Bakom RI Soal Usul Diplomasi Virtual: Pertemuan Kepala Negara Masa Pakai Zoom?

AKURAT.CO Intensitas pertemuan tatap muka Presiden Prabowo Subianto dengan sejumlah pemimpin dunia sempat menjadi sorotan publik. Bahkan, beberapa pihak menyarankan agar Presiden melakukan diplomasi secara virtual.
Deputi II Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Timothy Ivan Triyono, memberikan penjelasan mengenai urgensi diplomasi langsung tersebut dibandingkan sekadar pertemuan virtual. Langkah ini dinilai sebagai upaya serius dalam menjajaki kerja sama strategis bagi kepentingan nasional.
Dia menegaskan, diplomasi melibatkan target konkret yang memerlukan tindakan proaktif, terutama jika Indonesia memiliki kebutuhan tertentu.
Baca Juga: Teddy Respons Kritik Dino, Tegaskan Agenda Diplomasi Prabowo Ditentukan Berdasarkan Prioritas
"Ada sesuatu yang ingin dikejar, ada sesuatu yang ingin disepakati, apalagi kalau kita yang butuh, lebih proaktif," ujar Timothy dalam sebuah acara talk show, dikutip Senin (8/6/2026).
Dia mencontohkan hasil nyata saat Presiden terbang ke Rusia, untuk mengamankan stok energi nasional dari Presiden Vladimir Putin. Keberhasilan membawa pulang komitmen tersebut merupakan bukti nyata dari manfaat perjalanan dinas luar negeri.
"Ya apakah perjalanan dinas ke Rusia itu worth it gitu? Ya balik lagi worth it atau tidaknya tergantung pada hasilnya. Dan menurut saya itu worth it, gitu," jelasnya.
Selain Rusia, kunjungan ke Prancis hingga Uni Eropa juga disebut memiliki target investasi dan kerja sama bilateral yang jelas. Menurutnya, esensi diplomasi melampaui teknis administratif yang biasa dilakukan di depan layar virtual.
"Urusan diplomasi ini bukan sekadar kita rapat di kantor pakai Zoom," tegas Timothy.
Dia menambahkan bahwa hubungan antarmanusia, terutama dengan budaya Timur, sangat mengandalkan sentuhan personal dan chemistry.
Baca Juga: Bantah Kritik Dino Patti Djalal, Jubir Gerindra: Diplomasi Prabowo Tak Bisa Digantikan Lewat Zoom
"Apalagi urusannya diplomasi luar negeri yang perlu ada sentuhan personal, perlu ada hubungan-hubungan yang dijajaki, dijalin, chemistry-nya juga harus oke gitu," tambahnya.
Interaksi fisik seperti cara bersalaman antar-pemimpin negara bahkan memiliki makna simbolis yang kuat di mata dunia.
"Masa iya kita bisa salaman di Zoom? Kan enggak bisa gitu. Jadi ada hal-hal yang memang harus dilakukan secara face-to-face, secara langsung gitu. Jadi ini bukan hal yang remeh-temeh. Ini persoalan serius dan marwah bangsa,” sambungnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 8Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 9Ramalan Shio Asmara 7 Juni 2026 Terbaru: Tikus Makin Romantis, Naga Penuh Pesona, Harimau Berpeluang Jatuh Cinta
- 10Ramalan Zodiak Keuangan 7 Juni 2026: Leo, Aquarius, Aries, dan Pisces







