Pesanan Online Shop Indonesia Melonjak 56 Kali Lipat sejak 2020, E-Commerce Masuk Fase Baru

AKURAT.CO Enam tahun setelah pandemi COVID-19 mengubah kebiasaan masyarakat berbelanja, skala perdagangan digital Indonesia telah berkembang jauh lebih besar. Data internal SIRCLO menunjukkan pesanan online shop pada Juni 2026 meningkat sekitar 56 kali lipat dibandingkan Januari 2020.
Lonjakan tersebut memperlihatkan betapa cepatnya belanja online beralih dari kebiasaan baru selama pandemi menjadi bagian dari aktivitas konsumsi sehari-hari. Namun, pertumbuhan volume pesanan kini membawa tantangan yang berbeda. Industri tidak cukup hanya mengejar transaksi lebih banyak, tetapi juga perlu memastikan distribusi pasar, efisiensi operasional, teknologi, dan akses konsumen berkembang secara bersamaan.
Ringkasan
Pesanan online shop Indonesia meningkat sangat tajam dalam enam tahun terakhir karena pandemi mempercepat adopsi belanja digital, sementara perkembangan platform, logistik, konten, pembayaran, dan teknologi membuat kebiasaan tersebut terus bertahan setelah pandemi. Data internal SIRCLO mencatat volume pesanan Juni 2026 sekitar 56 kali lipat dibandingkan Januari 2020.
Angka tersebut penting karena menunjukkan perubahan yang lebih besar daripada sekadar bertambahnya jumlah transaksi. Konsumen Indonesia semakin terbiasa menemukan produk, membandingkan harga, berinteraksi dengan penjual, hingga menyelesaikan pembelian melalui kanal digital.
Pandemi menjadi salah satu pemicu utama. Ketika mobilitas masyarakat dibatasi, belanja online menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Setelah aktivitas ekonomi kembali normal, kebiasaan tersebut tidak serta-merta menghilang.
Sebaliknya, ekosistem perdagangan digital justru semakin beragam.
Konsumen kini tidak hanya mengandalkan marketplace. Produk dapat ditemukan melalui video pendek, live streaming, konten kreator, tautan affiliate, hingga rekomendasi di berbagai kanal digital.
Perubahan itu membuat perjalanan konsumen semakin kompleks. Seseorang bisa saja awalnya tidak berniat berbelanja, kemudian melihat konten kreator, tertarik pada produk, menonton live streaming, membandingkan harga, dan akhirnya melakukan transaksi.
Dengan demikian, lonjakan 56 kali lipat perlu dibaca sebagai indikasi bahwa cara masyarakat Indonesia menemukan dan membeli produk telah berubah secara struktural.
Apakah Pertumbuhan E-Commerce Hanya Terjadi di Jabodetabek?
Pertumbuhan e-commerce Indonesia juga mulai memperlihatkan perubahan geografis. Aktivitas perdagangan digital yang sebelumnya banyak terkonsentrasi di Jabodetabek kini semakin menyebar ke wilayah lain.
Data internal SIRCLO menunjukkan jumlah pesanan dari luar Jabodetabek mulai melampaui Jabodetabek pada Juni 2024. Setelah itu, volumenya meningkat lebih dari tiga kali lipat hingga Juni 2026.
Perubahan tersebut memberikan sinyal bahwa pusat permintaan dalam perdagangan digital tidak lagi sesederhana sebelumnya.
Jika konsumen di berbagai daerah semakin aktif berbelanja online, tantangan berikutnya bukan sekadar bagaimana mendapatkan pesanan, tetapi bagaimana mendekatkan produk kepada konsumen.
Persoalan tersebut berkaitan erat dengan logistik dan fulfillment. Barang yang dikirim dari lokasi yang jauh membutuhkan waktu dan biaya lebih besar dibandingkan produk yang tersedia lebih dekat dengan pembeli.
SIRCLO menyebut kerja sama dengan jaringan distributor lokal sebagai titik fulfillment berpotensi mengurangi biaya pengiriman hingga 60% dan memangkas waktu pengiriman hingga 40%.
Angka tersebut merupakan potensi berdasarkan pendekatan yang dikembangkan SIRCLO, bukan berarti seluruh transaksi e-commerce Indonesia otomatis mengalami penurunan ongkos kirim sebesar 60%.
Sebagai ilustrasi, sebuah brand yang sebelumnya memusatkan seluruh stok di satu gudang besar dapat menghadapi persoalan ketika permintaan mulai tumbuh dari berbagai daerah. Pesanan dari luar pusat perdagangan akan menempuh perjalanan lebih panjang, sementara konsumen semakin terbiasa dengan pengiriman yang cepat.
Dalam kondisi seperti itu, penempatan stok lebih dekat dengan pusat permintaan dapat menjadi bagian dari strategi pertumbuhan, bukan hanya persoalan logistik.
Di sinilah pertumbuhan e-commerce mulai memiliki dimensi pemerataan ekonomi. Ketika permintaan digital tumbuh di luar pusat perdagangan utama, pelaku usaha lokal, distributor, dan mitra fulfillment dapat memperoleh peran yang semakin penting.
Baca Juga: Penipuan Catut Bea Cukai Di Online Shop, Awas Terkecoh!
Baca Juga: Viral Online Shop Jual Obat Herbal Paket Hemat, Sebotol Isi 2 Kapsul
Bagaimana Live Shopping dan Kreator Mengubah Cara Konsumen Belanja?
Pertumbuhan pesanan online shop juga berjalan beriringan dengan perubahan kanal perdagangan. Salah satu perkembangan paling menonjol adalah semakin kuatnya live streaming dan video commerce.
Data internal SIRCLO menunjukkan jumlah viewers live streaming pada Juni 2026 telah mencapai lebih dari 11 kali lipat dibandingkan Juli 2022. Pada periode yang sama, jumlah pesanan meningkat lebih dari delapan kali lipat.
Data tersebut menunjukkan bahwa live streaming bukan lagi sekadar sarana memperkenalkan produk. Kanal tersebut semakin mendekatkan aktivitas promosi dengan transaksi.
Dalam model belanja konvensional di marketplace, konsumen biasanya sudah memiliki kebutuhan tertentu sebelum mencari produk. Live commerce bekerja dengan pola yang berbeda.
Konten dapat menciptakan ketertarikan terlebih dahulu, kemudian interaksi dengan kreator atau penjual mendorong konsumen mempertimbangkan pembelian.
Perubahan itu semakin terlihat dari pertumbuhan kanal kreator dan affiliate. Sejak SIRCLO mulai mengukur performa kanal tersebut pada Oktober 2025, jumlah pesanan meningkat lebih dari 17 kali lipat hingga Juni 2026.
Artinya, kreator dan affiliate semakin memiliki posisi strategis dalam rantai perdagangan digital.
Mereka tidak hanya berperan sebagai pihak yang menyebarkan informasi produk. Dalam praktiknya, mereka dapat menjadi penghubung antara penemuan produk, pembentukan kepercayaan, dan transaksi.
Pergeseran ini juga mengubah kebutuhan brand. Kemampuan menjual produk tidak lagi cukup hanya mengandalkan katalog, harga, dan promosi. Brand perlu memahami tren konten, karakter audiens, kreativitas, serta cara mengubah perhatian menjadi pembelian.
Seberapa Besar Peran AI dalam Operasional E-Commerce?
Ketika volume pesanan semakin besar dan kanal perdagangan semakin beragam, persoalan berikutnya adalah bagaimana bisnis mengelola kompleksitas tersebut secara efisien.
AI mulai mengambil peran di titik ini.
SIRCLO mencatat pemanfaatan AI pada sejumlah workflow mampu menghemat waktu penyelesaian hingga 84,2% dalam aktivitas mingguan operasional e-commerce. Aktivitas tersebut antara lain pembaruan stok, pemantauan pesanan, persiapan promosi, dan pembaruan informasi produk di berbagai marketplace.
