Akurat
Pemprov Sumsel

Ribuan Dapur MBG Diberi Sanksi, Neng Eem Minta Akreditasi Tidak Sekadar Formalitas

Redaksi Akurat | 1 April 2026, 22:14 WIB
Ribuan Dapur MBG Diberi Sanksi, Neng Eem Minta Akreditasi Tidak Sekadar Formalitas
Anggota Komisi IX DPR, Neng Eem Marhamah Zulfa. (Parlementaria)

AKURAT.CO Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menghadapi sorotan serius setelah terungkapnya ribuan pelanggaran standar layanan pada dapur penyedia makanan.

Badan Gizi Nasional (BGN), hingga Maret 2026, menjatuhkan sanksi kepada 1.251 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang melanggar standar operasional.

Hal ini memicu desakan penguatan sistem pengawasan dan akreditasi.

Menanggapi hal tersebut, Anggota Komisi IX DPR, Neng Eem Marhamah Zulfa, mendorong BGN untuk memperkuat pengawasan melalui pembentukan lembaga akreditasi dapur.

Menurutnya, sertifikasi yang diberikan kepada SPPG harus benar-benar menjadi jaminan kualitas dan keamanan pangan, bukan sekadar formalitas administratif.

Baca Juga: BGN Sesuaikan Distribusi MBG, Fresh Food untuk Anak Sekolah dan Menu Kering di Wilayah 3T

"Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini menyangkut masa depan generasi kita. Jangan sampai sertifikasi hanya menjadi formalitas. Yang paling penting adalah makanan yang disajikan benar-benar aman, sehat dan layak dikonsumsi," ujar Neng Eem, dalam keterangan yang diterima Rabu (1/4/2026).

Setidaknya sebanyak 1.030 unit SPPG ditangguhkan operasionalnya, 210 unit menerima surat peringatan pertama (SP1) dan 11 unit lainnya telah mencapai surat peringatan kedua (SP2).

Apabila SPPG yang disanksi tidak melakukan perbaikan maka operasionalnya akan diberhentikan.

Berdasarkan rencana BGN, setiap dapur MBG diwajibkan memiliki tiga sertifikasi utama, yakni laik hygiene dan sanitasi, sertifikasi halal, serta Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP).

Ketiga instrumen tersebut dipandang sebagai sistem pengamanan untuk mencegah risiko seperti keracunan makanan maupun distribusi makanan yang tidak layak konsumsi.

Baca Juga: BGN: Anggaran Program MBG Rp268 Triliun, Bukan Rp335 Triliun

Meski demikian, politisi PKB itu mengingatkan bahwa efektivitas sertifikasi sangat bergantung pada penegakan aturan di lapangan.

Tanpa pengawasan yang ketat, sertifikat yang dimiliki dapur MBG berpotensi hanya menjadi pelengkap administratif tanpa menjamin kualitas layanan.

"Jika ditemukan pelanggaran serius, tidak cukup hanya ditutup sementara. Harus ada tindakan tegas hingga pencabutan izin operasional. Ini penting untuk memberikan efek jera dan menjaga martabat program nasional ini," jelas Neng Eem.

Ia menilai langkah BGN dalam menjatuhkan sanksi kepada 1.251 SPPG merupakan awal yang baik dalam penegakan disiplin. Namun ke depan, sistem akreditasi diharapkan tidak hanya bersifat reaktif, melainkan mampu mencegah pelanggaran sejak awal melalui mekanisme evaluasi yang ketat dan berkelanjutan.

Dengan demikian, Program MBG diharapkan dapat berjalan optimal tanpa menimbulkan risiko bagi masyarakat.

Baca Juga: Pemerintah Tetapkan Pembagian MBG hanya 5 Hari dalam Sepekan, Kecuali di Wilayah 3T

Selain itu, penguatan sistem pengawasan juga menjadi penting agar anggaran besar yang digelontorkan negara benar-benar menghasilkan manfaat maksimal.

"Ke depan, kita berharap tidak ada lagi kasus keracunan atau makanan basi. Sertifikasi ini harus menjadi garansi mutlak bahwa Program MBG aman dan berkualitas tinggi," pungkas Neng Eem.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
W
Editor
Wahyu SK