Kisah Harlia Menghidupkan Cinhay Cell, Jadi Andalan Setoran Tunai Juragan Sembako hingga Petugas PNM Mekaar

AKURAT.CO Harlia (29) mewarisi usaha warung atau kios pulsa ayahnya, Cinhay di bilangan Jalan Padurenan, Desa Padurenan, Gunung Sindur, Kabupaten Bogor. Usaha ini sudah berjalan 3 generasi.
Secara geografis, Cinhay Cell terbilang strategis karena berada di paling depan tak jauh dari jalan raya Serpong Parung dan berhadap-hadapan dengan berbagai pabrik. Ada PT Gloria Origita Cosmetics (merek Purbasari), PT Indofert Subur Utama, PT Ayara Beauty Indonesia dan sebagainya. Banyak pekerja pabrik, masyarakat pendatang maupun warga desa dari arah agak ke dalam berlalu-lalang.
“Dulu ini awalnya warung/ toko, masih rumahan. Kemudian berkembang menjual juga aksesoris HP dulu masih ramai itu, di 2019 itu saya rapikan tokonya. Sampai akhirnya di tahun yang sama saya bergabung menjadi Agen BRILink, melebar tokonya ke depan rumah,” kenang Harlia.
Baca Juga: Dari Balik Kios Pulsa, Owner Teges Cell Konsisten Jaga Kepercayaan Pelanggan
Keagenan BRILink sendiri tak asing di telinga Harlia karena memang sebelumnya keluarganya pernah mengajukan pinjaman KUR ke BRI di tahun 2017, yang sebagian digunakan juga untuk modal awal berbisnis Agen BRILink. Iseng mencoba mendaftar keagenan, ternyata Harlia lolos menjadi agen. Asal tahu, salah satu syarat menjadi Agen BRILink adalah memiliki usaha yang sudah berjalan beberapa tahun.
Namun perjalannya menjadi agen BRILink tidak mudah karena di awal berjalan, transaksi harian masih sepi, beberapa saja. Nominal transaksipun masih di bawah Rp100 juta per hari. Transaksi mulai ramai sejak para petugas lapangan (Account Officer/AO) Permodalan Nasional Madani atau PNM Mekaar, anak usaha BRI mendatanginya. 1 AO diikuti AO lainnya, hingga belasan AO bertransaksi di Cinhay Cell.
“Nasabah PNM Mekaar itu kan debitur atau pelaku usaha ultra mikro yang kebanyakan belum punya rekening dan masih setoran dalam bentuk cash, sore sepulangnya ngumpulin setoran itu biasanya para AO sudah WA saya duluan agar saya nalangin duluan (setor ke BRI). Baru malamnya pas ketemu para AO setor tunai ke saya,” tutur Harlia.
“Sehari bisa 17-19 AO setor tunai, dua kali mereka siang dan malam. Kalau lagi ramai satu orang setor bisa sampai di atas Rp20 juta, rata-rata Rp10-15 juta di weekdays, sisanya weekends di bawah Rp5 juta sampai beberapa ratus ribu,” imbuh Harlia.
Selain para AO PNM Mekaar, agen sembako dan agen minuman di sekitar lokasi juga turut menyemarakan transaksi harian. Nominal transaksi mereka pun tak main-main, sekitar Rp50-70 juta sekali setor tunai.
“Saya seringnya nalangin dulu saya tambah (saldo di rekening) jadi Rp100 juta misalnya, itu saja masih kurang itu untuk transaksi harian. Karena agen sembako itu kalau setoran (tunai) di saya lumayan besar bisa sampai Rp100 juta sendiri, belum lagi ada agen minuman sekali setor bisa Rp50 juta,” imbuh Harlia.
Fokus ke Kuantitas ketimbang Nominal Transaksi
Cinhai Cell lokasinya strategis di depan banyak pabrik
Berbisnis Agen BRILink lebih menjanjikan karena perputarannya lebih cepat ketimbang berjualan rokok misalnya, dengan modal relatif sama.
Namun demikian, fee based yang dihasilkan dari setiap transaksi di keagenan BRILink lebih besar secara satuan, mulai dari Rp5 ribu bahkan mungkin ada yang mengenakan hingga Rp100.000 untuk nominal transaksi yang begitu besar. Bandingkan dengan rokok yang untungnya hanya beberapa ratus perak saja per bungkus.
“Kenapa dulu tertarik bergabung keagenan BRILink saya pikir menguntungkan dan perputarannya cepat. Tapi memang agak tricky untuk fee based ini ya, jangan sampai kelipatannya malah mencekik. Kalau ketinggian malah nanti kabur pelanggan. Seperti misalkan untuk fee top up DANA ini, BRI menurut saya masih relatif lebih tinggi dari yang lain, kalau bisa diturunkan lagi,” ujarnya.
Harlia yang awalnya hanya bermodal sekitar Rp2,5 juta di awal merintis keagenan, perlahan mampu memperbesar modal. Setiap margin yang ia hasilkan dari fee based terus ia tabung untuk memperbesar modal.
Setiap harinya ia bolak-balik BRI Prumpung minimal dua kali untuk setor tunai, di pagi hari, terkadang pukul 15.00 an dan di pukul 18.00 an. Hingga akhirnya, ia mampu menghasilkan lebih dari Rp3-4 juta fee based per bulan, dengan jumlah transaksi harian lebih dari 30-50 kali transaksi.
Hari ini, transaksi di Cinhay Cell lebih berimbang antara setor tunai dan tarik tunai, kadang-kadang juga pembayaran. “Anak-anak depan (pabrik) suka pada tarik tunai beberapa ratus ribu. Yang pembayaran sih paling untuk angsuran yah karena saya juga sering masukin nasabah ke BRI. Karena kalau bayar di BRI Prumpung biasanya antre, direkomendasikan lah bayar di Cinhay,” tutur Harlia.
Berdayakan Adik Ipar
Kiki, adik ipar Harlia
Seiring berkembangnya bisnis keagenannya, Harlia memutuskan untuk mempekerjakan Kiki, adik iparnya. Ia kemudian fokus menjalankan bisnis keagenan sembako di rumah, di belakang kios Cinhay Cell.
“Saya sekarang pegang agen sembako di belakang. BRILink bener-bener dipegang adik ipar saja sendirian, kami bagi hasil. Saya pernah mempekerjakan orang lain tapi enggak bener kerjaannya. Ada kehilangan uang begitu, sekian, sekian,” ujar Harlia.
Harlia juga menyarankan para agen atau calon agen BRILink lebih bersabar berbisnis keagenan lakupandai di era digitalisasi perbankan saat ini karena persaingan kian ramai. Banyaknya mesin EDC dari berbagai kompetitor, kemudahan QRIS membuat setiap orang bahkan bisa menyediakan layanan serupa meski keamanannya tak terjamin.
“Harus sabar ya karena sekarang zaman sudah lebih canggih, hampir semua platform punya layanan lakupandai. Terus dari sisi harga (fee based) juga enggak bisa tinggi lagi karena persaingannya sudah semakin ketat. Dulu kan agen BRILink masih diatur jarak geografisnya, sekarang bahkan konter kecil saja sudah bisa menyediakan jasa transfer dengan harga atau fee based yang sama,” sarannya.
“Saya ikut enci (panggilan Kiki ke Harlia) sejak awal 2024, sudah hampir 2 tahun lah. Dulu sih masih kecil ya kiosnya, belum sebesar ini dan jumlah transaksinya masih sedikit. Pas sudah rapi, ada logo BRI juga, mungkin orang jadi lebih melihat. Jumlah transaksi harian 30 sih minimal sudah pasti di Senin-Kamis. Jumat kadang drop, Sabtu-Minggu ramai lagi. Nominal transaksi sehari bisa Rp70 juta lebih. Agen minuman saja dia sekali setor bisa Rp50-70 juta,” timpal Kiki.
Manfaat Ekonomi Keagenan BRILink
Rutinitas Harlia setiap hari termasuk setor tunai di ATM BRI Prumpung
Bagi Harlia, menjadi agen BRILink membuatnya lebih fleksibel merencanakan keuangan. Ibarat kata, sejak ada lebih dari satu pemasukan, dompetnya pun melebar.
Termasuk salah satunya untuk membiayai sekolah dua putranya yang baru duduk di SD dan SMP. Keuntungan dari keagenan juga turut meningkatkan kemampuan finansialnya dalam mencicil pinjaman/ KUR.
“Lumayan banget membantu dari BRILink karena jadi ada dua pemasukan kan. Hanya kalau bisa fee nya lebih rendah lagi terutama untuk top up DANA. Istilahnya walaupun sedikit marginnya kalau sering kan jadinya lumayan daripada kabur pelanggan enggak transaksi sama sekali,” harapnya.
Ia juga berharap pengajuan KUR ke depan bagi masyarakat dipermudah. “Sama mungkin untuk pinjaman KUR dipermudah lagi untuk yang mengajukan. Ya mungkin sekarang ada pimpinan baru di BRI Prumpung sehingga kebijakannya baru, lebih ketat atau bagaimana sehingga dibatasi maksimal Rp100 juta misalnya, untuk di atasnya harus ke KC BRI Pamulang. Tapi harapan saya ke depan lebih mudah lagi syaratnya, agar yang transaksi (setoran angsuran) di saya juga makin banyak,” tutur Harlia.
Keberadaan Cinhay Cell juga turut dirasakan manfaatnya oleh Siti (53), pemilik warung nasi Betawi di sekitar lokasi. Baginya, Cinhay Cell menjadi solusi untuk pembeli yang tak membawa uang tunai namun ingin makan di warungnya.
“Sering sih pendatang yang memang bukan langganan pas mau makan dia nanya bisa transfer/ QRIS? Pas saya bilang enggak bisa, eh enggak lama dia pergi dan balik lagi. Saya lihat sepertinya tarik tunai di Agen BRILink,” aku Siti.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