Potensi AI dalam konteks ini bukan sekadar menghasilkan konten secara otomatis. Teknologi tersebut juga dapat mengurangi pekerjaan berulang yang sebelumnya menyita waktu tim.
Bayangkan sebuah tim e-commerce yang harus memperbarui informasi produk di banyak marketplace secara berkala. Ketika jumlah produk dan transaksi semakin besar, pekerjaan administratif dapat menyerap waktu yang seharusnya digunakan untuk menganalisis performa penjualan.
Otomatisasi dapat mengurangi beban pekerjaan tersebut.
Waktu yang tersisa kemudian dapat digunakan untuk membaca data, mengevaluasi kampanye, menentukan produk yang perlu didorong, atau menyusun strategi perdagangan berikutnya.
Pada tingkat yang lebih strategis, AI juga dapat membantu menemukan pola performa, mengidentifikasi masalah, serta memberikan rekomendasi tindakan.
Generative AI bahkan memungkinkan brand membuat dan menguji lebih banyak variasi konten dalam waktu lebih singkat. Proses eksperimen menjadi lebih cepat karena perusahaan dapat menguji lebih banyak pendekatan sebelum menentukan format yang paling efektif.
Namun, AI tidak otomatis menjadi solusi tanpa prasyarat.
Teknologi akan lebih efektif jika perusahaan memiliki data yang baik, proses bisnis yang jelas, dan tata kelola yang memadai. Dengan kata lain, AI dapat memperkuat kapabilitas manusia, tetapi tidak menggantikan kebutuhan terhadap strategi dan pengambilan keputusan.
Apa yang Berubah Setelah Pesanan Online Shop Tumbuh 56 Kali Lipat?
Ada satu paradoks penting dari pertumbuhan e-commerce: semakin banyak pesanan yang masuk, semakin kompleks pula pekerjaan di belakang transaksi.
Bagi konsumen, sebuah transaksi mungkin hanya membutuhkan beberapa klik. Di belakangnya terdapat rangkaian proses yang melibatkan pengelolaan stok, pemrosesan pesanan, pembayaran, pengemasan, fulfillment, distribusi, pengiriman, layanan pelanggan, hingga pengelolaan data.
Karena itu, pertumbuhan 56 kali lipat tidak bisa hanya dilihat sebagai kabar baik mengenai peningkatan permintaan.
Pertumbuhan volume harus diikuti peningkatan kemampuan ekosistem untuk menangani volume tersebut.
Brand perlu memastikan stok tersedia. Platform perlu menjaga pengalaman transaksi. Distributor dan fulfillment harus mampu mengikuti persebaran permintaan. Perusahaan logistik perlu mengelola pengiriman dalam skala besar.
Kreator dan affiliate juga semakin berperan dalam menciptakan permintaan.
Pada saat yang sama, pemerintah dan regulator memiliki peran dalam membentuk lingkungan perdagangan digital melalui kepastian kebijakan, perlindungan konsumen, serta persaingan usaha yang sehat.
Inilah alasan mengapa masa depan e-commerce tidak cukup diukur dari jumlah transaksi.
Brian Marshal, Founder dan Chief Executive Officer SIRCLO, mengatakan, “Semangat Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur juga relevan dengan bagaimana kita melihat masa depan ekonomi digital Indonesia. Kontribusinya dalam mendukung kemakmuran tidak cukup diukur dari banyaknya transaksi, tetapi juga dari kemampuan ekosistem dalam merespons perubahan melalui adaptasi, inovasi, dan kolaborasi," ujar Brian melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, dikutip Rabu, 19 Agustus 2026.
Pernyataan tersebut menunjukkan perubahan fokus industri. Setelah fase pertumbuhan volume, tantangan berikutnya adalah menciptakan kualitas pertumbuhan.
