keyakinan tersebut semakin kuat karena malam Satu Suro dikenal sebagai waktu yang hening dan sakral, sehingga dianjurkan untuk tetap berada di rumah.
6 Larangan Malam 1 Suro 2025, Tradisi dan Budaya yang Dipercaya Masyarakat Jawa!
Oktaviani | 25 Juni 2025, 17:50 WIB

AKURAT.CO Kenali beberapa larangan Malam 1 Suro yang diperingati pada Jumat, 27 Juni 2025, salah satu tradisi yang dikenal mistis.
Biasanya, peringatan Malam 1 Suro dilakukan usai salat Magrib sehari sebelum tanggal 1 Suro tiba.
Tradisi Malam 1 Suro ini sejalan dengan sistem penanggalan dalam kalender Jawa dan Islam yang menetapkan pergantian hari dimulai sejak matahari terbenam, berbeda dengan kalender Masehi yang menghitung hari baru mulai pukul 00.00.
Larangan-larangan yang sering dibahas di bulan Suro merupakan bagian menarik dari tradisi Jawa.
Baca Juga: Malam 1 Suro 2025 Jatuh Kapan? Ini Tanggal, Weton dan Wukunya
Banyak orang percaya bahwa ada beberapa larangan Malam 1 Suro yang sebaiknya dihindari agar membawa keselamatan. Namun, sebagian besar larangan tersebut tidak berasal dari ajaran Islam.
Dalam pandangan masyarakat Jawa, bulan Suro dianggap suci dan dekat dengan kekuatan spiritual, sehingga banyak pantangan yang dijaga dengan ketat.
Meskipun termasuk tradisi, namun penting untuk mengetahui beberapa larangan Malam 1 Suro yang sudah menjadi bagian dari budaya dan tidak bisa disamakan dengan ajaran Islam.
Larangan Malam 1 Suro
Baca Juga: Kapan Malam 1 Suro 2025 yang Juga Bertepatan dengan 1 Muharram 1447 H? Cek Tanggalnya di Sini!
1. Tidak Mengadakan Pernikahan
Sebagian masyarakat Jawa percaya bahwa menikah di bulan Suro bisa membawa kesialan dan menimbulkan masalah dalam rumah tangga.
Dalam buku Panduan Syahadat (2015) karya Taufiqurrohman, disebutkan bahwa menggelar hajatan pernikahan pada Malam 1 Suro diyakini bisa membawa nasib buruk, baik bagi mempelai maupun semua pihak yang terlibat dalam acara tersebut.
2. Tidak Mengadakan Pesta atau Hajatan
Masyarakat menghindari acara meriah seperti hajatan, konser, atau pesta karena malam ini dianggap sebagai waktu untuk menyepi, bukan bersenang-senang.
Acara besar seperti sunatan massal, selamatan desa, atau pagelaran seni biasanya tidak dilaksanakan selama bulan Suro karena dianggap bisa mengganggu keberkahan dan berpotensi mendatangkan musibah.
Beberapa orang juga percaya bahwa bulan Suro dikenal sebagai waktu yang penuh kekhusyukan dan kesucian, sehingga tidak identik dengan perayaan meriah, melainkan sebagai penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual dan budaya.
3. Tidak Pergi Jauh dari Rumah
Diyakini bahwa Malam 1 Suro dipenuhi oleh energi gaib, sehingga keluar rumah terlalu jauh dianggap berisiko secara spiritual.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 3Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








