Hiroshima dan Nagasaki 1945: Tragedi Bom Atom dan Dampaknya

AKURAT.CO Bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945 merupakan salah satu peristiwa paling menentukan dalam sejarah modern.
Kedua serangan ini menjadi penggunaan pertama dan satu-satunya senjata nuklir dalam perang, sekaligus memicu pengunduran Jepang dan berakhirnya Perang Dunia II.
Peristiwa ini tidak hanya mengguncang dunia saat itu, tetapi juga mengubah arah hubungan internasional dan memperkenalkan era baru dalam teknologi militer dan politik global.
Dampaknya masih dirasakan sampai sekarang dalam diskursus perdamaian dan larangan senjata nuklir.
Baca Juga: Penyintas Bom Hiroshima, Sunao Tsuboi Meninggal Dunia karena Anemia
Proyek Manhattan
Proyek Manhattan adalah program rahasia Amerika Serikat yang dibentuk pada tahun 1942 untuk mengembangkan senjata nuklir pertama di dunia. Proyek ini melibatkan kerja sama ilmuwan, militer, dan pemerintah di tengah tekanan Perang Dunia II.
Riset dan pengembangan dilakukan di beberapa lokasi, seperti Los Alamos, Oak Ridge, dan Hanford, dengan dipimpin oleh fisikawan J. Robert Oppenheimer.
Ribuan ilmuwan dan tenaga ahli terlibat dalam pengembangan teknologi nuklir yang belum pernah ada sebelumnya.
Hasil Proyek Manhattan adalah dua jenis bom atom, yaitu berbasis uranium dan plutonium. Keberhasilan proyek ini menjadi titik balik perang sekaligus membuka era baru persenjataan nuklir dunia.
Latar Belakang Pengeboman Atom
Pada Juli 1945, setelah bertahun-tahun konflik di Pasifik, pimpinan Sekutu mengeluarkan Deklarasi Potsdam, menyerukan Jepang menyerah tanpa syarat atau menghadapi “kehancuran total.” Jepang tidak segera merespons ultimatum tersebut.
Presiden Amerika Serikat Harry S. Truman memutuskan untuk menggunakan senjata atom sebagai cara untuk memaksa Jepang menyerah tanpa perlu invasi darat besar-besaran yang diperkirakan menelan banyak korban.
Penjatuhan Bom Atom di Hiroshima
Pada 6 Agustus 1945, pesawat B-29 bernama Enola Gay meluncurkan bom atom uranium bernama Little Boy di atas kota Hiroshima.
Bom ini meledak sekitar 580 meter di atas permukaan tanah dan menghasilkan ledakan setara dengan sekitar 15.000 ton TNT.
Ledakan dan gelombang panasnya menghancurkan sebagian besar kota dan langsung menewaskan puluhan ribu orang.
Sampai akhir tahun 1945, korban tewas diperkirakan mencapai lebih dari 100.000 jiwa, termasuk mereka yang kemudian meninggal akibat paparan radiasi.
Baca Juga: Paus Dorong Penghapusan Senjata Nuklir di Lokasi Bom Nagasaki
Penjatuhan Bom Atom di Nagasaki
Tiga hari kemudian, pada 9 Agustus 1945, Amerika Serikat menjatuhkan bom plutonium bernama Fat Man di atas kota Nagasaki. Serangan ini terjadi setelah kota target awal, Kokura, tertutup awan tebal.
Bom tersebut meledak pada pagi hari dan menyebabkan kehancuran besar di bagian kota yang terkena.
Sekitar 40.000 orang tewas dalam ledakan awal, dan korban meningkat signifikan ketika ribuan lainnya meninggal karena luka dan radiasi pada akhir tahun itu.
Dampak Kemanusiaan dan Radiasi
Korban bom atom tidak hanya meninggal akibat ledakan, tetapi juga karena paparan radiasi jangka panjang. Banyak penyintas, yang dikenal sebagai hibakusha, mengalami kanker, kelainan genetik, serta trauma psikologis seumur hidup.
Radiasi juga memengaruhi lingkungan sekitar, merusak tanah dan sumber air. Tragedi ini menjadi bukti nyata bahwa dampak senjata nuklir melampaui batas waktu dan generasi.
Setelah dua serangan atom dan masuknya Uni Soviet ke medan perang melawan Jepang, pemerintah Jepang akhirnya menerima kekalahan.
Pada 15 Agustus 1945, Kaisar Hirohito mengumumkan penyerahan diri Jepang kepada Sekutu.
Keputusan ini secara resmi mengakhiri Perang Dunia II dan menutup konflik global paling mematikan dalam sejarah manusia.
Bom atom berperan besar dalam mempercepat berakhirnya perang tersebut.
Pengeboman Hiroshima dan Nagasaki mengubah cara dunia memandang perang.
Negara-negara besar mulai menyadari bahwa penggunaan senjata nuklir dapat membawa kehancuran total bagi umat manusia.
Sejak saat itu, muncul berbagai upaya internasional untuk membatasi dan melarang senjata nuklir. Hiroshima dan Nagasaki kini dikenal sebagai pusat gerakan perdamaian dunia dan pengingat pentingnya diplomasi dibanding kekerasan.
Amalia Febriyani (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








