Akurat Logo

B50 Resmi Jalan, Mampukah Sawit Nasional Memenuhi Kebutuhan?

Lukman Nur Hakim Akurat.co | 10 Juli 2026, 13:43 WIB
B50 Resmi Jalan, Mampukah Sawit Nasional Memenuhi Kebutuhan?
Program B50 resmi dimulai dengan target hemat devisa Rp170 triliun. Namun produksi sawit yang stagnan dinilai menjadi tantangan terbesar menuju ketahanan energi.

AKURAT.CO Pemerintah resmi memulai babak baru transisi energi nasional melalui implementasi Program Mandatori Biodiesel B50.

Kebijakan yang mewajibkan pencampuran 50% biodiesel berbahan baku minyak sawit ke dalam solar itu digadang-gadang menjadi tonggak menuju kemandirian energi sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM).

Presiden Prabowo Subianto meresmikan implementasi B50 didampingi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Kamis (9/7/2026).

Pemerintah menargetkan kebijakan tersebut mampu menghemat devisa hingga sekitar Rp170 triliun pada 2026, meningkatkan nilai tambah industri sawit, menyerap jutaan tenaga kerja, sekaligus menekan emisi gas rumah kaca.

Baca Juga: Prabowo Ingin Petani Jadi Pihak Paling Diuntungkan dari Program Biodiesel B50

Di atas kertas, manfaat ekonomi yang dijanjikan memang terlihat besar. Namun di balik optimisme tersebut muncul pertanyaan yang lebih mendasar.

"Apakah Indonesia memiliki pasokan minyak sawit yang cukup untuk menopang program B50 tanpa mengganggu ekspor maupun kebutuhan pangan?"

Pertanyaan itulah yang kini menjadi tantangan sesungguhnya bagi keberlanjutan program biodiesel nasional.

Seperti yang diketahui bersama, selama beberapa tahun terakhir ini Indonesia berhasil meningkatkan mandatori biodiesel secara bertahap, mulai dari B20, B30, B35, hingga B40.

Dimana setiap kenaikan campuran biodiesel memang terbukti meningkatkan konsumsi crude palm oil (CPO) di dalam negeri dan mengurangi impor solar.

Namun berbeda dengan tahap-tahap sebelumnya, implementasi B50 membutuhkan tambahan pasokan CPO yang jauh lebih besar.

Di saat bersamaan, produksi sawit nasional justru tidak menunjukkan pertumbuhan signifikan.

Kondisi tersebut membuat keberhasilan B50 tidak lagi hanya ditentukan oleh kesiapan kilang biodiesel atau distribusi BBM, tetapi juga oleh kemampuan sektor hulu meningkatkan produktivitas perkebunan sawit.

Dalam pernyataannya, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia memastikan pemerintah telah melakukan berbagai pengujian sebelum menerapkan B50 secara nasional.

Menurutnya, pengujian dilakukan selama enam bulan pada enam sektor pengguna mesin diesel, mulai dari kendaraan bermotor, alat berat pertambangan, alat mesin pertanian, kapal, pembangkit listrik, hingga kereta api.

Ia mengatakan hasil uji menunjukkan B50 tetap kompatibel dengan berbagai jenis mesin, termasuk kendaraan produksi Eropa.

"Ini tes case-nya enam bulan. Jadi kereta api, mobil-mobil Mercedes pun dites bahkan bus. Jadi tidak hanya Toyota saja, Mercedes pun juga oke. Jadi ini dari Asia sampai Eropa semua kita bikin. Kapal-kapal semuanya kita tes," ujar Bahlil.

Baca Juga: Luncurkan Biodiesel B50, Prabowo: Indonesia Jadi Sorotan Dunia karena Pimpin Pengurangan Emisi Karbon

Diketahui, pemerintah memperkirakan implementasi B50 mampu meningkatkan penghematan devisa dari sekitar Rp133,3 triliun pada program B40 menjadi sekitar Rp170 triliun pada 2026.

Selain itu, nilai tambah industri sawit diproyeksikan meningkat menjadi sekitar Rp23,49 triliun, penyerapan tenaga kerja mencapai sekitar 2,1 juta orang, serta penurunan emisi karbon meningkat menjadi sekitar 44,46 juta ton CO2.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.