Stok Beras RI Tembus 27,9 Juta Ton, Ketahanan Pangan RI di Level 324 Hari

AKURAT.CO Pemerintah memastikan kondisi ketahanan pangan Indonesia, khususnya stok beras nasional, berada dalam kondisi aman untuk hampir satu tahun ke depan.
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa, ketersediaan beras saat ini cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga 324 hari atau sekitar 10,8 bulan ke depan.
Data terbaru per Maret 2026 menunjukkan bahwa stok beras nasional mencapai 27,99 juta ton, jauh di atas rata-rata kebutuhan konsumsi nasional yang berada di kisaran 2,59 juta ton per bulan.
Baca Juga: Harga Pangan Mulai Stabil, Bapanas Klaim IPH Februari 2026 Membaik
Dengan tingkat produksi beras yang mampu mencapai hingga 5,7 juta ton per bulan, pemerintah menilai pasokan pangan domestik tetap kuat meskipun dunia tengah menghadapi ketidakpastian geopolitik dan ancaman perubahan iklim seperti El Nino.
Amran menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan pangan nasional dalam waktu dekat.
“Kalau kita lihat data hari ini, ketersediaan pangan kita sangat aman. Total stok beras nasional cukup untuk 324 hari ke depan atau sekitar 10,8 bulan, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir,” kata Amran dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Jumat (6/3/2026).
Produksi Beras Nasional Lampaui Konsumsi
Kinerja produksi beras nasional menjadi salah satu faktor utama yang menjaga stabilitas pasokan pangan. Pemerintah mencatat produksi beras berada di kisaran 2,6 juta hingga 5,7 juta ton per bulan, lebih tinggi dibandingkan rata-rata konsumsi nasional sebesar 2,59 juta ton per bulan.
Amran menilai kondisi ini menjadi indikator bahwa sektor pertanian Indonesia masih mampu bertahan menghadapi berbagai tekanan global.
“Produksi kita tetap terjaga. Bahkan dalam beberapa bulan produksi bisa mencapai 5,7 juta ton, sehingga pasokan domestik sangat kuat,” ujarnya.
Berdasarkan proyeksi pemerintah, pada periode Januari hingga Mei 2026, produksi beras nasional diperkirakan mencapai sekitar 16,92 juta ton. Angka ini menunjukkan tren produksi yang relatif stabil di tengah berbagai tantangan sektor pertanian.
Stok Beras Nasional Hampir 28 Juta Ton
Jika dirinci, total 27,99 juta ton ketersediaan beras nasional berasal dari beberapa sumber utama. Stok yang dikelola oleh Perum Bulog tercatat sebesar 3,76 juta ton, sementara stok yang berada di masyarakat mencapai sekitar 12,50 juta ton.
Selain itu, terdapat standing crop atau padi siap panen sebesar 11,73 juta ton, yang akan memperkuat suplai beras nasional dalam waktu dekat.
Pemerintah memperkirakan cadangan beras pemerintah akan semakin meningkat seiring masuknya musim panen raya di sejumlah daerah.
“Kita perkirakan dalam dua bulan ke depan stok Bulog bisa mencapai 5 juta ton. Ini akan semakin memperkuat cadangan pangan pemerintah,” jelas Amran.
Pompanisasi Lahan 2,2 Juta Hektare
Di tengah potensi musim kering dan fenomena iklim global, pemerintah juga menyiapkan berbagai strategi untuk menjaga produktivitas pertanian.
Salah satu langkah utama yang dilakukan adalah program pompanisasi lahan pertanian. Tahun lalu pemerintah telah melakukan pompanisasi pada 1,2 juta hektare lahan, dan pada tahun 2026 program tersebut akan diperluas hingga 1 juta hektare tambahan.
Selain pompanisasi, pemerintah juga menyiapkan program irigasi perpompaan (irpom) untuk 1 juta hektare lahan guna memastikan pasokan air bagi tanaman padi tetap terjaga.
“Potensi kekeringan sudah kita antisipasi sejak awal melalui pompanisasi. Tahun lalu sudah 1,2 juta hektare, dan tahun ini kita tambah lagi 1 juta hektare agar produksi tetap terjaga,” ungkap Amran.
Surplus Ayam dan Telur, Harga Pupuk Turun 20 Persen
Tidak hanya beras, pemerintah juga memastikan sejumlah komoditas pangan lainnya berada dalam kondisi surplus. Produk protein hewani seperti ayam dan telur dilaporkan memiliki ketersediaan yang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.
Di sisi lain, faktor produksi pertanian juga dinilai semakin mendukung. Amran menyebutkan bahwa ketersediaan pupuk nasional berada dalam kondisi aman, bahkan harga pupuk tercatat mengalami penurunan sekitar 20 persen.
Penurunan harga tersebut diyakini mampu meningkatkan motivasi petani untuk memperluas penanaman.
“Pupuk cukup dan bahkan harganya turun sekitar 20 persen. Ini menjadi motivasi besar bagi petani untuk terus menanam,” kata Amran.
Ketahanan Pangan RI Diklaim Tahan Gejolak Global
Pemerintah juga menilai kondisi pangan Indonesia relatif stabil meskipun dunia tengah menghadapi dinamika geopolitik global serta ancaman perubahan iklim.
Menurut Amran, tingginya produksi dan kuatnya cadangan pangan domestik membuat Indonesia tidak terlalu terpengaruh oleh ketidakpastian global.
“Kita tidak terlalu terpengaruh dengan kondisi geopolitik global maupun potensi El Nino. Produksi kita kuat, stok kita aman,” tegasnya.
Selain itu, optimalisasi lahan rawa yang telah direhabilitasi juga menjadi strategi tambahan untuk menjaga produksi beras saat musim kering. Lahan tersebut dinilai tetap produktif meskipun pasokan air di wilayah lain mengalami penurunan.
Dengan kombinasi stok yang besar, produksi yang stabil, serta program antisipasi iklim, pemerintah optimistis ketahanan pangan nasional tetap terjaga sepanjang tahun.
Amran menegaskan pemerintah akan terus memperkuat cadangan pangan sekaligus menjaga stabilitas produksi untuk memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi.
“Insya Allah pangan kita aman. Produksi kuat, stok cukup, dan berbagai langkah antisipasi sudah kita lakukan,” ujar Amran.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini











