Indonesia Punya Potensi Panas Bumi Terbesar di Dunia, Mengapa Pemanfaatannya Masih Lambat?

AKURAT.CO Indonesia memiliki kekayaan energi yang tidak terlihat dari permukaan. Di balik pegunungan vulkanik yang membentang dari Sumatra hingga Nusa Tenggara, tersimpan panas bumi yang disebut memiliki potensi terbesar di dunia. Namun, besarnya potensi tersebut belum otomatis membuat Indonesia menjadi negara dengan kapasitas pembangkit panas bumi terbesar.
Paradoks ini kembali menjadi perhatian dalam Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 di Jakarta. Pemerintah dan pelaku industri sama-sama menyoroti satu persoalan: Indonesia punya sumber panas bumi melimpah, tetapi pemanfaatannya masih belum optimal.
Presiden Asosiasi Panas Bumi Indonesia (INAGA/API) Julfi Hadi bahkan menyebut sekitar 88 persen cadangan panas bumi Indonesia belum termanfaatkan. Angka tersebut memperlihatkan bahwa pekerjaan terbesar sektor geothermal bukan lagi sekadar mencari sumber energi, melainkan mengubah potensi yang tersimpan di bawah tanah menjadi proyek nyata.
Mengapa Pemanfaatan Potensi Panas Bumi Indonesia Masih Lambat?
Pemanfaatan potensi panas bumi Indonesia masih menghadapi banyak tantangan karena sumber daya tersebut harus melewati proses eksplorasi, pengeboran, pembangunan pembangkit, perizinan, pembiayaan, hingga koneksi ke jaringan listrik. Artinya, potensi geologi yang besar tidak otomatis berubah menjadi kapasitas listrik. Risiko eksplorasi dan kebutuhan investasi juga membuat pengembangan geothermal membutuhkan kepastian proyek yang kuat.
Seberapa Besar Potensi Panas Bumi Indonesia?
Indonesia disebut memiliki potensi panas bumi terbesar di dunia karena kondisi geologisnya sangat mendukung keberadaan sumber energi tersebut. Posisi Indonesia di kawasan Cincin Api Pasifik membuat negara ini memiliki banyak gunung api dan wilayah dengan aktivitas vulkanik yang dapat menjadi sumber panas bumi.
Dalam pembukaan IIGCE 2026, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia kembali menyoroti besarnya potensi tersebut.
“Tantangan terbesar kita ada pada kecepatan eksekusi dan regulasi. Kita punya cadangan nomor satu dunia, tapi utilisasi masih nomor dua," ujar Bahlil melalui catatan tertulis IIGCE yang diterima AKURAT.CO, dikutip Rabu, 19 Agustus 2026.
Pernyataan tersebut menunjukkan paradoks utama geothermal Indonesia. Negara ini memiliki sumber daya yang sangat besar, tetapi kapasitas pemanfaatannya belum berada di posisi pertama dunia.
Dengan kata lain, persoalannya bukan hanya berapa banyak panas yang tersedia, tetapi seberapa cepat panas tersebut bisa dikembangkan menjadi energi yang dapat digunakan.
Hal ini penting karena kata “potensi” sering kali membuat pembaca membayangkan seluruh sumber daya tersebut siap dipakai. Padahal, proses dari potensi menjadi listrik membutuhkan banyak tahapan.
Mengapa Potensi Besar Tidak Otomatis Menjadi Listrik?
Sebuah wilayah yang memiliki indikasi panas bumi tidak bisa langsung dibangun menjadi pembangkit listrik.
Secara sederhana, prosesnya dapat digambarkan seperti ini:
Potensi → eksplorasi → pembuktian sumber daya → pengeboran → studi keekonomian → pembangunan proyek → pembangkit → listrik masuk sistem.
Setiap tahap memiliki risiko dan kebutuhan biaya sendiri.
