Harga Minyak Dunia Terkoreksi, Pasar Tunggu Keputusan AS Soal Iran
AKURAT.CO Harga minyak mentah dunia turun lebih dari USD1 per barel pada perdagangan Senin, setelah investor melakukan aksi ambil untung menyusul kenaikan harga dalam dua pekan terakhir.
Dikutip dari Reuters, Senin (24/8//2026) kontrak berjangka minyak mentah Brent turun USD1,22 atau 1,29% menjadi USD93,17 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah USD1,20 atau 1,38% menjadi USD85,86 per barel.
Penurunan tersebut terjadi setelah kedua kontrak mencatat kenaikan mingguan untuk dua pekan berturut-turut. Harga Brent dan WTI masing-masing menguat lebih dari 5% pada pekan lalu.
Baca Juga: BULOG Siapkan 20 Ton Beras dan 1.000 Liter MinyakKita untuk Korban Gempa NTT
Kenaikan harga sebelumnya didorong kebuntuan perundingan damai antara AS dan Iran yang berpotensi mengganggu distribusi minyak melalui Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut biasanya menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Pasar kini menanti konferensi pers Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang dijadwalkan berlangsung pada hari ini. Bessent sebelumnya mengancam akan menjatuhkan sanksi terberat dalam sejarahterhadap Iran.
Presiden AS Donald Trump juga mengancam akan menjatuhkan sanksi terhadap negara-negara yang melakukan perdagangan dengan Iran.
Analis komoditas Commonwealth Bank of Australia, Vivek Dhar, mengatakan efektivitas kebijakan AS dalam mengisolasi Iran secara ekonomi masih menjadi pertanyaan bagi pasar.
“Belum jelas apakah kebijakan AS untuk mengisolasi Iran secara ekonomi akan terbukti efektif,” tulis Dhar dalam catatannya.
Menurutnya, apabila sanksi AS berhasil mencapai tujuannya, risiko respons Iran melalui peningkatan eskalasi konflik akan semakin diperhitungkan oleh pasar energi.
Iran sendiri telah mengecam rencana AS untuk menjatuhkan sanksi baru. Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyerukan penyelesaian secara diplomatik.
Sementara Analis IG Markets Tony Sycamore menilai dinamika internal Iran juga menjadi perhatian pasar minyak.
“Anggota kepemimpinan Iran yang lebih pragmatis mungkin lebih memilih untuk meredakan ketegangan, namun kelompok garis keras kemungkinan besar lebih memilih untuk terus melawan hingga titik darah penghabisan," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









