Akurat Logo

Jelang 2029, Jokowi Returns Jadi Titik Panas Pertarungan PDIP dan PSI

Ayu Rachmaningtyas | 1 Juni 2026, 13:33 WIB
Jelang 2029, Jokowi Returns Jadi Titik Panas Pertarungan PDIP dan PSI
Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).

AKURAT.CO Ketegangan politik antara PDI Perjuangan (PDIP) dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat.

Polemik kedua partai kembali mencuat menjelang agenda "Jokowi Returns", yakni rencana Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) melakukan kunjungan ke berbagai daerah bulan ini.

Pengamat politik, Adi Prayitno, menilai, saling sindir yang terus terjadi antara PDIP dan PSI merupakan kelanjutan dari rivalitas politik yang telah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir. Bahkan, menurutnya, konflik tersebut berpotensi berlangsung sangat panjang.

"Selama Jokowi masih menjadi figur yang diperhitungkan dalam politik nasional, gesekan antara PDIP dan PSI akan terus muncul. Sulit memprediksi kapan konflik ini benar-benar berakhir," kata Adi kepada Akurat.co, Minggu (31/5/2026).

Menurut Adi, salah satu pemicu terbaru adalah munculnya dugaan bahwa agenda keliling daerah yang akan dilakukan Jokowi bukan sekadar kegiatan silaturahmi, melainkan bagian dari konsolidasi politik menuju Pemilu 2029.

Ia menilai sebagian kalangan membaca langkah tersebut sebagai upaya memperkuat jaringan politik sekaligus membuka jalan bagi PSI agar memiliki posisi lebih kuat pada kontestasi mendatang.

"Rencana blusukan Jokowi dipersepsikan sebagian pihak sebagai bagian dari konsolidasi politik untuk memperbesar peluang PSI menembus parlemen pada 2029," ujarnya.

Namun di sisi lain, Adi melihat PDIP memiliki pandangan berbeda. Partai berlambang banteng itu dinilai tidak lagi menganggap pengaruh politik Jokowi sebesar ketika masih menjabat sebagai presiden.

Baca Juga: Prabowo dan Megawati Satu Forum di Hari Lahir Pancasila, PDIP: Saatnya Bicara Arah Strategis Indonesia

Pandangan tersebut, kata dia, berkaca pada hasil Pemilu 2024 ketika PSI tetap gagal lolos ke DPR meskipun mendapat dukungan terbuka dari Jokowi.

"Di mata PDIP, dukungan Jokowi tidak otomatis mampu mendongkrak elektabilitas sebuah partai. Pengalaman Pemilu 2024 menjadi salah satu alasannya," jelas Adi.

Sementara itu, PSI tetap meyakini Jokowi masih memiliki daya tarik politik yang kuat di tengah masyarakat.

Karena itu, setiap kritik yang diarahkan kepada mantan kepala negara tersebut kerap mendapat respons balik dari partai yang kini dipimpin Kaesang Pangarep.

Ketegangan juga semakin terasa setelah sejumlah elite PDIP kembali menyinggung polemik ijazah Jokowi.

Mereka meminta Jokowi menunjukkan dokumen tersebut secara terbuka agar perdebatan yang berkembang di ruang publik tidak terus berlanjut.

Namun, menurut Adi, PSI menilai isu tersebut tidak memiliki relevansi politik yang signifikan dan lebih banyak bersifat polemik semata.

"PDIP menganggap persoalan itu perlu diselesaikan secara terbuka, sementara PSI melihatnya tidak memiliki bobot politik yang cukup kuat. Perbedaan cara pandang ini membuat perdebatan terus berulang," katanya.

Adi menilai saling bantah antara kedua partai menjadi indikasi bahwa rivalitas politik masih jauh dari kata selesai.

Berbagai isu yang melibatkan Jokowi berpotensi kembali menjadi arena pertarungan narasi menjelang Pemilu 2029.

Baca Juga: Dua Lipa Resmi Menikah dengan Callum Turner, Gelar Pernikahan Tertutup di Kota London

"Selama Jokowi masih memiliki pengaruh dalam percaturan politik nasional, maka perdebatan antara PDIP dan PSI sangat mungkin terus muncul dalam berbagai momentum politik ke depan," pungkasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.