Pertanyaannya bukan hanya berapa banyak produk yang terjual, tetapi siapa yang mendapatkan akses terhadap pertumbuhan tersebut, seberapa efisien produk dikirim, dan seberapa produktif bisnis mengelola transaksi.
Mengapa 2030 Menjadi Titik Penting bagi E-Commerce Indonesia?
Potensi pasar digital Indonesia masih jauh dari selesai. Laporan e-Conomy SEA 2025 yang disusun Google, Temasek, dan Bain & Company memproyeksikan Gross Merchandise Value atau GMV ekonomi digital Indonesia dapat mencapai sekitar US$340 miliar pada 2030. Dari angka tersebut, sektor e-commerce diperkirakan berkontribusi sekitar US$140 miliar.
Proyeksi itu memperlihatkan bahwa ruang pertumbuhan masih besar.
Namun, periode menuju 2030 kemungkinan tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat transaksi bertambah. Industri juga perlu beradaptasi dengan perubahan kanal, perilaku konsumen, teknologi, serta persebaran permintaan.
Ada empat fondasi yang menjadi semakin penting.
Pertama, kemampuan menavigasi kanal digital. Brand perlu memahami pergeseran dari marketplace menuju live commerce, video commerce, kreator, dan affiliate.
Kedua, pemerataan akses pasar. Pertumbuhan luar Jabodetabek menunjukkan kebutuhan terhadap sistem distribusi dan fulfillment yang mampu mengikuti persebaran konsumen.
Ketiga, pemanfaatan AI. Teknologi dapat meningkatkan produktivitas ketika digunakan untuk mengurangi pekerjaan berulang dan memperkuat analisis.
Keempat, kolaborasi ekosistem. Perdagangan digital melibatkan semakin banyak pihak yang saling bergantung, mulai dari brand hingga regulator.
Dengan demikian, periode 2026–2030 dapat menjadi fase ketika e-commerce Indonesia bergerak dari sekadar ekspansi volume menuju penguatan kualitas ekosistem.
Apa Arti Lonjakan Pesanan bagi Konsumen dan Pelaku Usaha?
Bagi konsumen, pertumbuhan e-commerce dapat berarti pilihan produk yang semakin luas, akses pasar yang lebih dekat, serta pengalaman belanja yang semakin terintegrasi dengan konten digital.
Bagi pelaku usaha, peluang pasarnya juga semakin besar. Namun, persaingan menjadi lebih kompleks karena perhatian konsumen tersebar di banyak kanal.
Brand yang hanya mengandalkan keberadaan produk di marketplace berpotensi tertinggal jika tidak memahami bagaimana konsumen menemukan produk.
Di sisi lain, pelaku usaha juga perlu berhati-hati agar pertumbuhan transaksi tidak membuat biaya operasional meningkat lebih cepat daripada pendapatan.
Di sinilah data, teknologi, dan distribusi menjadi semakin penting.
Pertumbuhan pesanan online shop pada akhirnya bukan hanya cerita tentang konsumen yang semakin sering berbelanja melalui internet. Ini juga merupakan cerita mengenai bagaimana bisnis Indonesia menyesuaikan diri dengan pasar yang semakin digital dan tersebar.
Brian Marshal menegaskan, “Potensi e-commerce Indonesia masih terbuka luas, tetapi cara kita menciptakan nilai akan terus berkembang seiring perubahan perilaku konsumen, teknologi, kanal, dan model bisnis. Karena itu, SIRCLO berkomitmen akan terus beradaptasi, berinovasi, dan berkolaborasi untuk mendukung perdagangan digital yang lebih relevan, terintegrasi, serta berkelanjutan menuju 2030.”
Pada akhirnya, angka 56 kali lipat menjadi penanda penting perjalanan e-commerce Indonesia. Akan tetapi, angka tersebut bukan garis akhir.
Pertanyaan yang lebih besar adalah apakah pertumbuhan volume transaksi dapat diterjemahkan menjadi ekosistem perdagangan yang lebih efisien, lebih merata, dan memberikan peluang ekonomi yang lebih luas.
