Debat Ketiga Pilpres 2024 Dianggap Serang Personal, Ternyata Donal Trump dan Joe Biden Lebih Brutal

AKURAT.CO Debat ketiga Pilpres 2024 yang berlangsung, pada Minggu (7/1/2024) menunjukkan adanya pertukaran pendapat yang tajam.
Bahkan, Presiden Joko Widodo menganggap bahwa debat terakhir tersebut kurang edukatif.
Anies dan Prabowo saling menyampaikan kritik dan saling menuduh terkait sejumlah isu, termasuk kode etik, kepemilikan tanah, dan alat utama sistem senjata (alutsista) Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Meskipun begitu, atmosfer di Istora Senayan terlihat lebih bersahabat dibandingkan debat capres di beberapa negara seperti Amerika Serikat (AS) dan Rusia.
Debat Capres Donal Trump dengan Joe Biden
Pada debat Capres Pemilu AS tahun 2020 antara Donald Trump dan Joe Biden, suasana saat itu benar-benar kehilangan kendali.
Presiden Donald Trump terus berbicara tanpa henti, memberikan tekanan, menghina, mengejek dan mengkritik baik lawannya maupun moderator.
"Maukah kamu diam, sahabat?" tanya Biden merespons semua ejekan Trump.
Trump bahkan tanpa ragu dan tidak meresponsnya.
Tidak hanya itu,Trump menyebut lawannya sebagai orang bodoh, mencemarkan nama baik keluarganya dan menyusun teori konspirasi yang tidak masuk akal tentang berbagai hal, mulai dari pemerintahan Obama hingga pemilu yang akan datang.
Terkait COVID-19, Biden mengkritik pendekatan Trump dalam menangani pandemi tersebut.
"Banyak orang yang telah meninggal dan akan ada lebih banyak lagi yang meninggal kecuali dia menunjukkan kebijaksanaan yang lebih besar," jelas Biden dalam debatnya.
"Kamu menggunakan kata 'bijaksana'?" kata Trump tajam sambil menunjuk pada catatan akademis Biden yang hampir setengah abad lalu.
"Tidak ada kebijaksanaan yang bisa ditemukan pada dirimu, Joe," tambahnya.
Salah satu momen perdebatan yang paling mencolok adalah respons Trump terhadap pertanyaan mengenai kekerasan supremasi kulit putih.
Alih-alih menarik diri dari tuduhan bahwa ia mendukung supremasi kulit putih dan berniat mengganggu pemilu, Trump justru mengambil sikap yang lebih tegas.
"Proud Boys, mundur dan bersiaplah," ucapnya dengan langsung merujuk pada kelompok kebencian yang kontroversial.
Seperti yang sering dilakukannya selama kampanye, Trump berusaha menyampaikan ide bahwa Biden merupakan tawanan dari kelompok "radikal kiri".
Biden menangkis serangan tersebut, menyatakan bahwa ia tidak mendukung penghapusan asuransi kesehatan swasta atau pengurangan dana untuk kepolisian serta menunjukkan bahwa ia telah menerima kritik atas pandangan sentrisnya selama pemilihan pendahuluan Partai Demokrat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










