Akurat Logo

Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan

Fitra Iskandar | 17 Agustus 2026, 11:55 WIB
Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
Ben Gvir - AP

JERUSALEM — Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir kembali menuai kontroversi setelah secara terbuka menyerukan agar 30 hingga 40 orang di Gaza dibunuh setiap malam. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah podcast bersama Rom Braslavski, mantan sandera yang pernah ditahan di Gaza, dan kemudian beredar luas di media Palestina serta media internasional.

Ben-Gvir juga secara terang-terangan mengkritik Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu karena menurunkan intensitas serangan militer Israel di Jalur Gaza.

“Saya tidak merahasiakan bahwa saya berbeda pendapat dengan perdana menteri,” kata Ben-Gvir.

Ia kemudian mendorong operasi pembunuhan yang lebih intensif terhadap orang-orang yang disebutnya sebagai musuh Israel.

“Saya pikir pembunuhan terarah harus dilakukan di Gaza, dengan menyingkirkan 30 sampai 40 orang setiap malam,” ujarnya.

Ben-Gvir bahkan memperluas pernyataannya dengan mengatakan bahwa target tidak hanya mereka yang dianggap memberikan ancaman langsung. Ia menggunakan bahasa yang merendahkan terhadap sebagian warga Gaza dengan menyebut mereka tidak layak hidup.

Pernyataan tersebut memicu sorotan karena Ben-Gvir bukan sekadar tokoh politik dari kelompok kanan jauh. Ia merupakan Menteri Keamanan Nasional Israel dan memiliki kendali atas kepolisian nasional serta sistem penjara Israel, meskipun tidak memiliki kewenangan langsung untuk memerintahkan militer Israel melakukan serangan di Gaza.

Ben-Gvir Desak Serangan Gaza Kembali Ditingkatkan

Pernyataan Ben-Gvir muncul ketika operasi militer Israel di Gaza dilaporkan mengalami penurunan intensitas di tengah upaya diplomatik untuk mendorong kesepakatan gencatan senjata.

Ben-Gvir menilai pengurangan serangan tersebut sebagai langkah yang keliru. Ia justru menginginkan Israel kembali melakukan serangkaian serangan terarah setiap malam.

Media Israel sebelumnya melaporkan adanya pembatasan kewenangan terkait serangan di Gaza, dengan keputusan tertentu berada di tangan kepala staf militer. Perubahan tersebut dilaporkan membuat kelompok sayap kanan, termasuk Ben-Gvir, semakin geram.

Serukan Pengusiran Warga Palestina dari Gaza

Dalam wawancara yang sama, Ben-Gvir tidak hanya berbicara mengenai operasi militer. Ia juga kembali menyerukan agar warga Palestina meninggalkan Gaza dan mendukung pembangunan kembali permukiman Yahudi di wilayah tersebut.

“Saya melihat seluruh Gaza sebagai milik kita,” ujarnya.

Ia membayangkan pembangunan permukiman Israel tidak hanya di kawasan bekas permukiman Gush Katif, tetapi juga di berbagai wilayah Gaza, sembari mendorong sebanyak mungkin warga Palestina untuk pergi ke negara lain.

Israel sebelumnya telah menarik pasukan dan membongkar 21 permukiman Yahudi di Gaza pada 2005. Namun, gagasan untuk kembali membangun permukiman Israel di wilayah tersebut kini kembali menjadi salah satu tuntutan kelompok kanan jauh Israel.

Ben-Gvir Punya Pengaruh Besar atas Polisi dan Penjara Israel

Meskipun tidak memiliki komando langsung atas militer Israel, posisi Ben-Gvir membuatnya menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dari kubu kanan jauh dalam pemerintahan Netanyahu.

Sebagai Menteri Keamanan Nasional, ia mengawasi kepolisian nasional dan sistem penjara Israel yang menahan ribuan warga Palestina dari Gaza dan Tepi Barat.

Ben-Gvir sebelumnya juga dikenal karena sikap kerasnya terhadap tahanan Palestina. Ia pernah membanggakan kebijakan yang memperketat kondisi para tahanan. Pada 2025, Mahkamah Agung Israel memutuskan bahwa layanan penjara di bawah kementeriannya telah gagal memenuhi standar minimum kebutuhan pangan bagi tahanan Palestina.

Pernyataan Ben-Gvir Kembali Disorot dalam Tuduhan Genosida

Pernyataan Ben-Gvir sebelumnya mengenai warga Palestina telah berulang kali mendapat kecaman internasional. Sejumlah pernyataan pejabat Israel bahkan pernah diajukan dalam proses hukum di Mahkamah Internasional sebagai bagian dari bukti yang dikaitkan dengan dugaan adanya niat genosida.

Israel sendiri membantah tuduhan bahwa operasi militernya di Gaza merupakan genosida dan menyatakan bahwa tindakannya ditujukan untuk melawan Hamas.

Pernyataan terbaru Ben-Gvir kembali memicu perdebatan mengenai penggunaan bahasa yang dianggap mendehumanisasi warga Palestina dan konsekuensinya terhadap konflik yang berlangsung.

Perang Gaza dan Perundingan Gencatan Senjata

Seruan Ben-Gvir muncul ketika upaya mencapai kesepakatan baru mengenai Gaza masih menghadapi kebuntuan.

Proposal Presiden Amerika Serikat Donald Trump antara lain mengharuskan Hamas secara bertahap menyerahkan persenjataannya, sementara Israel menghentikan serangan dan mulai menarik pasukannya dari Gaza.

Hamas disebut menerima proposal tersebut dengan sejumlah persyaratan, termasuk kaitan antara isu persenjataan berat dan pembentukan negara Palestina.

Namun, Netanyahu tetap menyatakan Israel tidak akan menarik diri dari Gaza sebelum Hamas sepenuhnya dilucuti.

Perbedaan tersebut membuat sejumlah elemen penting dalam rencana gencatan senjata, termasuk kemungkinan pengerahan pasukan internasional dan rekonstruksi Gaza, masih belum mendapatkan kepastian.

Di tengah situasi tersebut, pernyataan Ben-Gvir menunjukkan bahwa tekanan terhadap Netanyahu tidak hanya datang dari lawan politik atau pihak internasional, tetapi juga dari kelompok sayap kanan di dalam koalisinya sendiri.

Dengan pemilu Israel yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026, sikap keras terhadap Gaza diperkirakan akan terus menjadi salah satu isu penting dalam persaingan politik domestik Israel.

Sumber: AP

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.