Sisi Lain Pendidikan Indonesia, Materi Berkualitas Hilang hingga Kurikulum Terus Berubah

AKURAT.CO Di tengah pesatnya teknologi saat ini, sektor pendidikan di Indonesia masih menyimpan sisi lain yang perlu dibenahi lebih lanjut, demi kemajuan anak-anak bangsa.
Pakar pendidikan, Prof. Yudi Latif, menyebut dunia pendidikan nasional sering kali meninggalkan warisan pendidikan yang berkualitas, namun justru mempertahankan praktik buruk yang terus berulang.
Dia mencontohkan banyak buku pelajaran dan materi ajar dari masa lalu yang dinilai berkualitas, tetapi tersisih oleh produksi bahan ajar baru yang didorong kepentingan proyek setiap pergantian rezim.
Baca Juga: Pakar Ingatkan AI Tidak Boleh Korbankan Nilai-nilai Dasar Pendidikan
"Yang baik-baik dari masa lalu banyak sekali, buku karakter, buku kisah, bahan ajar yang bagus. Tapi karena digilas rezim proyek, setiap ada rezim baru, ada produksi baru, dan belum tentu berkualitas," kata Yudi, Kamis (27/11/2025).
Kondisi serupa terjadi pada kurikulum nasional. Menurut dia, kurikulum yang terlalu sering berganti menghambat keberlanjutan, padahal pendidikan membutuhkan konsistensi agar kualitas pembelajaran terjaga.
"Pendidikan memerlukan keberlanjutan yang relatif bertahan. Tapi yang sering kita lihat, kurikulum cepat sekali berubah," ujarnya.
Baca Juga: Rekomendasi Kampus Swasta Terbaik di Surabaya untuk Melanjutkan Pendidikan
Dia menegaskan, pendidikan Indonesia seharusnya berjejak pada tradisi baik yang diwariskan para pendiri bangsa, termasuk nilai-nilai yang pernah dikembangkan sistem pendidikan seperti Taman Siswa. Fondasi seperti etika, akhlak, karakter, dan kemampuan literasi dasar tetap harus menjadi dasar utama pendidikan.
Namun dia juga mengingatkan akan keterbukaan terhadap teknologi dan metode baru tetap diperlukan. "Gerak sejarah itu mempertahankan tradisi baik dan mengambil yang baru yang lebih baik. Itu doktrin yang seharusnya menjadi pijakan kita," katanya.
Selain itu, dia juga menyinggung minimnya ruang pemberitaan pendidikan dalam media massa yang kerap tergilas isu politik. Kondisi ini menurutnya, memperburuk perhatian publik terhadap pembangunan sumber daya manusia padahal hal itu menjadi prioritas dalam visi pembangunan nasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






