Tren Baru Affiliate Marketing, Konsumen Beralih dari Konten Hiburan ke Edukasi

AKURAT.CO Laporan terbaru bertajuk "E-commerce Influencer Marketing in Southeast Asia" oleh Impact.com dan Cube mengungkap fakta baru soal pemasaran afiliasi (affiliate marketing).
Berdasarkan survei ke lebih dari 2.400 konsumen, kreator, dan pakar industri di 6 pasar Asia Tenggara (Singapura, Indonesia, Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Filipina), ada pergeseran perilaku konsumen di Asia Tenggara.
"Hiburan tetap menjadi alasan utama konsumen berinteraksi dengan konten influencer, namun tujuan untuk belajar kini semakin penting, dengan 77 persen responden mencari hiburan dan 64 persen ingin mempelajari hal baru," ujar Adam Furness, Managing Director APAC, impact.com dalam keterangannya, Minggu (20/7/2025).
Hal ini seiring brand dan kreator menghadapi ekspektasi konsumen yang semakin tinggi akan orisinalitas, nilai, dan relevansi.
Alhasil, kepercayaan terhadap influencer terus menurun seiring audiens semakin jenuh dengan paparan berlebihan dan konten yang tidak otentik, dengan penurunan sebesar 7% dari 2024 dalam keputusan pembelian.
Baca Juga: Permate Affiliate Marketplace, Untuk Mereka Yang Berani Berubah
Dimana hanya 59% responden yang mengaku terpengaruh oleh mega influencer atau influencer dengan lebih dari 1 juta pengikut.
"Micro dan nano influencer mengalami penurunan yang lebih kecil, menunjukkan bahwa persepsi keaslian mereka cenderung tetap terjaga di tengah penurunan kepercayaan secara keseluruhan," ujarnya lagi.
Temuan menarik lainnya, konten shoppable juga terbukti sangat efektif dalam mendorong pembelian, dengan tautan produk yang dibagikan kreator (31%) serta promosi yang dijalankan platform (30%) mengungguli promosi brand atau unggahan influencer tanpa tautan pembelian langsung.
Baca Juga: Peluang Jadi Influencer Berkomisi, Pengguna ‘Tokopedia Affiliate Program’ Melonjak Lima Kali Lipat
"Penetrasi media sosial terus meningkat di wilayah ini, dengan Facebook (91 persen) dan YouTube (89 persen) mempertahankan tingkat penggunaan tertinggi, dimana YouTube menduduki peringkat pertama pada keterlibatan dengan konten influencer dan selebritas," tukas Adam.
Seiring berkembangnya preferensi konsumen di Asia Tenggara, brand perlu beralih dari model influencer tradisional dan metrik yang semu, menuju kemitraan jangka panjang yang benar-benar memengaruhi perilaku pembelian.
Pemasaran berbasis kinerja menjadi inti keberhasilan brand dalam menjangkau dan memengaruhi konsumen. Strategi seperti investasi pada model afiliasi kini menjadi fondasi pertumbuhan yang berkelanjutan dan dapat diskalakan, dan tren ini semakin terlihat di seluruh kawasan.
"Penelitian tahun ini juga menegaskan pentingnya membangun koneksi dengan kreator secara otentik untuk menghasilkan dampak yang terukur," tegas Adam.
Temuan lain dalam laporan ini termasuk:
Munculnya Segmen Key Opinion Sellers (KOS)
KOS muncul sebagai segmen kreator yang berbeda dan berkembang pesat. Tren ini terutama terlihat di platform seperti TikTok Shop, di mana 9 dari 10 kreator TikTok teratas di Thailand merupakan KOS.
Pertumbuhan Signifikan Affiliate Marketing
Konsumen semakin banyak yang membeli melalui kreator afiliasi, dengan lebih dari 83% responden melaporkan bahwa mereka pernah melakukan pembelian melalui tautan afiliasi.
Penggunaannya bervariasi di setiap kategori, dengan lebih dari setengah responden membeli produk kecantikan (62%) dan fesyen (54%) melalui penjual afiliasi.
Keterlibatan yang Kuat di Marketplace
Marketplace seperti TikTok Shop, Shopee, dan Lazada menawarkan komisi mulai dari 4 hingga 13%, dengan kategori kecantikan secara konsisten memberikan komisi tertinggi.
Hal ini menunjukkan bahwa marketplace menjadi saluran yang menarik bagi kreator afiliasi, dengan 34% konsumen menemukan produk melalui marketplace, diikuti oleh situs web brand (32%) dan channel influencer (31%).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










