Kasus Keracunan MBG Terus Terjadi, Anggota DPR Wacanakan Opsi Panja atau Pansus

AKURAT.CO Komisi IX DPR membuka opsi pembentukan panitia kerja (Panja) hingga panitia khusus (Pansus) untuk mengawasi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) jika kasus keracunan terus terjadi.
Namun, pembentukan Pansus harus melalui kesepakatan lintas komisi di DPR serta mendapat persetujuan pimpinan DPR. Sementara itu, hingga kini anggota Komisi IX belum mencapai kesepakatan untuk membentuk Panja maupun Pansus.
"Kalau kita bicara pansus tentu harus ada kesepakatan dengan komisi-komisi yang ada di DPR," kata Wakil Ketua Komisi IX DPR, Charles Honoris, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Menurutnya, pembentukan Panja merupakan kewenangan Komisi IX, sedangkan Pansus membutuhkan keterlibatan komisi lain karena bersifat lintas komisi.
"Dan sampai hari ini, poksi-poksi yang ada di Komisi IX kita belum mencapai kata sepakat. Baik itu untuk membuat panja, apalagi membuat pansus karena pansus itu kan harus lintas komisi dan mendapatkan persetujuan dari pimpinan DPR," ujarnya.
Meski demikian, kemungkinan pembentukan Panja maupun Pansus dapat terbuka apabila kasus keracunan MBG terus terjadi dan tidak ada perbaikan mendasar dalam pelaksanaan program.
"Tetapi kalau tidak ada perbaikan secara fundamental maka bisa saja ke depan kita mungkin di Komisi IX membuat panja terkait dengan pengawasan program MBG atau bahkan lintas komisi untuk membuat pansus ya, tidak menutup kemungkinan," lanjutnya.
Baca Juga: Polisi Harus Proaktif Usut Kasus Keracunan MBG, Komisi IX DPR: Tak Perlu Tunggu Laporan Korban
Charles menegaskan, DPR masih memberikan kesempatan kepada Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, dan jajaran untuk melakukan pembenahan. Dia berharap, program MBG dapat berjalan sesuai tujuan sekaligus menjamin keamanan makanan bagi anak-anak Indonesia.
"Tapi sekali lagi, kita masih memberikan kesempatan kepada Pak Sudaryono dan Badan Gizi Nasional untuk bisa memperbaiki program ini sehingga program ini bisa bermanfaat dan aman untuk anak-anak Indonesia," tuturnya.
Saat ditanya apakah jumlah korban yang telah mencapai lebih dari 53 ribu orang sudah terlalu banyak untuk sekadar ditangani melalui pemberian keterangan, Charles mengakui angka tersebut sudah sangat besar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









