Akurat Logo

7 Cara Mengajarkan Empati kepada Anak, Orang Tua Perlu Tahu

Redaksi Akurat | 24 Oktober 2026, 21:16 WIB
7 Cara Mengajarkan Empati kepada Anak, Orang Tua Perlu Tahu
Mengajarkan Empati pada Anak

AKURAT.CO Kita semua paham bahwa mengajarkan empati kepada anak merupakan salah satu bagian penting dalam proses pengasuhan. Kemampuan ini membantu anak memahami perasaan orang lain, menghargai perbedaan, serta belajar merespons situasi sosial dengan lebih baik.

Empati tidak terbentuk secara instan. Anak perlu belajar mengenali emosi, memahami sudut pandang orang lain, dan melihat contoh perilaku peduli dari orang-orang di sekitarnya. Karena itu, orang tua memiliki peran penting dalam membantu anak mengembangkan kemampuan tersebut sejak dini.

Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), anak perlu merasakan bahwa dirinya dipahami oleh orang dewasa sebelum belajar menunjukkan empati kepada orang lain. Aktivitas seperti membaca cerita, bermain, dan membicarakan perasaan dapat menjadi sarana untuk melatih kemampuan tersebut.

Lantas, bagaimana cara mengajarkan empati kepada anak? Berikut sejumlah langkah yang dapat diterapkan orang tua dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Ombudsman Konfirmasi Jimmy Masrin Tempati 'Hunian Mewah' Lapas Cibinong

Apa Itu Empati pada Anak?

Empati adalah kemampuan untuk memahami perasaan dan sudut pandang orang lain, serta menunjukkan kepedulian terhadap apa yang mereka alami. Kemampuan ini tidak hanya berkaitan dengan mengenali emosi, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana tindakan seseorang dapat memengaruhi orang lain.

Sebagai contoh, anak yang melihat temannya menangis karena terjatuh dapat mulai memahami bahwa temannya sedang merasa sakit atau sedih. Anak kemudian bisa menawarkan bantuan atau memanggil orang dewasa.

Namun, empati tidak berarti anak harus selalu menyetujui keinginan orang lain. Anak tetap perlu belajar membedakan antara memahami perasaan seseorang dan membenarkan perilaku yang keliru.

Empati berkembang secara bertahap seiring pertumbuhan anak. Pengalaman berinteraksi dengan orang tua, anggota keluarga, teman sebaya, dan lingkungan sosial turut berperan dalam proses tersebut.

7 Cara Mengajarkan Empati kepada Anak

1. Memberikan Contoh Perilaku Empati

Salah satu cara mengajarkan empati kepada anak adalah melalui keteladanan. Anak dapat mengamati bagaimana orang tua memperlakukan orang lain, menyelesaikan perselisihan, dan merespons seseorang yang sedang mengalami kesulitan.

Orang tua dapat menunjukkan empati melalui tindakan sederhana, seperti mendengarkan anggota keluarga yang sedang bercerita, membantu tetangga, atau meminta maaf ketika melakukan kesalahan.

Misalnya, ketika orang tua tidak sengaja berbicara dengan nada tinggi kepada anak, orang tua dapat mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Tindakan tersebut memberikan contoh bahwa setiap orang perlu bertanggung jawab atas perilakunya.

Dengan melihat contoh secara berulang, anak memperoleh kesempatan untuk memahami bahwa kepedulian bukan sekadar ucapan, melainkan juga tindakan nyata.

2. Mengajarkan Anak Mengenali Emosi

Sebelum memahami perasaan orang lain, anak perlu belajar mengenali emosinya sendiri. Orang tua dapat membantu anak membedakan perasaan senang, sedih, marah, takut, kecewa, dan khawatir.

Ketika anak mengalami suatu emosi, orang tua dapat menyebutkan perasaan tersebut dengan bahasa sederhana. Contohnya, saat mainan kesayangannya rusak, orang tua bisa mengatakan, "Kamu sedih karena mainanmu rusak, ya?"

