Denny JA dan Wawasan Baru tentang Agama: Warisan Kultural untuk Dunia yang Lebih Inklusif

AKURAT.CO Pemikiran inovatif Denny JA tentang "Agama sebagai Warisan Kultural Milik Bersama” mendapat sorotan dari Budhy Munawar-Rachman, Direktur Paramadina Center for Religion and Philosophy (PCRP), Universitas Paramadina.
Dalam refleksi mendalamnya, Budhy menilai bahwa pendekatan ini bukan sekadar teori baru, tetapi juga memiliki relevansi strategis bagi pembangunan berkelanjutan di era modern.
Bersama Ahmad Gaus, Budhy baru saja menerbitkan buku “Teori Denny JA Soal Agama dan Spiritualitas di Era AI: Agama Sebagai Warisan Budaya Milik Kita Semua”.
Buku ini tidak hanya memperkenalkan gagasan Denny JA kepada khalayak luas, tetapi juga akan menjadi sumber utama modul kuliah di berbagai kampus.
Menurut Budhy, Denny JA menawarkan perspektif baru dalam memahami agama, dengan memoderasi klaim kebenaran mutlak yang kerap melekat dalam doktrin keagamaan.
Baca Juga: Sheikhinah Family Massage dan Reflexology, Relaksasi ala Sultan
Sebaliknya, ia menempatkan agama sebagai hasil dari evolusi budaya yang terus berkembang.
“Dengan melihat agama sebagai warisan kultural milik bersama, kita dapat membuka ruang yang lebih luas bagi dialog antaragama, pluralisme, serta integrasi nilai-nilai spiritual dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk ekonomi, sosial, dan lingkungan,” jelas Budhy, Selasa (18/2/2025).
Pendekatan ini, menurutnya, selaras dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs) yang diusung PBB.
Ia menegaskan, pemahaman agama yang lebih fleksibel dapat menggerakkan komunitas keagamaan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.
“SDGs adalah upaya kolektif global untuk menciptakan dunia yang lebih adil, sejahtera, dan demokratis. Dengan memahami agama sebagai bagian dari budaya yang hidup dan berkembang, komunitas keagamaan dapat berperan lebih aktif dalam solusi sosial,” tegasnya.
Dalam refleksinya, Budhy juga menyoroti bagaimana teori agama Denny JA mampu mengakomodasi perubahan sosial yang dipicu oleh globalisasi dan revolusi digital.
“Internet dan media sosial telah mengubah cara masyarakat mengakses dan mendiskusikan nilai-nilai keagamaan. Dengan pendekatan yang lebih inklusif, agama tidak lagi menjadi sumber eksklusivitas yang membatasi, tetapi justru bisa menjadi jembatan bagi solidaritas sosial yang lebih kuat,” ujarnya.
Baca Juga: Fenomena Tagar KaburAjaDulu, Boleh Merantau Tapi Harus Pulang Lagi
Sejarah telah membuktikan bahwa komunitas keagamaan memainkan peran besar dalam layanan kesehatan, pendidikan, hingga perlindungan lingkungan.
Dengan memahami agama sebagai bagian dari dinamika budaya, ajaran moral dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata yang berdampak luas bagi kesejahteraan masyarakat.
Lebih jauh, Budhy menilai Denny JA mengembangkan dan menafsirkan ulang pemikiran inklusif dari Nurcholish Madjid dan Djohan Effendi, namun dengan pendekatan berbasis data empiris.
"Denny JA bukan hanya meneruskan pemikiran para guru kami, tetapi juga memperluasnya dengan memadukan analisis keagamaan dan kajian berbasis survei opini publik. Ini pendekatan yang inovatif dan sangat relevan bagi tantangan zaman,” tambahnya.
Budhy menegaskan bahwa pemahaman agama yang lebih inklusif dan dinamis, sebagaimana digagas oleh Denny JA, dapat menjadi fondasi utama dalam membangun dunia yang lebih harmonis dan berkelanjutan.
"Jika kita mampu melihat agama sebagai warisan kultural milik bersama, maka kita dapat membangun masa depan yang lebih adil, damai, dan berorientasi pada kesejahteraan bersama," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






