Jangan Percaya kalau Presiden Prabowo Disebut Alergi Demo

AKURAT.CO Presiden Prabowo Subianto dipastikan bukanlah sosok yang anti terhadap aksi demonstrasi atau demo.
Hal itu disampaikan Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai, membantah pernyataan mantan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Satryo Soemantri Brodjonegoro.
"Enggak usah percaya. Kalau saya, saya tidak percaya. Kalau bapak ibu mau, silakan percaya (kabar itu)," ucap Pigai di Kementerian HAM, Jakarta, pada Selasa (11/3/2025).
Sebagai seseorang yang sudah lama mengenal sosok Prabowo, Pigai memastikan bahwa Presiden Prabowo tidak pernah melakukan perlawanan terhadap orang-orang yang menyerangnya dan melakukan demo.
"Saya ini kan bagian dari perjalanan politik Presiden Prabowo. Pagi, siang, sore, malam (orang) nyerang kita habis-habisan, orang demo. Ada tidak kami melaporkan, satu orang saja," katanya.
Baca Juga: Pandawara Group Apresiasi Ketegasan Presiden Prabowo Soal Isu Sampah
Menurut Pigai, demo adalah bagian dari parlemen jalanan. Sehingga, baginya tidak mungkin Prabowo alergi terhadap upaya yang sejalan dengan prinsip-prinsip demokrasi.
Sebaliknya, pemerintahan Prabowo justru akan memberi perhatian penuh terhadap pihak-pihak yang menjadi korban kriminalisasi.
Hal ini ditandai dengan upaya pemerintah yang akan memberikan amnesti kepada sejumlah tahanan politik.
"Lihat saja orang yang demonstrasi. Zaman lalu ditahan, dihukum di peradilan. Sekarang kami bebaskan mereka, amnesti," ujarnya.
Sebelumnya, mantan Mendiktisaintek, Satryo Soemantri Brodjonegoro, mengungkap kisah di balik pemecatannya dari Kabinet Merah Putih pada 19 Februari 2025.
Baca Juga: Presiden Prabowo Pastikan THR ASN Dibayarkan Penuh 100 Persen
Ia menyebut rentetan demonstrasi yang terjadi di kantornya serta aksi mahasiswa terkait kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) menjadi faktor utama yang menyebabkan dirinya kena reshuffle kabinet.
Satryo menceritakan bahwa pada malam sebelum pencopotannya, ia didatangi Sekretaris Kabinet (Seskab), Teddy Indra Jaya.
"Selasa malam, 18 Februari, sekitar pukul 22, Mayor Teddy datang ke rumah saya," ujarnya, dalam wawancara eksklusif dengan sebuah media massa yang videonya ditayangkan di Youtube.
Dalam pertemuan tersebut, Teddy menyampaikan bahwa demonstrasi yang terjadi di Kantor Kemendiktisaintek pada 20 Januari 2025 serta aksi mahasiswa terkait UKT pada 17-18 Februari dianggap sebagai kesalahan fatal.
"Beliau mengatakan bahwa saya telah melakukan kesalahan fatal karena dua demo tersebut," ungkap Satryo.
Baca Juga: Presiden Prabowo Teken PP 11/2025: THR dan Gaji ke-13 untuk 9,4 Juta Aparatur Negara
Lebih lanjut, Teddy juga menyebut bahwa Presiden Prabowo Subianto tidak menyukai adanya demonstrasi. Apalagi yang berpotensi menimbulkan kegaduhan di tengah pemerintahan.
"Pak Presiden itu alergi terhadap demo, kata Mayor Teddy. Jika ada demo, itu dianggap sebagai kegaduhan dan membuat suasana tidak kondusif," Satryo menjelaskan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