Cara ini membantu anak menghubungkan pengalaman yang dialaminya dengan nama emosi yang sesuai.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga menganjurkan orang tua untuk membantu anak mengenali dan menyebutkan emosinya. Orang tua dapat mendengarkan, mengakui perasaan anak, kemudian membimbingnya menemukan cara yang tepat untuk merespons situasi.

Penting untuk diingat bahwa mengakui perasaan tidak sama dengan membenarkan semua tindakan. Anak boleh merasa marah, tetapi tetap perlu memahami bahwa memukul atau menyakiti orang lain bukanlah cara yang tepat untuk mengekspresikan kemarahan.

3. Membacakan Cerita dan Membahas Perasaan Tokohnya

Buku cerita dapat menjadi sarana untuk mengenalkan empati kepada anak. Pilih cerita yang menampilkan persahabatan, perselisihan, kehilangan, perbedaan, atau tindakan saling membantu.

Setelah membaca cerita, orang tua dapat mengajak anak berdiskusi mengenai pengalaman tokoh-tokohnya. Misalnya, tanyakan, "Menurutmu, bagaimana perasaan tokoh itu ketika tidak diajak bermain?" atau "Apa yang bisa dilakukan teman-temannya supaya dia merasa lebih baik?"

Pertanyaan tersebut mendorong anak untuk mempertimbangkan situasi dari sudut pandang orang lain, bukan hanya dari pengalaman dirinya sendiri.

Metode serupa juga dapat diterapkan ketika anak menonton film animasi atau mendengarkan dongeng. Orang tua tidak harus langsung memberikan jawaban, tetapi dapat memberi kesempatan kepada anak untuk menyampaikan pendapatnya.

Dengan demikian, kegiatan membaca dan bercerita bukan hanya membantu perkembangan bahasa, tetapi juga membuka ruang untuk membicarakan emosi dan hubungan sosial.

4. Melatih Empati Melalui Permainan

Permainan dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar memahami orang lain dalam situasi yang menyenangkan. Orang tua dapat mengajak anak bermain peran, bergantian menggunakan mainan, atau bekerja sama menyelesaikan suatu tugas.

Sebagai contoh, orang tua dan anak dapat berpura-pura menjadi penjual dan pembeli. Dalam permainan tersebut, anak belajar mendengarkan, menunggu giliran, dan memahami kebutuhan orang lain.

Ketika anak bermain bersama teman, perselisihan mengenai mainan atau giliran bermain juga dapat menjadi kesempatan belajar. Orang tua dapat membantu anak memahami bahwa temannya mungkin kecewa ketika tidak mendapat kesempatan yang sama.

Alih-alih langsung memarahi salah satu pihak, orang tua bisa bertanya, "Bagaimana perasaan temanmu ketika mainannya diambil?" kemudian mengajak anak mencari penyelesaian yang adil.

Melalui interaksi tersebut, anak berlatih memahami sudut pandang orang lain sekaligus belajar menyelesaikan masalah.

5. Membiasakan Anak Membantu Orang Lain

Empati juga dapat dikembangkan melalui tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua dapat mengajak anak membantu anggota keluarga, merapikan mainan bersama, atau memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan sesuai kemampuan dan usianya.

Contohnya, anak dapat membantu mengambilkan barang untuk anggota keluarga yang kesulitan menjangkau sesuatu. Orang tua kemudian bisa menjelaskan bahwa tindakan tersebut membantu orang lain menyelesaikan kesulitannya.

Kegiatan sosial yang sesuai dengan usia anak juga dapat menjadi sarana pembelajaran. Misalnya, anak dapat diajak menyiapkan barang layak pakai untuk disumbangkan atau membantu kegiatan lingkungan bersama keluarga.

Namun, orang tua sebaiknya tidak hanya berfokus pada hasil tindakan. Jelaskan pula alasan di baliknya, seperti pentingnya memperhatikan kebutuhan orang lain dan membantu tanpa merendahkan penerima bantuan.