Misalnya, keberadaan panas di bawah tanah belum otomatis berarti pengembang mendapatkan reservoir yang secara teknis dan ekonomis ideal. Kondisi bawah permukaan harus dipelajari dan dibuktikan melalui kegiatan eksplorasi.
Di sinilah perbedaan antara potensi, cadangan, dan kapasitas terpasang menjadi penting.
Potensi menggambarkan besarnya peluang sumber energi. Cadangan berkaitan dengan sumber daya yang dapat dikembangkan berdasarkan kondisi tertentu. Sementara kapasitas terpasang menunjukkan pembangkit yang benar-benar sudah dibangun dan mampu menghasilkan listrik.
Jadi, ketika Indonesia disebut memiliki potensi panas bumi terbesar di dunia, angka tersebut tidak boleh langsung disamakan dengan jumlah listrik yang siap digunakan.
Eksplorasi Panas Bumi Mengandung Risiko Besar
Salah satu tantangan yang membuat pengembangan geothermal tidak bisa dilakukan secara instan adalah kondisi sumber energinya yang berada di bawah permukaan.
Pengembang perlu mengetahui karakter reservoir, temperatur, tekanan, keberadaan fluida, serta kondisi geologi sebelum menentukan apakah suatu proyek layak dilanjutkan.
Masalahnya, informasi tersebut tidak selalu bisa diketahui dengan kepastian penuh hanya melalui survei awal.
Pengeboran menjadi tahap penting untuk membuktikan kondisi bawah tanah. Namun, pengeboran juga membutuhkan biaya besar dan mengandung risiko. Jika hasil eksplorasi tidak sesuai perkiraan, pengembang dapat menghadapi kerugian sebelum pembangkit menghasilkan satu pun kilowatt listrik.
Inilah salah satu alasan mengapa membandingkan potensi geothermal dengan kapasitas terpasang secara langsung bisa menyesatkan.
Panasnya mungkin tersedia, tetapi memastikan panas tersebut bisa dimanfaatkan secara ekonomis adalah persoalan yang berbeda.
Regulasi dan Kecepatan Eksekusi Juga Menjadi Tantangan
Selain persoalan teknis, pemerintah melihat regulasi dan kecepatan eksekusi sebagai faktor penting.
Bahlil mengatakan pemerintah siap mempermudah perizinan dan memberikan insentif agar kerja sama antara regulator dan pelaku usaha berjalan lebih cepat.
“Pemerintah siap mempermudah perizinan dan memberikan insentif konkret agar kerja sama antara regulator dan pelaku usaha berjalan selaras.”
Masalah regulasi dalam proyek geothermal menjadi penting karena investasi membutuhkan kepastian dalam jangka panjang.
Pengembang harus mempertimbangkan masa eksplorasi, pembangunan pembangkit, pengembalian modal, serta kepastian proyek setelah pembangkit beroperasi. Semakin besar ketidakpastian yang harus ditanggung, semakin besar pula tantangan untuk menarik investasi.
Karena itu, percepatan geothermal bukan sekadar memangkas jumlah dokumen perizinan. Yang dibutuhkan adalah ekosistem regulasi yang membuat pengembang dapat memperkirakan risiko dan keuntungan proyek dengan lebih jelas.
Pengeboran Membutuhkan Modal Sebelum Pembangkit Menghasilkan Uang
Bayangkan sebuah perusahaan menemukan wilayah yang diperkirakan memiliki sumber panas bumi besar.
Di atas peta, proyek tersebut terlihat menjanjikan. Namun, perusahaan belum bisa langsung menjual listrik.
Mereka harus melakukan survei, mengebor sumur, membuktikan reservoir, menghitung cadangan yang dapat dikembangkan, membangun fasilitas produksi, mendirikan pembangkit, kemudian menghubungkannya dengan jaringan listrik.
Artinya, modal harus keluar jauh sebelum pendapatan dari listrik dapat diperoleh.
Karakter tersebut membuat proyek panas bumi memiliki profil risiko yang berbeda dari sekadar membangun fasilitas pembangkit di lokasi yang kondisi sumber energinya sudah lebih mudah diprediksi.
