentimen global tersebut memberi ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk melakukan rebound setelah sebelumnya tertekan tajam.

Pada perdagangan Kamis sore (7/5/2026), rupiah ditutup menguat 54 poin (0,31%) ke level Rp17.333 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp17.387. Sepanjang sesi perdagangan, mata uang domestik bahkan sempat terapresiasi hingga 60 poin. Kemarin, rupiah juga ditutup menguat 0,21%.

Baca Juga: Jaga Yield dan Rupiah, Menkeu Siapkan Buyback SBN

"Pergerakan ini menandai fase pemulihan jangka pendek rupiah setelah tekanan eksternal dalam beberapa pekan terakhir didorong kombinasi penguatan dolar, lonjakan harga energi, dan meningkatnya premi risiko geopolitik global," ujar Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Kamis (7/5/2026).

Pelaku pasar global mulai mengurangi posisi defensif terhadap dolar AS setelah muncul sinyal bahwa Washington dan Teheran semakin dekat menuju kerangka kesepakatan untuk mengakhiri konflik.

Iran disebut tengah meninjau proposal perdamaian dari Amerika Serikat, sementara laporan media AS menyebut respons Teheran atas sejumlah poin utama diperkirakan keluar dalam 48 jam.

Meski Presiden AS Donald Trump menyatakan masih “terlalu dini” untuk pembicaraan tatap muka dengan Iran, pasar membaca adanya peluang deeskalasi yang cukup signifikan dibanding beberapa pekan sebelumnya. Harapan tersebut mendorong pelemahan indeks dolar AS dan menahan permintaan terhadap aset safe haven.

Namun, penguatan rupiah masih dibayangi risiko struktural dari dalam negeri, terutama terkait tekanan fiskal akibat lonjakan harga energi global. Pemerintah dinilai menghadapi ruang fiskal yang semakin sempit apabila harga minyak dunia bertahan tinggi dalam periode yang lebih panjang.

Dalam dokumen riset pasar yang dirilis Kamis, pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai kenaikan harga energi global telah meningkatkan komponen crack spread atau selisih harga minyak mentah dan produk turunannya, yang pada akhirnya memperbesar potensi beban subsidi energi pemerintah.

Apabila harga Brent bertahan di kisaran USD120 per barel selama beberapa bulan, risiko penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) dinilai semakin terbuka. Langkah tersebut memang sensitif secara politik dan berisiko menekan daya beli masyarakat, tetapi dianggap sulit dihindari jika tekanan terhadap APBN terus meningkat.

Di sisi lain, pasar juga mulai mengalihkan perhatian ke arah data ekonomi AS yang akan menentukan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve. Fokus investor kini tertuju pada data klaim pengangguran mingguan dan laporan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis Jumat waktu setempat.

Data tenaga kerja yang lebih lemah berpotensi memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, yang pada gilirannya dapat memperpanjang tekanan terhadap dolar AS dan membuka ruang penguatan lanjutan bagi mata uang emerging markets.

Meski demikian, analis menilai penguatan rupiah saat ini masih bersifat rentan. Fundamental eksternal Indonesia tetap menghadapi tekanan dari tingginya impor energi, volatilitas harga minyak, serta sensitivitas arus modal asing terhadap arah suku bunga AS.

Dalam jangka menengah, stabilitas rupiah dinilai tidak hanya bergantung pada faktor global, tetapi juga pada kemampuan pemerintah menjaga disiplin fiskal dan mempercepat deregulasi industri domestik.

Pemerintah disebut perlu mempercepat hilirisasi dan penguatan produksi berbasis energi di dalam negeri guna mengurangi ketergantungan impor di tengah volatilitas geopolitik yang berkepanjangan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.