Akurat Logo

Modal Asing USD9,9 Miliar Masuk ke RI pada Juni-20 Oktober 2026, Rupiah Masih Melemah 0,61 Persen

Esha Tri Wahyuni | 21 Oktober 2026, 16:07 WIB
Modal Asing USD9,9 Miliar Masuk ke RI pada Juni-20 Oktober 2026, Rupiah Masih Melemah 0,61 Persen
BI mempertahankan suku bunga acuan 5,75% dan memperkuat instrumen lindung nilai untuk menjaga stabilitas rupiah serta inflasi.

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing masuk sebesar USD9,9 miliar sejak Juni hingga 20 Oktober 2026 melalui kebijakan insentif untuk menekan biaya lindung nilai. Meski demikian, nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan dan ditutup melemah 0,61% secara point to point dibandingkan akhir September 2026.

Gubernur BI, Destry Damayanti mengungkapkan, nilai tukar rupiah berada di level Rp17.985 per USD pada 20 Oktober 2026. Pergerakan rupiah masih dipengaruhi oleh ketidakpastian global, terutama eskalasi konflik di Timur Tengah dan arah kebijakan moneter AS.

"Perkembangan ini dipengaruhi oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang semakin ketat, serta sentimen di pasar saham," kata Destry dalam paparan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Baca Juga: Modal Asing Rp3,18 Triliun Kabur dari Pasar Saham RI dalam Sepekan

Menghadapi tekanan tersebut, BI memperkuat strategi stabilisasi rupiah dengan meningkatkan insentif untuk menarik investasi asing sekaligus memperdalam pasar uang dan pasar valuta asing (valas) domestik.

"BI berkomitmen menjaga stabilitas rupiah dengan memperkuat insentif untuk tarik investasi asing dan pendalaman pasar uang dan pasar valas," ujarnya.

Salah satu upaya yang ditempuh adalah memperkuat insentif melalui instrumen lindung nilai (hedging) dan transaksi mata uang lokal atau local currency transaction (LCT). Kebijakan ini ditujukan untuk menekan biaya lindung nilai, meningkatkan daya tarik imbal hasil aset berdenominasi rupiah, serta memperkuat pasar keuangan domestik.

Selain itu, BI mengoptimalkan instrumen swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk membantu pelaku pasar mengelola risiko perubahan nilai tukar.

Menurut BI, penguatan insentif tersebut telah mendorong aliran modal masuk sebesar USD9,9 miliar sejak Juni 2026 hingga 20 Oktober 2026. Namun, tekanan terhadap rupiah masih berlangsung di tengah perkembangan global yang memengaruhi sentimen investor.

BI memperkirakan nilai tukar rupiah tetap stabil. Proyeksi tersebut didukung komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas, imbal hasil aset rupiah yang menarik, inflasi yang terkendali, serta prospek ekonomi Indonesia yang dinilai tetap baik.

"Ke depan, BI memperkirakan rupiah stabil didukung komitmen BI, yield menarik, inflasi dan prospek ekonomi baik," tegas Destry.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.