Cegah Guru Agama Ajarkan Intoleransi, Menag: Kami Sisir dengan Kurikulum Cinta

AKURAT.CO Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menegaskan Kurikulum Cinta akan memiliki jangkauan dan lingkup yang lebih luas. Pihaknya akan menekankan sikap toleransi dalam memahami perbedaan suku, etnik, agama kepada para pelajar.
"Nah kurikulum cinta itu sebetulnya dalam spektrum yang lebih luas ya. Kita ingin ke depan itu bahwa perbedaan suku etnik agama itu lewat. Kenapa? Karena kurikulum cinta ya kan," ditemui di Kantor Kemenag, Jakarta, Selasa (5/8/2025).
Selain itu, pihaknya juga tidak ingin kecolongan adanya guru agama yang nantinya mengajarkan hal-hal yang tidak diinginkan.
Baca Juga: Dukung Kurikulum Cinta, Menag Gandeng GMKI Berantas Intoleransi Agama
"Jadi jangan sampai nanti guru-guru agama itu bukan mengajarkan kebersamaan, bukan mengajarkan esensi agama tetapi mengajarkan kebencian satu sama lain. Itu yang kita sisir. Jangan sampai terjadi guru agama justru menekankan perbedaan antara satu agama dengan yang lain apalagi mempertentangkan satu agama dengan agama yang lain," jelas dia.
Dia menuturkan, Kurikulum Cinta yang telah diajarkan pada semester ini, bukan untuk menyatukan semua agama. Melainkan, mengajarkan satu sama lain untuk saling menghargai dan menghormati dengan tujuan menjadikan manusia yang ideal.
"Semua agama tidak menghendaki umat beragama itu untuk melakukan tindakan kriminal. Jadi kenapa harus dipertentangkan kalau bisa dipertemukan. Jadi ini kita lakukan," ujarnya.
Dia menegaskan, Kurikulum Cinta juga bukan hanya mengajarkan toleransi dan menghargai kepada sesama manusia, namun juga kepada lingkungan, alam semesta, dan ciptaan tuhan lainnya.
"Jangan buang kotoran di sungai, jangan buang sampah di sungai. Jadi jangan menjadikan sungai itu tohon sampah umum atau WC umum. Itu bertentangan dengan kurikulum cinta," tegasnya.
"Cintalah seluruh makhluk Allah, termasuk hewan, tumbuh-tumbuhan. Kerusakan alam ini kan juga berbahaya. Semakin cepat alam ini rusak, semakin cepat dunia kiamat itu akan datang," ucapnya.
Baca Juga: Muhammadiyah Kritik Gagasan Kurikulum Cinta Kementerian Agama: Harus Diuji Secara Kritis!
Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Amien Suyitno, sebelumnya menyampaikan pendidikan karakter di Indonesia membutuhkan inovasi yang lebih mendalam. Salah satunya, melalui pendekatan yang lebih integratif dan sistematis dalam kurikulum.
Saat ini, masih terdapat fenomena sejumlah pelajar yang menunjukkan sikap intoleran, saling menyalahkan, bahkan membenci satu sama lain karena perbedaan keyakinan. Hal ini sering kali terjadi tanpa disadari sejak dini.
Oleh karena itu, Kurikulum Cinta hadir sebagai solusi melalui insersi nilai-nilai keberagaman dalam berbagai mata pelajaran, khususnya dalam pendidikan Islam di bawah naungan Kementerian Agama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








