Pemerintah Kebut Ratifikasi IEU-CEPA, DItarget Efektif 1 Januari 2027

AKURAT.CO Pemerintah Indonesia dan Uni Eropa mulai memasuki fase krusial penyelesaian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menargetkan proses ratifikasi perjanjian dagang tersebut dapat rampung pada semester II-2026 sehingga implementasinya bisa dimulai pada awal 2027.
Target tersebut disepakati dalam pertemuan bilateral antara Airlangga dan Komisioner Perdagangan Uni Eropa Maros Sefcovic di sela agenda Brussels Economic Security Forum di Brussel, Belgia, Jumat (5/6/2026).
Baca Juga: Ada IEU-CEPA, Banyak Komoditas Unggulan Sumbar Berpotensi Masuk ke Pasar Eropa
"Kami menargetkan proses ratifikasi IEU-CEPA dapat diselesaikan pada semester II-2026 sehingga implementasinya dapat dimulai pada awal 2027," kata Airlangga dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (7/6/2026).
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas langkah-langkah lanjutan guna memastikan seluruh tahapan ratifikasi berjalan sesuai jadwal.
Pembahasan juga mencakup persiapan menjelang kunjungan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen bersama Komisioner Perdagangan Uni Eropa Maros Sefcovic ke Jakarta dalam waktu mendatang.
Salah satu poin paling strategis dalam IEU-CEPA adalah penghapusan tarif perdagangan pada sekitar 98% pos tarif antara Indonesia dan Uni Eropa. Bagi Indonesia, fasilitas tersebut akan memberikan akses tarif nol persen bagi sebagian besar produk ekspor nasional ke pasar Eropa.
Data Kementerian Perdagangan menunjukkan Uni Eropa merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia. Nilai perdagangan Indonesia-Uni Eropa pada 2025 mencapai lebih dari USD30 miliar dengan tren yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Produk unggulan Indonesia yang diekspor ke kawasan tersebut antara lain minyak sawit, alas kaki, tekstil, produk perikanan, furnitur, karet, serta berbagai produk manufaktur bernilai tambah.
Dengan penghapusan hambatan tarif, produk Indonesia diperkirakan memiliki daya saing yang lebih tinggi dibandingkan negara pesaing yang belum memiliki perjanjian dagang serupa dengan Uni Eropa.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan volume ekspor sekaligus memperluas penetrasi pasar bagi pelaku industri nasional.
Kesepakatan ini juga menandai babak baru dalam perjalanan negosiasi yang telah berlangsung cukup panjang. Perundingan IEU-CEPA pertama kali dimulai pada 2016 dan telah melalui berbagai putaran negosiasi selama hampir satu dekade.
Berbagai isu strategis seperti perdagangan barang, jasa, investasi, keberlanjutan lingkungan hingga standar industri menjadi bagian dari pembahasan kedua belah pihak.
Selain membahas IEU-CEPA, Airlangga dan Maros turut mendiskusikan peluang kerja sama investasi melalui program Global Gateway Uni Eropa.
Program tersebut diarahkan untuk mendukung berbagai proyek strategis, termasuk investasi infrastruktur dan pengembangan sektor mineral kritis.
"Kami juga membahas peluang kerja sama investasi melalui berbagai program strategis, termasuk pengembangan sektor mineral kritis yang menjadi perhatian kedua pihak," ujar Airlangga.
Pembahasan sektor mineral kritis menjadi penting mengingat Indonesia tengah mempercepat program hilirisasi sumber daya alam.
Pemerintah berupaya meningkatkan nilai tambah komoditas strategis seperti nikel, bauksit, tembaga, dan timah melalui pengolahan di dalam negeri.
Di sisi lain, Uni Eropa membutuhkan pasokan mineral kritis yang stabil untuk mendukung transisi energi, pengembangan kendaraan listrik, baterai, serta industri teknologi hijau.
Kesamaan kepentingan tersebut dinilai membuka ruang kolaborasi investasi yang lebih besar pada masa mendatang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Ramalan Shio Asmara 7 Juni 2026 Terbaru: Tikus Makin Romantis, Naga Penuh Pesona, Harimau Berpeluang Jatuh Cinta
- 10Ramalan Zodiak Keuangan 7 Juni 2026: Leo, Aquarius, Aries, dan Pisces