Dengan begitu, anak memiliki kesempatan untuk memahami makna kepedulian, bukan sekadar melakukan sesuatu karena diminta.

6. Mendengarkan Perasaan Anak dengan Sungguh-Sungguh

Anak juga belajar empati dari cara orang tua memperlakukan dirinya. Ketika anak bercerita tentang masalah yang dialaminya, orang tua sebaiknya memberikan perhatian dan berusaha memahami apa yang sedang dirasakan anak.

Misalnya, ketika anak merasa kecewa karena tidak diajak bermain oleh teman-temannya, orang tua dapat mendengarkan ceritanya terlebih dahulu. Hindari langsung mengatakan bahwa masalah tersebut sepele atau menyuruh anak berhenti bersedih.

Respons yang lebih baik adalah, "Kamu pasti kecewa karena ingin bermain bersama mereka. Mau cerita lebih lanjut tentang apa yang terjadi?"

CDC menyarankan orang tua mempraktikkan mendengarkan secara aktif, antara lain dengan memberikan perhatian penuh, mengulangi inti cerita anak, dan membantu mengidentifikasi perasaan yang muncul.

Kebiasaan ini dapat membuat anak merasa dihargai dan memberinya contoh tentang bagaimana mendengarkan orang lain dengan penuh perhatian.

Meski demikian, orang tua tetap dapat menetapkan batasan perilaku. Perasaan anak perlu dihargai, tetapi tindakan yang menyakiti diri sendiri atau orang lain tetap harus ditangani dengan tepat.

7. Mengajarkan Anak Memahami Dampak Perbuatannya

Anak perlu memahami bahwa perkataan dan tindakannya dapat memengaruhi perasaan orang lain. Pembelajaran ini dapat dimulai dari kejadian sederhana, seperti mengejek teman, merebut mainan, atau tidak sengaja merusak barang milik orang lain.

Ketika hal tersebut terjadi, orang tua sebaiknya menjelaskan dampak perilaku anak tanpa memberikan label negatif pada dirinya.

Misalnya, orang tua dapat mengatakan, "Ketika kamu mengambil mainan tanpa izin, temanmu tidak bisa bermain dan mungkin merasa kesal. Menurutmu, apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki keadaan?"

Pertanyaan semacam ini membantu anak memikirkan akibat perbuatannya dan mencari cara untuk bertanggung jawab.

Jika diperlukan, orang tua dapat membimbing anak meminta maaf, mengembalikan barang, memperbaiki kerusakan, atau menawarkan bantuan kepada orang yang dirugikan.

Tujuannya bukan sekadar membuat anak merasa bersalah, melainkan membantunya memahami dampak tindakan dan belajar memperbaiki kesalahan.

Baca Juga: ​Disorot Netizen Terkait Tone Deaf, Maudy Ayunda Janji Lebih Berempati dan Bijak

Mengapa Empati Penting Diajarkan Sejak Dini?

Empati merupakan salah satu kemampuan sosial dan emosional yang berperan dalam hubungan anak dengan orang lain. Tinjauan penelitian UNICEF Innocenti mengenai perkembangan empati pada anak usia 0–18 tahun menemukan keterkaitan antara empati dan fungsi sosial, termasuk perilaku prososial, perilaku perundungan, serta kualitas hubungan dengan orang tua dan teman sebaya.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa empati berkaitan dengan sejumlah aspek kehidupan sosial anak. Namun, empati bukan satu-satunya faktor yang menentukan perilaku seseorang.

Berikut beberapa alasan pentingnya mengenalkan empati sejak dini.

Membantu membangun hubungan sosial. Anak belajar mempertimbangkan perasaan teman dan anggota keluarga ketika berinteraksi. Kemampuan ini dapat mendukung hubungan yang lebih positif.

Mendorong perilaku peduli. Anak memiliki kesempatan untuk mengenali situasi ketika orang lain membutuhkan perhatian atau bantuan.

Membantu menyelesaikan konflik. Dengan memahami sudut pandang orang lain, anak dapat belajar mencari penyelesaian masalah tanpa harus mengandalkan kemarahan atau tindakan agresif.

Mengenalkan penghargaan terhadap perbedaan. Anak belajar bahwa orang lain dapat memiliki perasaan, pengalaman, dan kebutuhan yang berbeda dari dirinya.

Mendukung perkembangan emosional. Proses mengenali emosi diri sendiri dan memahami perasaan orang lain membantu anak mengembangkan keterampilan sosial dan emosional.

Kapan Anak Sebaiknya Mulai Diajarkan Empati?

Empati dapat mulai dikenalkan sejak masa bayi melalui respons orang tua yang hangat dan penuh perhatian. Seiring bertambahnya usia, anak dapat dibimbing untuk mengenali emosi, memahami sudut pandang orang lain, dan menunjukkan kepedulian melalui tindakan.

Pada masa balita, orang tua dapat mulai mengenalkan nama-nama emosi dan memberikan contoh perilaku lembut terhadap orang lain. Ketika anak memasuki usia prasekolah dan sekolah, pembelajaran dapat diperluas melalui cerita, permainan bersama, diskusi tentang konflik, dan kegiatan membantu orang lain.

Meski demikian, perkembangan setiap anak berbeda. Kemampuan memahami emosi dan sudut pandang orang lain bergantung pada berbagai faktor, termasuk perkembangan individu dan pengalaman sosialnya.

Karena itu, orang tua tidak perlu menuntut anak langsung memahami perasaan orang lain dalam setiap situasi. Pendampingan yang konsisten dan sesuai dengan tahap perkembangan anak lebih penting daripada memaksakan hasil secara instan.

Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Mengajarkan Empati

Dalam proses mengajarkan empati, orang tua perlu memperhatikan cara menyampaikan nasihat dan merespons perilaku anak.

  • Pertama, hindari meremehkan perasaan anak. Kalimat seperti "Begitu saja menangis" dapat membuat anak merasa bahwa emosinya tidak penting. Sebaiknya, akui perasaannya terlebih dahulu sebelum membantu mencari solusi.

  • Kedua, jangan mempermalukan anak dengan menyebutnya egois, jahat, atau tidak punya hati. Fokuskan koreksi pada perilaku yang perlu diperbaiki, bukan pada penilaian terhadap kepribadian anak.

  • Ketiga, jangan hanya menuntut anak meminta maaf tanpa membantunya memahami kesalahan. Permintaan maaf akan lebih bermakna jika anak juga belajar memperbaiki dampak tindakannya.

  • Keempat, hindari memberikan contoh yang bertentangan dengan nasihat. Anak dapat mengamati bagaimana orang tua berbicara kepada orang lain, menyelesaikan konflik, dan memperlakukan orang yang memiliki perbedaan pendapat.

  • Kelima, jangan mengharapkan perubahan dalam waktu singkat. Empati merupakan kemampuan yang berkembang melalui pengalaman, hubungan yang suportif, dan kesempatan untuk berlatih.

Cara mengajarkan empati kepada anak dapat dimulai melalui kebiasaan sederhana, seperti memberikan teladan, mengenalkan emosi, membaca cerita, bermain bersama, membantu orang lain, mendengarkan perasaan anak, dan menjelaskan dampak perilakunya.

Orang tua tidak perlu menunggu anak melakukan kesalahan untuk membicarakan empati. Percakapan sehari-hari mengenai perasaan, kebutuhan, dan pengalaman orang lain dapat menjadi kesempatan belajar yang berharga.

Dengan pendampingan yang konsisten dan sesuai dengan tahap perkembangannya, anak dapat memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kepedulian, memahami perbedaan, serta membangun hubungan sosial yang lebih sehat.

Taqiyuddin Abdurrahman Leboe (Magang)

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
R