Diplomasi Prabowo ke Rusia dan Prancis Tegaskan Politik Bebas Aktif Indonesia

AKURAT.CO Langkah diplomasi Presiden Prabowo Subianto melalui kunjungan ke Rusia dan Prancis dinilai mencerminkan komitmen Indonesia terhadap prinsip politik luar negeri bebas aktif.
Di saat yang sama, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin juga melakukan kunjungan kerja ke Amerika Serikat (AS) dan menjalin kesepakatan di sektor pertahanan.
Rangkaian kunjungan ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan global, khususnya pasca memanasnya konflik antara Iran, Israel, dan AS.
Diketahui, Rusia memiliki kedekatan dengan Iran. Sementara itu, hubungan Prancis dengan AS juga tengah mengalami dinamika, terutama terkait sikap dalam NATO yang tidak sepenuhnya sejalan dalam merespons konflik dengan Iran.
Direktur Geopolitik Great Institute, Teguh Santosa, menilai langkah diplomasi pemerintah Indonesia bukan untuk memihak atau memperkeruh situasi, melainkan untuk mengamankan kepentingan nasional.
“Saya pikir justru ini sejalan dengan politik bebas aktif kita. Karena kita bukan pihak yang bertikai, tentu saja hal pertama yang disiapkan dari pemerintah kita adalah mengamankan kepentingan nasional kita,” kata Teguh, Rabu (15/4/2026).
Baca Juga: Penataan Halaman Gedung Sate, Dedi Mulyadi Pastikan Aktivitas Warga Lebih Lancar
Menurutnya, kunjungan Presiden Prabowo dan Menhan Sjafrie juga menunjukkan tingginya penerimaan Indonesia di mata dunia internasional.
Di sisi lain, ia menilai Indonesia perlu terus memperkuat kerja sama dengan berbagai negara, termasuk dalam sektor pertahanan.
“Dengan kerja sama ini, peluang Indonesia untuk mengembangkan sistem alutsista menjadi lebih signifikan dan serius,” ujarnya.
Selain itu, Teguh memandang kunjungan tersebut juga memiliki dimensi ekonomi, sebagai upaya menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tekanan global.
Karena itu, ia menilai tidak tepat jika kunjungan tersebut dianggap sebagai langkah untuk menyeimbangkan hubungan Indonesia dengan China yang telah terjalin selama ini.
“Menurut saya tidak ada kaitannya dengan upaya menyeimbangkan kedekatan dengan Tiongkok selama 10 tahun terakhir,” jelasnya.
Ia menegaskan, seluruh langkah diplomasi tersebut murni ditujukan untuk melindungi kepentingan nasional, sehingga kecil kemungkinan memicu respons negatif dari negara-negara yang tengah berkonflik.
“Saya yakin tidak akan ada respons negatif juga dari Iran,” pungkasnya.
Baca Juga: Program Gentengisasi Hidupkan Kembali UMKM Genteng di Purwakarta
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









