Pemerintah Dorong Industri Panel Surya RI untuk Tekan Biaya PLTS

AKURAT.CO Pemerintah mendorong penguatan industri panel surya dalam negeri untuk menekan biaya pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Langkah tersebut dinilai penting di tengah percepatan program PLTS berkapasitas 100 gigawatt (GW).
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Todotua Pasaribu mengatakan, Indonesia sebenarnya memiliki sebagian besar bahan baku yang dibutuhkan untuk membangun ekosistem industri panel surya.
“Kita ambil contoh dalam apa namanya sektor salah satu yang di energy green yang berbicara misalnya PLTS, solar panel 87 persen sebenarnya komponennya itu semuanya ada di kita, materialnya. Silika kita punya, kemudian aluminium,” kata Todotua dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia yang disiarkan di Youtube INDEF, Kamis (3/9/2026).
Baca Juga: Korban Akademi Crypto Diajari Investasi secara Total, Diminta Jual Rumah untuk Beli Altcoin
Meski memiliki basis bahan baku yang cukup besar, Todotua mengatakan tingkat kemampuan industri domestik untuk menyediakan komponen panel surya saat ini masih sekitar 55%–60%
Sejumlah komponen utama masih belum dapat diproduksi secara penuh di dalam negeri.
Dia mencontohkan polysilicon, silicon rod, hingga wafer yang masih menjadi tantangan dalam pengembangan rantai pasok panel surya domestik.
“Yang main-mainnya ini masih belum ada. Masih belum polysilicon, silicon rod-nya, dan lain-lain. Ini yang kita dorong,” ujarnya.
Todotua menuturkan, pengembangan industri komponen panel surya di dalam negeri menjadi bagian dari strategi hilirisasi untuk menekan biaya energi hijau.
Pasalnya, salah satu tantangan utama energi hijau saat ini adalah biaya yang masih relatif tinggi dibandingkan sumber energi konvensional.
“Sehingga kalau kita punya kemandirian dalam memproduksi solar panelnya. Sehingga kita bisa memitigasi cost terhadap green nya,” tutur Todotua.
Lebih lanjut, penguatan industri panel surya domestik dinilai semakin strategis seiring dengan percepatan program PLTS 100 GW yang telah dicanangkan pemerintah.
Todotua menyampaikan, pengembangan PLTS tidak hanya berkaitan dengan penyediaan panel surya, tetapi juga mencakup lahan dan berbagai komponen biaya lainnya. Karena itu, pemerintah perlu menekan biaya di seluruh rantai pengembangan agar listrik yang dihasilkan tetap kompetitif.
“penting bagi kita adalah untuk memitigasi all cost. Sehingga energi yang dihasilkan itu bisa murah atau kita bicara bisa kompetitif. Sehingga energi yang kompetitif ini dan energi green ini bisa dimanfaatkan dalam konsumsinya,” ucap Todotua.
Dia menilai aspek biaya menjadi semakin penting karena energi merupakan salah satu komponen utama dalam struktur biaya industri, terutama sektor manufaktur yang memiliki konsumsi listrik besar.
Karena itu, pemerintah tidak hanya mengejar penambahan kapasitas pembangkit energi terbarukan, tetapi juga mendorong terbentuknya ekosistem industri pendukung di dalam negeri.
“Kaitannya dengan hilirisasi adalah bagaimana ekosistem supply chain pendukung untuk menghasilkan supporting green energy ini yang kita bisa mitigasi. Sehingga kita bisa mengontrol cost sehingga punya daya saing yang bisa masuk di konsumsi ini baru bisa tumbuh,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