Semakin tinggi risiko pada tahap awal, semakin penting peran kebijakan pemerintah dalam mengurangi risiko tersebut agar proyek menjadi menarik bagi investor.
Baca Juga: Alasan Indonesia Memiliki Potensi Energi Panas Bumi yang Besar
Baca Juga: Apa Manfaat Energi Panas Bumi? Kenali Keunggulan dan Perannya sebagai Energi Terbarukan
Mengapa Panas Bumi Penting sebagai Baseload?
Di tengah persoalan tersebut, panas bumi memiliki keunggulan yang membuatnya tetap strategis dalam transisi energi.
Panas bumi dapat digunakan sebagai sumber listrik baseload, yakni pembangkit yang mampu menyediakan pasokan listrik secara relatif stabil dan kontinu.
Karakter ini berbeda dengan sumber energi yang produksinya sangat bergantung pada kondisi alam seperti intensitas matahari atau kecepatan angin.
Julfi Hadi menilai karakter tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pengembangan geothermal perlu dipercepat.
“Sebagai sumber baseload hijau yang andal 24/7, akselerasi panas bumi bukan hanya mengunci swasembada energi, tetapi juga menjadi katalis pertumbuhan ekonomi hingga 8% melalui pengembangan ekosistem manufaktur dan rantai pasok lokal.”
Pernyataan mengenai pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen tersebut merupakan pandangan yang disampaikan Julfi. Namun, gagasan mengenai rantai pasok lokal memiliki implikasi yang lebih luas.
Pembangunan geothermal membutuhkan jasa pengeboran, engineering, peralatan pembangkit, konstruksi, pemeliharaan, hingga berbagai teknologi pendukung. Jika sebagian kebutuhan tersebut dapat dipenuhi industri dalam negeri, manfaat pengembangan panas bumi tidak berhenti pada listrik.
Panas Bumi Tidak Harus Berhenti di Pembangkit Listrik
Ada satu peluang yang sering luput ketika panas bumi hanya dilihat sebagai sumber listrik, yakni pemanfaatan langsung panas.
Bahlil mendorong konsep beyond electricity agar energi geothermal dapat digunakan untuk berbagai aktivitas industri.
“Kita juga mendorong optimalisasi potensi beyond electricity, mulai dari pengeringan hasil tani seperti kopi hingga kebutuhan industri petrokimia, guna mengunci target bauran energi nasional minimal 15% pada 2050 mendatang," ujar Bahlil.
Konsep tersebut membuka perspektif berbeda.
Jika panas bumi hanya digunakan untuk menghasilkan listrik, nilai ekonominya terutama bergantung pada kapasitas pembangkit dan penjualan listrik. Namun, ketika panas tersebut juga dimanfaatkan langsung untuk pertanian dan industri, muncul sumber nilai ekonomi baru.
Peluangnya dapat mencakup:
pengeringan hasil pertanian;
pengolahan pangan;
kebutuhan panas industri;
petrokimia;
green hydrogen;
amonia;
data center;
berbagai aplikasi direct use.
Perkembangan industri juga mulai mengarah ke pemanfaatan teknologi digital. IIGCE 2026 menyoroti advanced drilling, AI, IoT, pemeliharaan prediktif, brine management, pemulihan mineral, hingga infrastruktur digital sebagai bagian dari ekosistem geothermal.
Artinya, masa depan panas bumi bukan hanya tentang membangun lebih banyak PLTP, tetapi juga bagaimana setiap bagian dari sumber daya tersebut menghasilkan nilai tambah.
Apa Arti 88 Persen Cadangan Panas Bumi Belum Dimanfaatkan?
Julfi Hadi menyebut sekitar 88 persen cadangan panas bumi Indonesia belum termanfaatkan.
“Indonesia memiliki potensi panas bumi terbesar di dunia, namun sekitar 88% cadangannya belum termanfaatkan.”
Angka ini merupakan pernyataan Julfi dan perlu dibaca dalam konteks yang tepat.
