Bos Freeport: Biaya Kerusakan Akibat Kebakaran Smelter Gresik Tembus USD130 Juta
Camelia Rosa | 20 Februari 2025, 16:29 WIB

AKURAT.CO Direktur Utama PT Freeport Indonesia (PTFI), Tony Wenas mengungkapkan total biaya kerusakan akibat kebakaran yang terjadi pada fasilitas pengolahan dan pemurnian atau smelter Gresik, Jawa Timur beberapa waktu lalu mencapai USD130 juta.
Tony menuturkan, seluruh total biaya kerusakan tersebut ditanggung penuh oleh asuransi, yang juga telah menerbitkan surat pada Desember 2024 lalu dan sudah disampaikannya kepada pemerintah melalui Kementerian ESDM.
"Dan kalau kita lihat dampak finansialnya, karena dengan tidak bisa berproduksinya smelter tersebut, konsentrat yang kami produksi di Papua itu hanya 40 persen yang bisa dikonsumsi oleh PT Smelting di Gresik sehingga sisanya memang menjadi idle," jelasnya saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (20/2/2025).
Dalam kesempatan yang sama, Tony juga menargetkan proses perbaikan rampung pada Juni 2025. Bahkan ia menyampaikan pihaknya telah mendatangkan sejumlah peralatan aar perbaikan bisa berjalan dengan lancar.
"Dan saya informasikan bahwa minggu yang lalu itu sudah tiba ada tiga Boeing 747 kargo yang memuat peralatan itu tiba di Surabaya, peralatannya sekitar 30 ton lebih, dan juga ada pesawat Antonov yang kami sewa juga untuk sudah tiba di Surabaya membawa peralatan," tuturnya.
Diakui Tony, hal ini menunjukkan bahwa pihaknya memang betul-betul ingin mempercepat proses perbaikan ini.
"(Karena) kalau kita angkut naik kapal laut akan lama sekali, sehingga kita bawa peralatannya dengan menggunakan pesawat terbang. Dan rencananya testing atau commissioning, dan pre-commissioning dari fasilitas perbaikan ini akan mulai pertengahan Maret sampai dengan minggu ketiga bulan Juni," terang Tony.
Oleh sebab itu, dirinya optimis pihaknya bisa menyelesaikan semua perbaikan pada minggu ketiga bulan Juni 2025.
"Jadi kami sangat yakin sekali kami bisa menyelesaikan semuanya di minggu ketiga bulan Juni, dan mulai bisa ramp up produksi di minggu keempat bulan Juni sebesar dengan kapasitas masih 40 persen, kemudian di Agustus 50 persen, September 60 persen, Oktober 70 persen, November 80 persen, baru 100 persen di Desember," tukas Tony.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








