BRIN Ajak Masyarakat Cegah Kebakaran Lahan dengan Simocakap

AKURAT.CO Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam pencegahan kebakaran lahan, melalui aplikasi Sistem Monitoring Cuaca, Kebakaran Lahan dan Kabut Asap atau Simocakap.
Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Albertus Sulaiman, menjelaskan, Simocakap merupakan aplikasi yang dikembangkan melalui kerja sama BRIN dengan CSEAS-Kyoto University, STAIN Bengkalis, Politeknik Bengkalis dan Universitas Riau.
"Tujuannya untuk memahami bagaimana interaksi antara karbon dan water level di lahan gambut yang ada di Riau dan Pulau Bengkalis dan hubungannya dengan dinamika atmosfer dan iklim yang diyakini mempengaruhi sirkulasi global dunia," katanya melalui keterangan resmi, Jumat (18/10/2024).
Saat terjadi musim kemarau, ground water level di lahan gambut menurun sehingga menjadi mudah terbakar dan mengemisikan karbon akibat proses dekomposisi yang ada di lahan gambut.
Lahan gambut yang mulai mengering menjadi sangat mudah terbakar dan memicu terjadi kebakaran lahan dan hutan gambut yang bisa berlangsung dalam waktu yang cukup lama.
Sulaiman menjelaskan, tanah gambut memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari jenis tanah lainnya.
Di mana, ciri-cirinya yakni berwarna hitam atau coklat tua dengan tekstur yang lembut, ringan dan memiliki kandungan air tinggi, sehingga membuat tanah gambut sangat lembab dan mudah terkompresi.
Baca Juga: Intip Sejarah Hari Santri Nasional, Diperingati Tiap Tanggal 22 Oktober
Karena kandungan organiknya yang tinggi, tanah gambut juga memiliki kapasitas penyimpanan karbon yang besar, sehingga menjadikannya salah satu ekosistem penting dalam mitigasi perubahan iklim.
"Namun, tanah gambut juga rentan terhadap kerusakan ketika dikeringkan untuk keperluan pertanian atau pembangunan. Bahan organik yang sebelumnya terendam air mulai terdekomposisi dengan cepat lalu melepaskan karbondioksida ke atmosfer dan berkontribusi terhadap pemanasan global," jelasnya.
Tanah gambut yang kering bersifat sangat mudah terbakar, sehingga dapat menyebabkan kebakaran lahan gambut yang sulit dipadamkan dan menghasilkan asap yang berbahaya bagi kesehatan manusia.
Oleh karenanya, menurut Sulaiman, aplikasi Simocakap bisa menjadi hal yang berguna sebagai alat untuk mencegah kebakaran hutan dengan partisipasi masyarakat.
"Mari kita sama-sama gunakan Simocakap supaya alam tetap lestari, tapi kita juga tetap membangun. Ke depannya kita akan selalu punya motto yaitu bekerja sama dengan alam. Alam harus tetap lestari tetapi pembangunan harus tetap berjalan," Sulaiman berpesan.
Baca Juga: Distribusi Surat Suara untuk Pilkada Sudah 50 Persen
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







