Akurat Logo

Tak Sekadar Digitalisasi, QRIS BRI Jadi Andalan Astimah Menjaga Kelangsungan Warung RM Sederhana di Tengah Gejolak Ekonomi

Yosi Winosa | 21 Juni 2026, 16:29 WIB
Tak Sekadar Digitalisasi, QRIS BRI Jadi Andalan Astimah Menjaga Kelangsungan Warung RM Sederhana di Tengah Gejolak Ekonomi
Astimah, pemilik RM Sederhana di kompleks kantin Kementan

AKURAT.CO Di antara 30 puluhan warung yang berjualan di kompleks Kantin Kementerian Pertanian, Astimah (48) punya cara sendiri agar Warung RM Sederhana miliknya tetap berjalan.

Bukan dengan memperbesar menu atau membuka cabang, melainkan dengan beradaptasi terhadap perubahan kebiasaan pelanggan yang kini semakin mengandalkan pembayaran digital.

Warung yang kini ia kelola merupakan usaha keluarga yang diteruskan dari orang tuanya. Sejak 2018, Astimah menjaga operasional RM Sederhana setiap hari mulai pukul 06.00 WIB hingga selepas magrib, tak seperti kebanyakan warung lain yang tutup pukul 15.00 WIB.

Meski tinggal di Bogor dan harus menempuh perjalanan cukup jauh, rutinitas itu terus dijalani demi menjaga pelanggan yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun.

Pelanggan RM Sederhana bukan hanya pegawai di sekitar area gedung-gedung Kementerian Pertanian, tetapi juga datang dari berbagai perusahaan dan instansi yang berada di kawasan tersebut seperti karyawan Trakindo, Indosat dan BRI KK Ragunan.

Baca Juga: Dari Antre Kembalian ke Antre Bakso: Cara QRIS BRI Bikin Bakso Pakde Joe Kian Laris dan Pelanggan Makin Praktis

Saat jam makan siang tiba, aktivitas transaksi bisa berlangsung cepat dan padat. Di kondisi seperti itu, Astimah melihat perubahan besar dalam perilaku konsumen.

“Kalau siang suka ramai, tumpah brek, tapi abis itu udah. Sore paling satu, dua, satu, dua, kadang-kadang sore hari juga bisa aja ramai sih. Pagi pun yang datang satu, dua. Kalau di tahun 2023, 2025 masih mending sangat ramai. Sekarang agak turun, biasanya juga kan suka pada bawa bekal,” ujar Asti.

Sekitar dua tahun lalu, ia mulai menggunakan QRIS BRI yang difasilitasi melalui kantor kas BRI di lingkungan Kementerian Pertanian. Proses pembuatannya singkat, namun dampaknya mulai terasa dalam keseharian usaha.

Menurut Astimah, semakin banyak pelanggan yang kini memilih pembayaran digital dibandingkan uang tunai. Perubahan ini membuat warung harus lebih selaras dengan ritme pelanggan perkantoran yang bergerak serba cepat.

“Kalau aku emang seneng pakai qris. Kan ada juga pemilik warung yang enggak pakai QRIS, ah males ah. Buat aku malah jadi lebih gampang, lebih simple,” kata Asti.

Perubahan tersebut juga dirasakan langsung oleh pelanggan setianya. Salah satunya adalah Rian (34), seorang karyawan swasta yang bekerja di kawasan sekitar dan sudah beberapa tahun menjadi langganan RM Sederhana. Ia mengaku cukup sering makan siang di warung tersebut karena lokasinya mudah dijangkau.

Salah satu pelanggan RM Sederhana hendak memesan makanan

“Sekarang saya memang lebih sering pakai pembayaran digital untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk kalau makan siang. Jadi ketika warung langganan sudah menyediakan QRIS, rasanya lebih nyaman karena tidak perlu repot menyiapkan kas,” ujar Rian.

Menurut Rian, di tengah jadwal kerja yang padat, pelanggan cenderung memilih tempat makan yang bisa mengikuti kebiasaan transaksi mereka saat ini. RM Sederhana bagi Rian mampu mengikuti perubahan tanpa mengubah kenyamanan yang selama ini sudah dirasakan pelanggan.

“Yang saya lihat bukan soal teknologinya saja, tapi warung ini tetap terasa sederhana dan pelayanannya sama seperti dulu. Bedanya sekarang lebih mengikuti kebutuhan pelanggan yang memang sudah banyak beralih ke pembayaran digital,” katanya.

Rian menilai hal-hal kecil seperti kelancaran transaksi justru menjadi faktor yang membuat pelanggan tetap kembali. Menurutnya, saat jam makan siang yang singkat, pengalaman membeli makanan yang praktis menjadi nilai tambah tersendiri.

“Kalau antrean ramai, pelanggan biasanya ingin semuanya berjalan cepat. Ketika proses transaksi lancar, orang jadi lebih nyaman untuk datang lagi. Menurut saya itu salah satu bentuk adaptasi yang sekarang memang dibutuhkan usaha kecil,” ujarnya.

Yang menarik, penggunaan QRIS bagi Astimah bukan hanya soal menerima pembayaran. Ia mengaku mulai lebih nyaman membiarkan sebagian dana hasil penjualan tetap tersimpan dalam sistem digital sebelum digunakan kembali untuk kebutuhan usaha. Cara ini tanpa disadari membentuk kebiasaan baru dalam mengelola perputaran uang dagangan.

Bagi pelaku usaha mikro seperti dirinya, menjaga agar uang usaha tidak langsung habis untuk pengeluaran spontan menjadi tantangan tersendiri.

Kehadiran transaksi digital membuat Astimah memiliki ruang untuk mengatur kapan dana digunakan kembali, termasuk untuk belanja kebutuhan operasional.

“Saya malah senang pakai QRIS, duitnya bisa kesimpen. Kalau cash kan kepakai terus buat belanja bahan misalnya. Kalo di QRIS kadang bisa sekalian buat simpanan. Saat pembeli enggak ada yang bayar pakai cash, baru kutarik. Tapi aku jarang narik tunai juga sih. Paling belanjanya ke yang bisa pakai QRIS semisal di agen. Kalau di pasar kan suka enggak ada,” cerita Asti.

Fitur notifikasi pembayaran otomatis juga menjadi bagian kecil yang memberi rasa tenang saat Asti melayani pelanggan dalam kondisi ramai.

Ketika pesanan datang bertubi-tubi, termasuk pesanan puluhan gelas kopi untuk acara diskusi di ruangan salah satu Gedung Kementan, kepastian transaksi yang langsung terkonfirmasi membantu operasional tetap berjalan lancar.

“Sekarang kan QRIS suka ada bunyinya (QRIS Soundbox atau notifikasi otomatis berupa suara saat transaksi pembayaran berhasil), sangat membantu,” kata Asti.

Meski kondisi kantin saat ini menurut Astimah tidak seramai beberapa tahun lalu dan persaingan antarpenjual semakin terasa, ia tetap memilih beradaptasi daripada bertahan dengan cara lama. Baginya, perubahan kebiasaan pelanggan adalah sesuatu yang harus diikuti.

Dari warung sederhana yang menjual sekitar tiga puluhan porsi setiap hari itu, Astimah menunjukkan bahwa mempertahankan usaha bukan selalu tentang ekspansi besar, tapi beradaptasi dengan perubahan perilaku pelanggan.

Dengan cara ini, usaha yang dikelolanya dengan biaya sewa tahunan ke koperasi Kementan Rp12 juta per tahun ini terus bertahan.

Bahkan Asti yang pada awal 2024 juga pernah mengambil KUR di BRI Unit Cilandak senilai Rp15 juta, cicilan Rp670 ribu dan tenor 2 tahun ini mampu mengentaskan pendidikan anak-anaknya.

Anak pertama, putra, lulusan S1 kini kerja di KAI. Anak kedua, putri, sekarang bekerja di salh satu RS dan anak ketiganya, putra, masih di bangku sekolah.

Kadang, bertahan dimulai dari keputusan kecil untuk mengikuti cara pelanggan bertransaksi dan menjaga agar roda usaha tetap berputar.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.