Tembus Rp19 Triliun, Kontribusi Ekonomi Pelaku Usaha di KEK Setara 0,3 Persen PDB

AKURAT.CO Sekretariat Jenderal Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) mencatat kontribusi Nilai Tambah Bruto (NTB) pelaku usaha (perusahaan) yang berada di Kawasan Ekonomi Khusus mencapai Rp19,6 triliun atau setara 0,32% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada kuartal III-2025 lalu.
Data tersebut berdasarkan hasil analisis Badan Pusat Statistik (BPS) atas data yang diterima dari 536 Pelaku Usaha (PU) yang berada di 25 KEK. Capaian tersebut disampaikan dalam kegiatan “Launching dan Sosialisasi Petunjuk Teknis Pengisian Data Pelaporan Kuartal IV Tahun 2025 dalam Sistem Aplikasi KEK”, yang digelar di Jakarta, Jumat (9/1/2025).
Acara tersebut dilakukan secara virtual (daring) dengan mengundang seluruh Perwakilan BPS Provinsi dan Kabupaten/Kota, seluruh Administrator, BUPP (Pengelola KEK), dan Pelaku Usaha (Perusahaan) di KEK dari seluruh Indonesia.
Baca Juga: Kemenperin Godok Kawasan Industri Tematik Jadi PSN dan KEK
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso selaku Ketua Tim Pelaksana pada Dewan Nasional KEK dalam sambutan menegaskan bahwa penguatan kontribusi ekonomi KEK didukung oleh kolaborasi strategis dengan BPS dalam penyediaan, pemanfaatan, dan pengolahan data statistik kawasan.
Kerja sama ini telah dilakukan sejak penyediaan data pada kuartal II-2025 yang lalu dan terus berlanjut sampai saat ini untuk data kuartal IV-2025. Kolaborasi ini juga dimaksudkan untuk mendukung agenda nasional Sensus Ekonomi 2026 yang akan dilaksanakan pada bulan Mei hingga Juli 2026.
Pada pelaporan kuartal III-2025 yang lalu, sebanyak 505 Badan Usaha dan Pelaku Usaha KEK telah berpartisipasi dalam pengisian data melalui webform Sistem Aplikasi KEK yang dikembangkan bersama Lembaga National Single Window (LNSW) dengan pendampingan teknis dari BPS.
Berdasarkan hasil pengolahan data tersebut, BPS mencatat 205 perusahaan KEK memiliki NTB (Nilai Tambah Bruto) yang dapat dihitung. Selain kontribusi nasional, data juga menunjukkan potensi yang sangat signifikan terhadap PDRB Provinsi, khususnya di Aceh, Kepulauan Riau, dan Kalimantan Selatan.
Dari sisi struktur usaha, sekitar 78,15% NTB untuk KEK berasal dari sektor Industri Pengolahan, diikuti sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum, serta Aktivitas Real Estate yang menegaskan peran KEK sebagai motor industrialisasi dan pencipta nilai tambah ekonomi.
Seiring dengan peningkatan kualitas pendataan dan validasi, jumlah Pelaku Usaha KEK juga terus bertambah. Hingga saat ini, terdapat penambahan 31 Pelaku Usaha yang telah memiliki Nomor Pelaku Usaha (NPU), sehingga total Pelaku Usaha KEK meningkat menjadi 536 pelaku usaha.
“Melalui Sistem Aplikasi KEK, pelaporan data dilakukan secara terintegrasi dan konsisten. Pelaku Usaha di KEK perlu memiliki akun pada sistem tersebut dan berkoordinasi dengan Administrator KEK untuk memastikan proses pelaporan berjalan optimal,” ujar Plt. Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Rizal Edwin Manansang.
Sementara itu, Susiwijono juga menegaskan bahwa penguatan sinergi dan integrasi data antara KEK dengan BPS merupakan bagian dari agenda strategis nasional untuk mendorong penguatan ekonomi nasional.
“Kolaborasi antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, BPS, LNSW, Administrator KEK, serta BUPP dan Pelaku Usaha di KEK, menjadi kunci untuk menghadirkan data yang lengkap, akurat, kredibel, dan relevan, sebagai dasar penghitungan pertumbuhan ekonomi dan untuk pengambilan kebijakan ekonomi nasional dan daerah,” jelas Susiwijono.
Kegiatan ini dilaksanakan secara rutin setiap triwulan dalam rangka penghitungan PDB Nasional setiap kuartal tahun berjalan dan dihadiri secara virtual (daring) oleh para Perwakilan BPS seluruh Indonesia, LNSW, Administrator KEK, Badan Usaha Pembangun dan Pengelola (BUPP), Pelaku Usaha di KEK, Kementerian/Lembaga terkait, serta dari Pemerintah Daerah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









