Hadapi Risiko Geopolitik hingga Siber, PIS Siapkan Strategi Ini

AKURAT.CO PT Pertamina International Shipping (PIS) menegaskan komitmennya memperkuat tata kelola risiko dan ketahanan bisnis (business resilience) di tengah meningkatnya kompleksitas operasional pelayaran komoditas energi.
Upaya ini ditempuh untuk menghadapi risiko geopolitik, serangan siber, hingga volatilitas pasar energi global.
VP Risk Strategy & Governance PIS, Nico Dhamora, memaparkan terdapat empat tantangan risiko utama yang dihadapi PIS.
Tantangan pertama adalah Regulatory and Safety Compliance. Risiko ini krusial karena kapal-kapal PIS beroperasi di berbagai negara dengan standar regulasi yang berbeda. Selain itu, keandalan aset (kapal) harus dijaga.
Tantangan kedua, geopolitical tension, memiliki dampak langsung pada operasional. Nico mencontohkan insiden yang pernah terjadi di Teluk Hormuz.
Baca Juga: PIS Salurkan Bantuan Korban Bencana Aceh-Sumut-Sumbar Lewat Program Pertamina Peduli
"Saya ingat sekali ada satu kapal kita yang ada di Teluk Hormuz ketika Israel menyerang Qatar, dan pada saat itu benar-benar menjadikan bahwa konteks geopolitik itu menjadi valid," kata Nico dalam gelaran E2S Energy Update 2025, Rabu (10/12/2025).
Kemudian, tantangan ketiga adalah keamanan siber, yang kini menjadi risiko nyata. Nico mencontohkan kejadian GPS jamming akibat serangan drone di kawasan Teluk Hormuz. Untuk mengantisipasinya, PIS mengombinasikan keahlian navigasi manual pelaut berpengalaman dengan kontrak multi-vendor GPS.
Lalu, tantangan keempat adalah volatilitas pasar energi, di mana fluktuasi harga minyak global turut memengaruhi biaya sewa kapal (tanker charter rate) dan berdampak pada pertumbuhan bisnis perusahaan.
Dalam upaya mengelola risiko, PIS menerapkan kerangka Governance Center Risk Management dengan empat fokus utama, sejalan dengan kerangka Pertamina Grup dan Permen BUMN No. 2 Tahun 2023.
Nico menekankan pentingnya Structural Oversight dengan menerapkan Three Lines of Defense dan memperkuat Internal Control serta Segregation of Duties. PIS menempatkan fungsi manajemen risiko sebagai Second Line of Defense (pengawas).
"Tujuannya adalah memastikan bahwa semua First Line (pemilik bisnis proses) menjalankan tata kelola yang baik, sehingga nanti teman-teman Third Line (Internal Audit) beban mereka dalam melakukan assurance tidak berat," ujarnya.
Fokus kedua, kata Nico adalah Business Resilience dengan menerapkan Business Continuity Management System (BCMS). PIS tidak hanya membuat prosedur, tetapi juga menumbuhkan culture kesadaran krisis di kalangan pekerja.
Pada aspek digitalisasi, PIS memaksimalkan data historis sebagai early warning system melalui platform Shipping Early Warning Insight System (SEWIS). Sistem ini menjadi alat cepat bagi kantor pusat untuk memberi pandangan strategis kepada tim di lapangan.
"Head Office harusnya adalah Head Office yang memberikan pandangan langsung kepada teman-teman beroperasi di sana. Dan saya menjadikan digitalisasi ini sebagai quick win," tutur Nico.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