88 persen tersebut bukan berarti 88 persen listrik yang seharusnya sudah tersedia saat ini. Angka tersebut juga tidak berarti seluruh sumber tersebut siap langsung dibangun menjadi pembangkit.
Justru angka itu memperlihatkan besarnya pekerjaan yang masih harus dilakukan untuk mengubah sumber daya geothermal menjadi proyek yang layak.
Dalam konteks inilah istilah “pemanfaatan” menjadi penting. Ada jarak panjang antara mengetahui bahwa suatu daerah memiliki sumber panas bumi dan membuat pembangkit yang benar-benar menghasilkan listrik secara komersial.
Apa yang Harus Berubah untuk Mengejar Target 30 GW?
Indonesia membutuhkan kombinasi antara kebijakan, teknologi dan investasi jika ingin meningkatkan pemanfaatan geothermal secara signifikan.
Julfi Hadi menyebut kepastian izin wilayah kerja panas bumi menjadi salah satu kunci.
“Sinergi antara pemerintah, pengembang IPP, dan kepastian izin WKP baru adalah kunci merealisasikan target 30 GW.”
Di sisi pemerintah, Eniya Listiani Dewi juga menyebut target kapasitas 5,2 GW dalam upaya memperkuat bauran energi hijau nasional.
“Dari kontribusi 2,2% saat ini, kami memacu akselerasi proyek agar target 5,2 GW dapat segera terealisasi untuk memperkuat bauran energi hijau nasional," katanya.
Kedua angka tersebut harus dipahami sesuai konteks pernyataan masing-masing. Target 30 GW yang disampaikan Julfi dan target 5,2 GW yang dipaparkan Eniya bukan angka yang otomatis dapat dibandingkan sebagai satu target yang sama.
Yang lebih penting adalah pesan di balik keduanya: pemerintah dan industri melihat masih terdapat ruang besar untuk meningkatkan kapasitas geothermal.
IIGCE 2026 Menunjukkan Industri Geothermal Mulai Berubah
IIGCE 2026 yang berlangsung 19–21 Agustus di Jakarta International Convention Center (JICC) tidak hanya mempertemukan perusahaan pembangkit dan pemerintah.
Forum tersebut juga mempertemukan investor, penyedia teknologi, operator, akademisi, serta pelaku rantai pasok geothermal. Agenda resmi IIGCE 2026 mencantumkan keterlibatan Julfi Hadi dan Bahlil Lahadalia dalam rangkaian acara utama.
Perubahan tersebut penting karena persoalan geothermal Indonesia memang tidak bisa diselesaikan hanya oleh satu pihak.
Pemerintah membutuhkan pengembang. Pengembang membutuhkan investor. Investor membutuhkan kepastian regulasi. Sementara seluruh ekosistem membutuhkan teknologi dan pasar yang mendukung.
Dengan kata lain, potensi panas bumi terbesar di dunia tidak akan banyak berarti jika rantai dari eksplorasi hingga pemanfaatan tidak bergerak bersama.
Kesimpulan: Indonesia Tidak Kekurangan Panas Bumi
Persoalan utama panas bumi Indonesia sebenarnya bukan kekurangan sumber energi.
Indonesia memiliki sumber geothermal yang besar, tetapi tantangan muncul ketika sumber tersebut harus diubah menjadi proyek yang layak secara teknis, ekonomis, dan regulasi.
Ada risiko eksplorasi. Ada biaya pengeboran. Ada kebutuhan investasi. Ada persoalan perizinan. Ada kebutuhan jaringan listrik. Ada pula tuntutan agar industri lokal ikut mendapatkan nilai tambah.
Karena itu, pertanyaan tentang geothermal Indonesia seharusnya tidak berhenti pada “seberapa besar potensinya?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Seberapa cepat Indonesia mampu mengubah potensi tersebut menjadi energi yang benar-benar mengalir, industri yang tumbuh, dan manfaat ekonomi yang dirasakan?”
