Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Bergeser ke Laut Hindia, Lampung dan Jakarta Mulai Kondusif

AKURAT.CO Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini cenderung bergerak ke arah Laut Hindia.
Kondisi tersebut membuat wilayah Lampung, Banten, Jawa, Barat hingga DKI Jakarta kini lebih kondusif dari sebaran abu.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menjelaskan, arah sebaran abu mengikuti arah angin yang saat ini bergerak ke barat. Berdasarkan analisis citra satelit, kecepatan angin di sekitar Gunung Anak Krakatau mencapai 15 knot.
"Kalau kita lihat signifikan meteorologisnya, bahwa saat ini abu vulkanik tersebut lebih cenderung mengarah ke Laut Hindia," ujarnya, melalui siaran resmi Bakom RI, Rabu (9/9/2026).
"Dari informasi tersebut, kita dapat tahu bahwa sekarang ini keadaan di Lampung dan Jawa Barat maupun Banten, DKI termasuk di dalamnya, lebih kondusif dari abu vulkanik," kata Berton.
Meski kondisi sebaran abu sudah lebih kondusif, BNPB mengingatkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Karena itu, masyarakat ataupun wisatawan tetap dilarang beraktivitas dalam radius tiga kilometer.
Baca Juga: Hadapi Abu Gunung Anak Krakatau, BNPB Modifikasi Cuaca Gunakan 350 Kg Kalsium Klorida
BNPB juga terus melakukan operasi untuk menangani dampak abu vulkanik dan polutan di udara. Pada Senin (7/9/2026), BNPB melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) melalui metode cloud seeding atau penyemaian awan.
OMC dilakukan dengan menyemai awan yang berpotensi menghasilkan hujan di wilayah perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Dalam operasi itu, BNPB menggunakan pesawat untuk menyebarkan sekitar 650 liter air yang dicampur dengan 350 kilogram kalsium klorida (CaCl2).
"Dilakukan penyemprotan air yang bercampur dengan kalsium klorida yang ditujukan pada awan yang berpotensi terjadi hujan di wilayah perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah," ujar Berton.
Sementara, pada Selasa (8/9/2026), BNPB melakukan operasi modifikasi cuaca dengan metode water mist.
Dilakukan dengan menyemprotkan air yang dicampur surfaktan untuk membantu menangkap lapisan polutan di udara.
Dalam operasi tersebut, BNPB menggunakan sekitar 2.000 liter air yang dicampur dengan surfaktan.
Baca Juga: Aktivitas Vulkanik Menurun, Warga Sekitar Gunung Anak Krakatau Diimbau Tetap Waspada
"Semaian bahan yang disampaikan itu adalah 2.000 liter air ditambah dengan surfaktan," kata Berton.
Berton menyampaikan kondisi tersebut juga berdampak positif pada operasional penerbangan. Sebanyak delapan bandara yang sebelumnya ditutup oleh otoritas kini telah kembali dibuka.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









