Jaga Indonesia dari Intoleransi dan Radikalisme, BNPT Ajak Masyarakat NTT Perkuat Komunikasi dan Deteksi Dini

AKURAT.CO Ancaman intoleransi, radikalisme hingga terorisme dinilai dapat melemahkan fondasi bangsa jika tidak dicegah sejak dini.
Karena itu, seluruh elemen masyarakat diajak untuk menjaga persatuan dan memperkuat komunikasi melalui forum dialog kebangsaan untuk memecahkan berbagai masalah-masalah sosial kemasyarakat. Ini penting dalam melakukan pencegahan dini intoleransi, radikalisme dan terorisme.
Demikian dikatakan Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT, Mayjen TNI Sudaryanto, pada Dialog Kebangsaan Bersama Pemuda dalam Rangka Meningkatkan Toleransi dan Moderasi Beragama di Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, yang digelar Rabu (27/8/2025).
"Saya sangat mengapresiasi terselenggaranya dialog kebangsaan yang dihadiri lengkap oleh Forkopimda Kabupaten Manggarai Barat beserta tokoh masyarakat, adat, pemuda dan elemen masyarakat lainnya," ujarnya.
Sudaryanto mengungkapkan bahwa kegiatan seperti ini sangat penting untuk memperkuat komunikasi dan mencegah terjadinya kesalahpahaman di tengah masyarakat.
"Kalau di Surabaya dulu saya menyebutnya cangkrukan. Setiap minggu kami berdialog dengan Forkopimda dan masyarakat agar komunikasi tidak lemah. Forum seperti ini bermanfaat sebagai wahana untuk menyelesaikan persoalan bersama," jelas mantan Danrem 084/Bhaskara Jaya Surabaya itu.
Baca Juga: BNPT: Sinergi Lintas Sektoral Kunci Pencegahan Ekstremisme dan Intoleransi
Menurut Sudaryanto, meski Manggarai Barat relatif kondusif, dialog kebangsaan tetap diperlukan agar bibit-bibit masalah seperti intoleransi dan radikalisme bisa diantisipasi sejak dini.
“Kalau dibiarkan tumbuh, intoleransi bisa berkembang menjadi radikalisme, ekstremisme, hingga terorisme. Karena itu, sebelum membesar, harus kita hilangkan sejak awal,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Sudaryanto juga menyinggung sejarah lahirnya bangsa Indonesia yang dibangun atas dasar persatuan dalam perbedaan.
Baca Juga: BNPT dan Komisi XIII Kolaborasi Bangun Kerangka Persatuan Melalui Dialog Kebangsaan
Para pendiri bangsa yang tergabung dalam Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatera, Jong Ambon dan organisasi kepemudaan lainnya sepakat memilih Pancasila dan Burung Garuda sebagai lambang persatuan.
"Namun, kini perbedaan agama atau suku sering dijadikan masalah. Padahal, persatuan dan kesatuan adalah kunci agar bangsa ini kuat," katanya.
Sudaryanto mengingatkan bahwa isu radikalisme sering disusupi pihak luar dengan menyasar generasi muda sebagai target utama.
Baca Juga: Perbanyak Ruang Lintas Agama, Komisi XIII Dorong BNPT Kolaborasi dengan Pemerintah Daerah
"Pemerintah menargetkan Indonesia pada 2045 masuk lima besar ekonomi dunia. Tapi ada pihak yang tidak senang dengan kemajuan itu. Karena itu, pemuda harus kita jaga karena merekalah penerus yang kelak menggantikan para pemimpin daerah dan nasional," ujarnya.
Dia juga mengajak ormas dan tokoh agama berperan sebagai jembatan antara masyarakat dan pemerintah, menjadi penyeimbang sekaligus memberi kontribusi yang konstruktif.
"Terima kasih atas kehadiran semua pihak dalam dialog ini. Semoga forum ini menjadi sarana strategis untuk saling berkomunikasi, bertukar pikiran dan menghasilkan kesepahaman sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dalam bingkai NKRI," pungkas Sudaryanto.
Baca Juga: BNPT Tegaskan Komitmen Jaga Pancasila, Dukung Arahan Presiden Prabowo Lawan Ideologi Kekerasan
Pada kesempatan yang sama, Wakil Bupati Manggarai Barat, dr. Yulianus Weng, mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menjaga kondusivitas daerah dalam mendukung perkembangan pariwisata.
Menurutnya, Labuan Bajo yang kini menjadi destinasi prioritas wisata dunia membutuhkan suasana aman dan nyaman bagi wisatawan.
"Rasa aman bukan hanya tugas aparat keamanan tetapi juga tanggung jawab kita semua. Pemuda adalah tulang punggung bangsa, sebagaimana pesan Bung Karno, beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia," jelas Yulianus.
Yulianus menambahkan, situasi Manggarai Barat saat ini relatif kondusif berkat sinergi tokoh agama, masyarakat dan Forkopimda.
Baca Juga: BNPT Perkuat Peran Guru di NTB dalam Menangkal Radikalisme, Kekerasan dan Bullying
Dia juga menekankan pentingnya toleransi yang sudah lama hidup di Manggarai Barat. Dalam perayaan besar keagamaan, pengamanan tidak hanya dilakukan aparat tetapi juga melibatkan pemuda lintas agama.
"Ketika Natal atau Paskah, Banser dan remaja masjid ikut menjaga. Begitu pula saat Idulfitri, anak-anak muda Katolik dan Kristen juga turut mengamankan. Inilah wajah kerukunan kita," katanya.
Pada sesi dialog, tampil narasumber-narasumber antara lain Direktur Pencegahan BNPT, Prof. Irfan Idris; Ketua PCNU Manggarai Barat, H. Ishak Muhammad Jabi; rohaniawan Kristen Protesten/Wakil Ketua FKUB, Pdt. Rudi Siswanto; dan rohaniawan Katolik Theodorus Noka.
Kegiatan tersebut dihadiri lebih kurang 120 peserta dari pengurus dan anggota organisasi pemuda dan masyarakat di Manggarai Barat. Antara lain GP Ansor, Pemuda Katolik, FKUB, KNPI, IKA PMII, Pemuda Muhammadiyah, KAHMI, PMKRI, GMNI, Himpunan Pramuwisata, Pimpinan Flatform Limbah Indonesia, Pemuda Manggarai Barat Bersatu dan mahasiswa/mahasiswa seluruh Manggarai Barat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









