AKURAT.CO Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati, mengungkapkan akan melakukan investigasi mendalam terkait penurunan indeks kinerja manufaktur atau Prompt Manufacturing Index (PMI) Bank Indonesia, yang mencatatkan angka 51,97% pada kuartal II-2024. Angka ini menunjukkan penurunan dari 52,80% pada kuartal sebelumnya. Penurunan ini menjadi perhatian utama karena dapat mempengaruhi kinerja ekonomi nasional.
Kemudian, Sri Mulyani menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang akan diperiksa dalam penyelidikan ini, khususnya yang berkaitan dengan permintaan produk manufaktur domestik. Salah satu faktor penting adalah penurunan permintaan, baik dari sisi ekspor yang mengalami pelemahan musiman maupun dari persaingan dengan produk-produk impor.
"Kami akan fokus pada analisis permintaan dari sisi konsumen. Terutama untuk barang-barang konsumsi, kami akan melakukan investigasi lebih lanjut," ujarnya dalam konferensi pers KSSK di Gedung LPS pada Jumat (2/8/2024).
Selanjutnya, Sri Mulyani menambahkan bahwa tren penurunan ekspor di negara-negara lain juga mempengaruhi kinerja manufaktur Indonesia. Meskipun demikian, dia menyoroti adanya indikator positif dari sektor non-manufaktur.
"Indeks PMI yang mengukur sektor manufaktur, seperti tekstil dan alas kaki, tidak sepenuhnya mencerminkan seluruh sektor manufaktur di Indonesia, seperti hilirisasi dan CPO. Kami akan menilai dampaknya terhadap ekonomi secara keseluruhan," ungkapnya.
Selain itu, ia juga menyebutkan bahwa indeks kepercayaan bisnis mengalami kenaikan yang signifikan, mencapai level tertinggi sejak Februari. Pada kuartal II-2024, indeks kepercayaan bisnis berada di 17,2 poin, meningkat dari 14,11 poin pada kuartal I-2024.
"Kenaikan ini menunjukkan adanya optimisme dari pelaku usaha untuk meningkatkan produksi, dengan harapan pasar akan lebih kuat di tahun depan," kata Sri Mulyani.
Serta ia berharap bahwa penurunan PMI ini hanya bersifat sementara dan akan segera membaik. Dia berkomitmen untuk mendukung kebijakan yang dapat meningkatkan daya saing pelaku usaha domestik.
"Jika masalahnya terkait dengan persaingan produk impor, kami akan menerapkan kebijakan fiskal untuk menanggulanginya," tegasnya.
Sehingga, Sri Mulyani memastikan bahwa pihaknya akan terus memantau data dan merumuskan kebijakan yang efektif untuk mendukung perbaikan kinerja industri hingga akhir tahun. "Kami akan menjaga agar kontraksi ini tidak berkepanjangan dan berharap adanya perbaikan dalam perekonomian global yang dapat mendukung PDB hingga akhir tahun," tandas Sri Mulyani.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal










