Peringkat 4 Dunia, BI Soroti PR Ekonomi Syariah Indonesia

AKURAT.CO Indonesia memiliki peluang besar untuk memperluas pasar ekonomi dan keuangan syariah, termasuk menjaring investor global dari negara-negara nonmuslim. Namun, pengembangan produk dan pendalaman pasar keuangan syariah masih menjadi pekerjaan rumah agar potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal.
Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti menilai Indonesia memiliki modal kuat untuk mengembangkan sektor tersebut, mulai dari besarnya populasi muslim hingga relevansi prinsip ekonomi syariah yang dapat diterapkan secara universal.
Dalam laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2025/2026, Indonesia bertahan di peringkat keempat dunia. Meski demikian, Destry mengingatkan posisi tersebut bukan alasan untuk berpuas diri, terutama ketika negara lain juga mulai memperkuat pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.
Baca Juga: Caplok Asuransi Etiqa, Maybank Indonesia Mulai Beroperasi sebagai Grup Keuangan Terintegrasi
“Dengan kita melihat skala yang lebih besar, maka peluang dari pengembangan ekonomi keuangan syariah ini akan sangat tinggi sekali. Jadi bukan hanya di negara yang berbasis masyarakat muslim, tapi juga negara-negara lain yang mungkin muslimnya terbatas,” kata Destry dalam pembukaan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakarta, Rabu.
Menurut Destry, daya tarik ekonomi syariah tidak terbatas pada negara dengan mayoritas penduduk muslim. Prinsip inklusivitas, keberlanjutan, dan keadilan dinilai relevan bagi berbagai negara maupun model bisnis, termasuk sektor usaha konvensional.
Prinsip inklusivitas, misalnya, mendorong pembangunan yang memberikan kesempatan kepada seluruh kelompok masyarakat, termasuk dalam memperoleh akses layanan keuangan. Sementara itu, keberlanjutan menekankan pentingnya menjaga lingkungan, sedangkan keadilan berkaitan dengan distribusi manfaat pembangunan agar tidak hanya dinikmati kelompok tertentu.
Destry melihat penerapan prinsip-prinsip tersebut dapat memperluas jangkauan ekonomi syariah sekaligus meningkatkan relevansinya dalam perkembangan ekonomi global.
Persaingan regional juga menjadi perhatian. Menurut dia, pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di kawasan ASEAN tidak hanya dilakukan Malaysia. Filipina dan Thailand turut mengembangkan sektor tersebut, khususnya keuangan syariah.
“Ini tentu menjadi PR buat kita, karena kita sudah mempunyai basis yang kuat, tinggal bagaimana kita untuk bisa mendorong ke depan,” ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK










