Didik J Rachbini Dorong NU Jadi Agen Perubahan, Indonesia Akan Maju jika Nahdliyin Maju

AKURAT.CO Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, mendorong dilakukannya penataan ulang posisi Nahdlatul Ulama (NU) dalam pembangunan nasional.
Ia menilai elite organisasi sepatutnya menjadikan NU sebagai agen perubahan (agent of change), bukan sekadar pelengkap.
Menurut Didik, kemajuan warga NU berbanding lurus dengan kemajuan Indonesia secara keseluruhan. Hal ini mengingat skala populasi kaum nahdliyin yang sangat mendominasi.
"Jika masyarakat pesantren dan kaum nahdliyin maju, maka bangsa Indonesia akan maju. Moto seperti ini sangat masuk akal karena kaum nahdiyin adalah salah satu bagian terbesar dari bangsa ini," ujar Didik, dalam keterangannya, Selasa (1/9/2026).
Ia menekankan pentingnya pengalihan fokus program-program strategis negara ke lingkungan nahdliyin. Sektor-sektor utama seperti pendidikan hingga teknologi harus menjadi sasaran prioritas.
Baca Juga: Didik Rachbini Urai Tugas Berat NU Usai Muktamar ke-35
"Program pemerintah dalam bidang pendidikan, kesehatan, teknologi dan SDM secara luas sangat patut diarahkan ke dalam lingkungan masyarakat nahdiyin, yang langsung dan sekaligus menjadi program elite NU," jelasnya.
Di sisi lain, Didik mengingatkan agar NU menjaga jarak dari dinamika politik praktis. Kekuatan basis massa yang begitu masif dinilainya sudah cukup memberikan posisi tawar yang kuat tanpa perlu terlibat politik kekuasaan.
"Bermain politik praktis sebaiknya dihindari karena dengan posisinya yang strategis dan keanggotaan yang masif dan besar jumlahnya, maka secara inheren NU mempunyai posisi dan daya tawar yang kuat," pesannya.
Atas dasar itu, Didik mendesak agar praktik eksploitasi suara massa NU dalam ajang politik segera diakhiri.
"Dengan demikian, maka para elitnya dan pemerintah sepatutnya dan bahkan harus menjadikan NU sebagai agent of change. Tidak bisa lagi massa NU diposisikan sebagai obyek politik praktis untuk mengais suara dan mendukung elite-elitenya yang berkiprah, bergantung dan bergelantungan di kekuasaan," jelasnya.
Baca Juga: PCNU Solo Raya Soroti Celah Kecurangan Pemilihan Ahwa di Muktamar NU Jombang
Didik menambahkan bahwa cara pandang usang terhadap pesantren dan nahdiyin sudah tidak relevan lagi saat ini.
"Menjadikan NU sebagai obyek politik dan kekuasaan patut dihentikan. Sudah setengah abad yang lalu Gus Dur dan Dawam Rahardjo tidak melihat pesantren sebagai lembaga mandeg, kolot yang harus diubah dari luar. NU tidak memerlukan pahlawan dari luar untuk memajukan warganya," katanya.
Lebih jauh, Didik optimistis atas kemandirian dan potensi internal yang dimiliki oleh lingkungan NU serta pesantren.
"Pesantren memiliki modal sosial yang sangat kuat dan sangat berakar pada budaya bangsa Indonesia. NU mempunyai kekuatan jaring akar rumput yang kuat dan tidak dimiliki oleh organisasi lain," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








