Akurat Logo

Ekspedisi Patriot, Negara Hadir Bangun Kawasan Transmigrasi Lewat Ilmu Pengetahuan

Moehamad Dheny Permana | 5 Agustus 2026, 10:33 WIB
Ekspedisi Patriot, Negara Hadir Bangun Kawasan Transmigrasi Lewat Ilmu Pengetahuan
Kepala Bakom RI, Muhammad Qodari, menyebut Ekspedisi Patriot merupakan kelanjutan dari program serupa pada 2025. - Foto: Akurat.co

AKURAT.CO Pemerintah melalui Kementerian Transmigrasi merekrut dan mengirim 1.476 patriot muda Tim Ekspedisi Patriot dari 10 perguruan tinggi terbaik ke 53 kawasan transmigrasi untuk melakukan riset, kajian, dan pendampingan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, menjelaskan, penugasan ini merupakan kelanjutan dari program serupa pada 2025 yang menerjunkan 2.000 orang. Dengan sebaran lokasi mulai dari Salor di Papua Selatan hingga Barelang di Kepulauan Riau.

"Melalui kolaborasi ini, negara hadir membangun kawasan transmigrasi lewat kekuatan ilmu pengetahuan, menggandeng akademisi dan mahasiswa terbaik bangsa sebagai mitra kerja di lapangan," ujar Qodari, dalam keterangannya, Rabu (5/8/2026).

Dalam pelaksanaannya, pemerintah menggandeng 10 perguruan tinggi terbaik, yaitu Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro, Universitas Padjajaran, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin.

Kesepuluh kampus itu turut bekerja sama dengan perguruan tinggi lainnya dalam Tim Ekspedisi Patriot 2026.

Baca Juga: AHY Ingin Kawasan Transmigrasi Jadi Magnet Investasi: Bukan Lagi Sekadar Relokasi Penduduk

"Kemitraan ini merupakan kelanjutan dari Tim Ekspedisi Patriot 2025, dan pada tahun 2026 kemitraan ini bertambah Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin," kata Qodari.

Perguruan tinggi mitra membantu verifikasi administrasi, seleksi, dan dukungan akademik bagi para peserta Tim Ekspedisi Patriot sebelum diberangkatkan. Kolaborasi berlanjut selama masa penugasan.

Menurut Qodari, setiap kampus bertanggung jawab mendampingi kawasan yang menjadi lokasi risetnya, seperti UI di Werianggi-Werabur dan ITB di Lereh, Papua.

Program ini diharapkan mampu menjadikan kawasan transmigrasi sebagai laboratorium riset terapan, yang menghasilkan rekomendasi kebijakan nyata untuk perencanaan, pembangunan, dan pengembangan kawasan yang diawasi langsung oleh akademisi.

Untuk 10 kawasan transmigrasi di Papua, pemerintah memastikan penguatan pendampingan melalui penambahan jumlah tim yang diturunkan.

Baca Juga: Pemerintah Kebut Pembangunan Infrastruktur Pendidikan di Daerah Transmigrasi, 454 Toilet dan 478 Sekolah Diperbaiki

"Tim tersebut yakni 1.200 orang Tim Ekspedisi Patriot yang diterjunkan saat ini. Sekaligus menjadi bentuk afirmasi nyata dari komitmen Presiden Prabowo dalam mempercepat pembangunan dan peningkatan kesejahteraan Papua," jelas Qodari.

Skema ini bukan pemerataan seragam ala program sosial biasa, melainkan penyesuaian berbasis kebutuhan riil 53 kawasan prioritas, dengan 11 tema riset spesifik mulai dari reforma agraria hingga hilirisasi dan energi terbarukan.

"Negara memastikan hasil riset Tim Ekspedisi Patriot menjadi bahan rekomendasi kebijakan yang ditindaklanjuti secara berkelanjutan, bukan proyek sekali jalan. Hasil-hasil riset akan menjadi pijakan bagi lahirnya kebijakan yang tepat sasaran, berdampak nyata, dan berkelanjutan bagi masyarakat," Qodari menerangkan.

Qodari berharap melalui kolaborasi yang erat antara negara, perguruan tinggi, dan masyarakat, kawasan transmigrasi dapat tumbuh sebagai pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berdaya saing, berkelanjutan, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara nyata.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.