Akurat Logo

Menag: Sarung dan Peci Jadi Identitas Kebangsaan dan Kesetaraan

Siti Nur Azzura | 24 Oktober 2026, 17:01 WIB
Menag: Sarung dan Peci Jadi Identitas Kebangsaan dan Kesetaraan
Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mengenakan sarung dengan motif khas Sulawesi Selatan pada acara Festival Sarung & Peci Santri, Jumat (23/10/2026). - Dok. Kemenag

AKURAT.CO Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menilai tradisi bersarung dan berpeci sebagai identitas kebangsaan sekaligus busana spiritual masyarakat Indonesia. Selain sebagai pakaian, sarung memuat nilai persatuan, kesetaraan, dan kebebasan.

Dia mengatakan, warna dan motif sarung yang beragam sebagai penanda identitas daerah, sehingga budaya setiap wilayah dapat dikenali lewat busananya.

"Sarung itu juga memiliki filosofis. Sarung itu (berbentuk) bundar. (Artinya) sarung itu menyatukan, sarung itu simbol kesetaraan, sarung itu adalah simbol kebebasan," kata Nasaruddin di Jakarta, Sabtu (24/10/2026).

Baca Juga: Kemenag Matangkan Konsep Peringatan HGN 2026, Siapkan Ekoteologi hingga Penghargaan Guru

Tak hanya sarung, peci juga memiliki kedudukan khusus dalam tradisi adat dan keagamaan. Menag bercerita bahwa sempat ada masanya di beberapa wilayah, peci wajib digunakan oleh orang-orang yang akan memberikan kesaksian di persidangan.

Peci dipandang sebagai bagian dari kewibawaan kebenaran. Peci kemudian berkembang menjadi pakaian kebangsaan yang dipakai lintas agama dalam acara kenegaraan.

Dia pun mengajak insan Kemenag menjaga budaya mengenakan sarung sekaligus membesarkannya, sehingga selain mentradisi, inovasi model sarung dan peci juga terus berkembang mengikuti zaman.

"Kita dibesarkan oleh budaya. Kita juga harus membesarkan budaya itu sendiri..... Saya kira siapa lagi yang bisa memasyarakatkan kembali kalau bukan kita, Kementerian Agama?" pungkasnya.

Baca Juga: Kemenag Buka Pendaftaran PPG Daljab 2026 untuk Guru Madrasah, Cek Syarat dan Jadwalnya

Penguatan Tradisi Nusantara

Direktur Jenderal (Dirjen) Pesantren Kemenag, Basnang Said, mengatakan bahwa bersarung dan berpeci menjadi tradisi Nusantara yang terus dijaga pondok pesantren. Sarung dan peci bukan simbol kampungan, tapi identitas kepribadian, kesederhanaan, kedalaman ilmu, dan penjaga moral bangsa.

"Sering ada yang mengatakan (pakai sarung) itu 'kampungan', padahal (memakai) sarung adalah tradisi Nusantara......Sarung justru menjadi sebuah identitas kepribadian, kesederhanaan, kedalaman ilmu, bahkan simbol penjaga moral bangsa," tegasnya.

Keberagaman tenun sarung dari berbagai daerah juga dipandangnya sebagai wujud semangat Bhinneka Tunggal Ika. Dia pun mendorong pegawai Direktorat Jenderal Pesantren Kemenag dapat sering memakai kombinasi sarung dan peci saat berkantor.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.