Gantikan LPG Impor, Wamen ESDM Harap Proyek DME Jalan Tahun Depan

AKURAT.CO Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengharapkan proyek hilirisasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) dapat dieksekusi dalam waktu dekat.
Adapun, DME diketahui menjadi opsi untuk menggantikan LPG dan mengurangi angka impor LPG. Proyek ini juga masuk kedalam 18 proyek hilirisasi yang dicangkan oleh Pemerintah.
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung mengatakan pihaknya telah menyampaikan dokumen pre-feasibility study (FS) 18 proyek hilirisasi yang didalamnya ada proyek DME telah diserahkan kepada Danantara.
Baca Juga: Susul China, Korea dan Eropa Minati Proyek DME RI
“Jadi kan juga lagi diselesaikan itu bagaimana dari pra-FS yang disiapkan oleh Kementerian ESDM, itu nanti akan dilihat kembali sampai detail FS dievalusi oleh Danantara,” kata Yuliot di Kementerian ESDM, Jumat (7/11/2025).
Yuliot menjelaskan, setelah masuk pra FS proyek ini tidak akan langsung berjalan dan memulai konstruksi bangunan.
Sebab, masih ada serangkaian tahapan fundamental yang harus dipenuhi sebagai prasyarat pembangunan, seperti penyiapan lahan, perolehan izin, hingga berbagai proses administratif lainnya.
“Itu kan dari FS, itu kan ada penyiapan lahan, perizinan, itu kan proses itu kan harus tetap dilakukan,” ujarnya.
Yuliot menambahkan, pihaknya mengharapkan proyek hilirisasi emas hitam RI menjadi DME ini dapat terealisasi pada tahun depan.
“Iya kita harapkan lebih cepat, lebih baik kalau bisa eksekusinya tahun depan itu sudah bisa dilaksanakan,” tambah Yuliot.
Diberitakan sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menargetkan proyek hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) akan mulai dijalankan pada tahun depan.
Proyek ini menjadi salah satu dari 18 proyek strategis hilirisasi yang telah diselesaikan konsep dan pra-feasibility study (pra-FS)-nya oleh Satuan Tugas (Satgas) Hilirisasi.
Bahlil mengatakan, hasil pra-FS tersebut kini sedang dipelajari oleh konsultan untuk difinalisasi oleh BPI Danantara.
“Sekarang, dari pra FS itu dipelajari oleh konsultan untuk finalisasi di Danantara. Dari sekian banyak, 18 project itu salah satunya adalah DME,” kata Bahlil di Hotel Kempinski dikutip, Minggu (26/10/2025).
Bahlil menjelaskan, proyek DME menjadi salah satu prioritas utama karena dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor liquefied petroleum gas (LPG).
Saat ini, konsumsi LPG nasional mencapai sekitar 8,5 juta ton per tahun, sementara kapasitas produksi dalam negeri hanya sekitar 1,3 juta ton.
“Jadi kita impor sekitar 6,5 sampai 7 juta ton. Nah caranya bagaimana mengurangi impor adl kita melahirkan substitusi impor melalui hilirisasi batubara,” ucapnya.
Lebih lanjut, Bahlil menegaskan bahwa proyek DME akan mulai digarap pada tahun depan. Saat ini, pemerintah masih dalam tahap menentukan teknologi yang paling efisien untuk proses konversi batu bara menjadi DME.
“Tahun depan (ditargetkan jalan). Mitranya nanti dengan Danantara, teknologinya kan macam-macam ya, bisa dari China, bisa juga dari Eropa,” jelas Bahlil.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