Jika permintaan digital terus menyebar, kanal perdagangan semakin beragam, dan AI semakin terintegrasi dengan operasional bisnis, wajah e-commerce Indonesia pada 2030 kemungkinan akan sangat berbeda dibandingkan ketika pandemi pertama kali mendorong masyarakat berbelanja dari rumah.
Baca Juga: Pemprov DKI Mau Pajaki Ojol Dan Online Shop, Kemenkeu: Hati-hati Pajak Berganda
Baca Juga: Ganjar Ungkap Strategi Majukan UMKM Di Tengah Gempuran Online Shop
FAQ
Apa yang menyebabkan pesanan online shop Indonesia meningkat?
Pesanan online shop Indonesia meningkat karena pandemi mempercepat adopsi belanja digital, yang kemudian diperkuat oleh perkembangan marketplace, live streaming, video commerce, kreator, affiliate, pembayaran digital, serta jaringan logistik. Data internal SIRCLO menunjukkan jumlah pesanan pada Juni 2026 meningkat sekitar 56 kali lipat dibandingkan Januari 2020.
Seberapa besar pertumbuhan pesanan online shop sejak 2020?
Berdasarkan data internal SIRCLO, jumlah pesanan pada Juni 2026 meningkat sekitar 56 kali lipat dibandingkan Januari 2020. Pertumbuhan tersebut menunjukkan perubahan skala dan kebiasaan masyarakat dalam menggunakan kanal digital untuk menemukan serta membeli produk.
Apakah pertumbuhan e-commerce Indonesia hanya terjadi di Jabodetabek?
Tidak. Data internal SIRCLO menunjukkan jumlah pesanan dari luar Jabodetabek mulai melampaui Jabodetabek pada Juni 2024. Volumenya kemudian meningkat lebih dari tiga kali lipat hingga Juni 2026, yang menunjukkan semakin tersebarnya permintaan e-commerce ke berbagai wilayah Indonesia.
Apa peran live shopping dalam pertumbuhan e-commerce Indonesia?
Live shopping semakin berperan dalam menghubungkan konten, interaksi, dan transaksi. SIRCLO mencatat jumlah viewers live streaming pada Juni 2026 meningkat lebih dari 11 kali lipat dibandingkan Juli 2022, sementara jumlah pesanan meningkat lebih dari delapan kali lipat dalam periode yang sama.
Bagaimana kreator dan affiliate memengaruhi pesanan e-commerce?
Kreator dan affiliate semakin berperan dalam membantu konsumen menemukan produk sekaligus membentuk niat beli. Data internal SIRCLO menunjukkan jumlah pesanan dari kanal kreator dan affiliate meningkat lebih dari 17 kali lipat sejak pengukuran performanya dimulai pada Oktober 2025 hingga Juni 2026.
Bagaimana AI digunakan dalam bisnis e-commerce?
AI dapat digunakan untuk mengotomatisasi pekerjaan berulang seperti pembaruan stok, pemantauan pesanan, persiapan promosi, dan pembaruan informasi produk. SIRCLO mencatat pemanfaatan AI pada sejumlah workflow mampu menghemat waktu penyelesaian hingga 84,2%.
Berapa proyeksi nilai e-commerce Indonesia pada 2030?
Laporan e-Conomy SEA 2025 oleh Google, Temasek, dan Bain & Company memproyeksikan GMV ekonomi digital Indonesia mencapai sekitar US$340 miliar pada 2030. Sektor e-commerce diperkirakan menyumbang sekitar US$140 miliar dari nilai tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 3Drone Buatan Inggris Dipakai Ukraina, Rusia Mengancam: Semakin Terlibat, Semakin Tinggi Harga yang Harus Dibayar!
- 4Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 520 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 8BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 9Prabowo dan Jokowi Kompak di Peringatan HUT RI, Gerindra: Hal yang Wajar
- 10Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk








