Akurat Logo

Rupiah Melemah di Tengah Penguatan Data Ekonomi, Investor Fokus ke Risiko GLobal

Esha Tri Wahyuni | 3 Juni 2026, 09:07 WIB
Rupiah Melemah di Tengah Penguatan Data Ekonomi, Investor Fokus ke Risiko GLobal
Rupiah melemah di tengah penguatan data ekonomi

AKURAT.CO Rupiah ditaksir bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp17.840 hingga Rp17.900 pada perdagangan Rabu (3/6/2026).

"Untuk perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah pada kisaran Rp17.840 hingga Rp17.900 per USD," kata Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi.

Pada perdagangan Selasa (2/6/2026) sendiri, rupiah melemah di tengah sejumlah indikator ekonomi domestik menunjukkan perbaikan. Pelaku pasar masih mencermati perkembangan geopolitik Timur Tengah serta kebijakan perdagangan terbaru Presiden AS Donald Trump yang meningkatkan ketidakpastian global.

Baca Juga: Media Malaysia Soroti Pelemahan Rupiah, Mengapa Justru Dianggap Peluang bagi Pariwisata Indonesia?

Berdasarkan data pasar, nilai tukar rupiah ditutup turun 34 poin ke level Rp17.839 per USD dari posisi sebelumnya Rp17.805 per USD. Bahkan pada sesi perdagangan, mata uang Garuda sempat melemah hingga 85 poin sebelum memangkas sebagian kerugiannya menjelang penutupan.

Menurut Ibrahim, penguatan dolar AS masih didorong oleh meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah perkembangan terbaru konflik Timur Tengah.

"Indeks dolar AS menguat setelah pasar kembali mencermati perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang masih berlangsung. Ketidakpastian geopolitik serta gangguan distribusi energi global membuat investor cenderung masuk ke aset dolar AS," ujar Ibrahim.

Dari sisi eksternal, Presiden AS Donald Trump menyatakan pembicaraan dengan Iran masih terus berlangsung meskipun sebelumnya media Iran melaporkan penghentian sementara negosiasi tidak langsung dengan Washington. 

Trump juga menyebut peluang perpanjangan gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz dapat tercapai dalam waktu dekat.

Perkembangan tersebut menjadi perhatian pasar global karena Selat Hormuz merupakan jalur strategis perdagangan energi dunia. Konflik yang melibatkan Iran telah mengganggu distribusi minyak dan gas alam cair global, yang menurut berbagai laporan berdampak pada lonjakan harga energi internasional.

Selain isu geopolitik, pasar juga mencermati kebijakan perdagangan terbaru AS. Trump menandatangani proklamasi yang mengubah tarif impor sejumlah komoditas industri, termasuk tembaga, aluminium, dan besi. 

Pemerintah AS juga memangkas tarif beberapa peralatan pertanian dari 25% menjadi 15% serta menetapkan tarif 15% untuk sejumlah alat industri bergerak hingga akhir 2027 guna mendorong investasi manufaktur domestik.

Di tengah tekanan eksternal tersebut, sejumlah indikator ekonomi Indonesia justru menunjukkan perbaikan. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi tahunan pada Mei 2026 mencapai 3,08% secara year-on-year (yoy), sementara inflasi bulanan tercatat sebesar 0,28%.

Kepala BPS menyebut Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat dari 111,09 pada April menjadi 111,40 pada Mei 2026. Secara kumulatif, inflasi tahun kalender hingga Mei tercatat sebesar 1,35%.

Data ini menunjukkan tekanan harga masih berada dalam rentang sasaran inflasi Bank Indonesia sebesar 2,5% plus minus 1%. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Perbaikan juga terlihat dari sektor industri. Berdasarkan laporan S&P Global, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik ke level 50,0 pada Mei 2026 dari 49,1 pada April 2026.

Kenaikan tersebut menandai kembalinya aktivitas manufaktur ke zona ekspansi setelah sempat mengalami kontraksi pada bulan sebelumnya. S&P Global mencatat peningkatan permintaan domestik menjadi faktor utama yang mendorong pertumbuhan pesanan baru selama dua bulan berturut-turut.

"Peningkatan pesanan baru pada Mei menjadi yang tercepat sejak Februari dan menunjukkan permintaan domestik mulai membaik," tulis S&P Global dalam laporannya.

Meski demikian, sektor manufaktur masih menghadapi tantangan berupa kenaikan biaya bahan baku dan gangguan rantai pasok yang membatasi percepatan produksi.

Indikator positif lainnya datang dari sektor perdagangan luar negeri. BPS mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif Januari-April 2026 mencapai USD5,64 miliar.

Kinerja tersebut didorong oleh ekspor nonmigas, khususnya industri pengolahan yang tetap tumbuh di tengah perlambatan ekonomi global. Dengan capaian tersebut, Indonesia berhasil mempertahankan tren surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Melemahnya rupiah di tengah membaiknya indikator fundamental domestik menunjukkan bahwa sentimen global masih menjadi faktor dominan dalam pergerakan pasar keuangan Indonesia.

Normalnya, inflasi yang terkendali, PMI manufaktur yang kembali ekspansif, serta surplus perdagangan yang konsisten menjadi faktor pendukung stabilitas nilai tukar. 

Namun, meningkatnya risiko geopolitik global dan penguatan dolar AS membuat investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset negara berkembang.

Kondisi ini menjadi sinyal bahwa stabilitas rupiah dalam jangka pendek masih sangat dipengaruhi perkembangan eksternal dibandingkan faktor domestik.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.