Akurat Logo

Rupiah Bergerak Mendatar Jelang Pengumuman BI Rate

Esha Tri Wahyuni | 19 Agustus 2026, 12:35 WIB
Rupiah Bergerak Mendatar Jelang Pengumuman BI Rate
Ilustrasi rupiah melemah atas dolar AS

AKURAT.CO Rupiah bergerak terbatas pada perdagangan Rabu (19/8/2026) menjelang keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI). 

Di tengah penantian pasar terhadap arah BI Rate, pergerakan rupiah juga dibayangi kenaikan harga minyak mentah dan meningkatnya kembali risiko geopolitik global.

Mengacu pada perdagangan pasar spot, rupiah dibuka hampir flat dengan penguatan 0,01% ke level Rp17.856 per USD. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama. Pada pukul 09.07 WIB, rupiah berbalik melemah tipis 0,01% ke Rp17.859 per USD.

Baca Juga: Hari Ini Pengumuman BI Rate, Rupiah Ditaksir Melemah Lagi ke Rentang Rp17.860-Rp17.920

Pergerakan yang terbatas menunjukkan pasar masih menahan posisi sambil menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang dijadwalkan diumumkan siang ini.

Di pasar offshore, rupiah sempat melemah ke sekitar Rp17.920 per USD pada pagi hari sebelum berbalik menguat 0,09% ke posisi Rp17.903 per USD.

Pergerakan rupiah kali ini tidak hanya ditentukan oleh ekspektasi terhadap kebijakan moneter domestik. Kenaikan harga minyak mentah menjadi faktor eksternal lain yang ikut diperhatikan pelaku pasar.

Harga minyak mentah bertahan di sekitar USD91,7 per barel seiring prospek perdamaian antara AS dan Iran yang kembali menghadapi ketidakpastian.

Kondisi tersebut berpotensi menjadi perhatian bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia. Kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya impor dan pada akhirnya memberikan tekanan tambahan terhadap neraca eksternal maupun nilai tukar apabila berlangsung dalam waktu lama.

Di tengah kondisi tersebut, sejumlah mata uang Asia masih mampu mencatat penguatan. Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan paling besar, yakni sekitar 0,32%. Dolar Taiwan juga menguat 0,12%.

Sementara itu, yen Jepang, dolar Hong Kong, rupiah dan yuan China mencatat penguatan yang lebih terbatas. Di sisi lain, baht Thailand, peso Filipina, ringgit Malaysia dan dolar Singapura berada di zona pelemahan.

Penguatan won turut ditopang sentimen positif dari pasar saham domestik. Selain itu, berkurangnya tekanan arus keluar dana asing serta meningkatnya konversi valuta asing oleh eksportir ikut menopang pergerakan won sepanjang Agustus.

Fokus utama pelaku pasar domestik kini beralih kepada keputusan BI Rate. BI sebelumnya menaikkan BI-Rate secara bertahap pada Mei dan Juni 2026. Suku bunga acuan naik dari 4,75% pada April menjadi 5,25% pada Mei, kemudian kembali dinaikkan menjadi 5,75% pada Juni.

Dengan demikian, BI telah menaikkan BI-Rate secara kumulatif 100 basis poin sejak April 2026. Pada RDG 21-22 Juli 2026, BI memilih mempertahankan BI-Rate di level 5,75%.

Keputusan tersebut ditempuh BI dengan mempertimbangkan kebutuhan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global. BI juga menyatakan kebijakan moneternya diarahkan untuk menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5% plus minus 1%.

Karena itu, keputusan BI pada Agustus menjadi penting bagi pasar. Investor tidak hanya mencermati apakah suku bunga kembali dipertahankan, tetapi juga bagaimana bank sentral melihat kondisi rupiah, inflasi, arus modal dan prospek ekonomi ke depan.

Kondisi inflasi menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan ruang kebijakan moneter. Data BI menunjukkan inflasi IHK Juli 2026 berada di 2,88% secara tahunan, masih berada dalam sasaran inflasi pemerintah sebesar 2,5% plus minus 1%.

Di sisi lain, stabilitas rupiah tetap menjadi perhatian karena nilai tukar berada pada level yang relatif lemah terhadap dolar AS. BI dalam keputusan Juli juga menegaskan penguatan stabilitas rupiah sebagai bagian penting dari bauran kebijakan moneter.

Dengan kondisi tersebut, mempertahankan suku bunga dapat memberikan ruang bagi BI untuk melihat dampak kenaikan suku bunga sebelumnya terhadap perekonomian sebelum mengambil langkah berikutnya.

Bagi pasar, keputusan BI hari ini tidak berhenti pada angka BI Rate. Investor juga akan mencermati sinyal kebijakan yang disampaikan BI setelah keputusan tersebut.

Pernyataan bank sentral mengenai arah nilai tukar, inflasi, arus modal, pertumbuhan kredit dan risiko eksternal akan menjadi petunjuk mengenai ruang kebijakan moneter pada periode berikutnya.

Hal ini semakin relevan karena BI pada Juli telah memperluas kebijakan insentif untuk mendorong aliran masuk investasi portofolio asing sekaligus memperkuat stabilitas rupiah.

BI juga menyatakan akan mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing, meningkatkan likuiditas serta mengurangi segmentasi likuiditas di pasar uang dan perbankan.

Artinya, stabilitas rupiah tidak hanya bergantung pada level suku bunga acuan. Kombinasi kebijakan moneter, pengelolaan likuiditas, pendalaman pasar keuangan serta kondisi eksternal turut menentukan arah nilai tukar.

Pada saat yang sama, kenaikan harga minyak membuat ruang gerak kebijakan menjadi semakin kompleks.

Apabila harga minyak bertahan tinggi akibat meningkatnya risiko geopolitik, tekanan terhadap biaya energi dan kebutuhan valuta asing dapat menjadi perhatian bagi perekonomian Indonesia.

Kondisi tersebut dapat memengaruhi persepsi investor terhadap aset domestik, terutama ketika rupiah masih berada di sekitar level Rp17.800-Rp17.900 per USD.

Karena itu, pasar kini menghadapi dua perkembangan yang berjalan bersamaan. Dari dalam negeri, investor menunggu keputusan BI mengenai suku bunga. 

Dari eksternal, pasar harus memperhitungkan perkembangan geopolitik dan harga minyak.

Rupiah pun bergerak terbatas menjelang keputusan tersebut. Setelah mengalami kenaikan suku bunga kumulatif 100 basis poin sejak April, pertanyaan pasar kini bukan hanya apakah BI akan mempertahankan BI Rate 5,75%.

Akan tetapi juga seberapa besar ruang bank sentral untuk mengarahkan kebijakan berikutnya ketika tekanan eksternal masih tinggi.

Keputusan BI pada akhirnya akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan arah rupiah dalam perdagangan selanjutnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.