Momentum 100 tahun pengembangan panas bumi membuat pertanyaan itu semakin relevan. Jika hambatan dari hulu hingga hilir dapat dikurangi, kekayaan panas bumi Indonesia tidak lagi sekadar menjadi angka besar di atas kertas, tetapi bisa menjadi salah satu fondasi ketahanan energi nasional.
Baca Juga: Kementerian ESDM Ungkap Potensi Panas Bumi RI yang Baru Terpakai 11,6 Persen
Baca Juga: Lelang Bakal Lebih Ringkas, Kementerian ESDM Revisi Aturan Panas Bumi
FAQ
Apakah Indonesia memiliki potensi panas bumi terbesar di dunia?
Indonesia disebut memiliki potensi panas bumi terbesar di dunia oleh sejumlah pemangku kepentingan sektor geothermal. Besarnya potensi tersebut didukung kondisi geologi Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik. Namun, potensi besar tidak otomatis sama dengan kapasitas pembangkit yang telah terpasang.
Mengapa pemanfaatan panas bumi Indonesia masih lambat?
Pemanfaatan panas bumi Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk risiko eksplorasi, biaya pengeboran yang besar, kebutuhan investasi, perizinan, kepastian wilayah kerja, keekonomian proyek, dan ketersediaan infrastruktur kelistrikan. Karena itu, pengembangan geothermal membutuhkan waktu dan kepastian yang lebih panjang dibanding sekadar membangun fasilitas pembangkit.
Apa kendala utama pengembangan panas bumi Indonesia?
Kendala utama pengembangan panas bumi meliputi ketidakpastian pada tahap eksplorasi, tingginya kebutuhan modal awal, proses perizinan, kepastian proyek, pembangunan pembangkit, serta koneksi ke jaringan listrik. Pemerintah dan industri juga menilai kecepatan eksekusi perlu ditingkatkan agar potensi geothermal dapat lebih cepat dimanfaatkan.
Mengapa panas bumi disebut sebagai energi baseload?
Panas bumi disebut sebagai energi baseload karena pembangkit geothermal dapat menghasilkan listrik secara relatif stabil dan kontinu. Karakter tersebut membuatnya penting dalam sistem energi yang membutuhkan pasokan listrik andal dan tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi cuaca.
Apakah panas bumi hanya digunakan untuk menghasilkan listrik?
Tidak. Panas bumi juga dapat dimanfaatkan secara langsung untuk kebutuhan di luar pembangkitan listrik atau beyond electricity. Contohnya antara lain pengeringan hasil pertanian seperti kopi, kebutuhan industri, petrokimia, hingga pengembangan berbagai aplikasi baru seperti hidrogen hijau dan amonia.
Berapa target kapasitas panas bumi Indonesia?
Dalam narasi IIGCE 2026, Julfi Hadi menyebut target 30 GW, sedangkan Eniya Listiani Dewi memaparkan target 5,2 GW dalam konteks percepatan kapasitas yang sedang didorong pemerintah. Kedua angka tersebut disampaikan dalam konteks berbeda sehingga tidak dapat dianggap sebagai satu target yang sama.
Apa yang harus dilakukan agar potensi panas bumi Indonesia lebih cepat dimanfaatkan?
Percepatan membutuhkan kombinasi kebijakan dan investasi, mulai dari pengurangan risiko eksplorasi, kepastian wilayah kerja, penyederhanaan perizinan, insentif, teknologi pengeboran, pembangunan infrastruktur, hingga penguatan rantai pasok dalam negeri. Pemanfaatan panas bumi di luar listrik juga dapat membuka sumber nilai ekonomi baru.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 4Drone Buatan Inggris Dipakai Ukraina, Rusia Mengancam: Semakin Terlibat, Semakin Tinggi Harga yang Harus Dibayar!
- 520 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 8BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 9Prabowo dan Jokowi Kompak di Peringatan HUT RI, Gerindra: Hal yang Wajar
- 10Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk








