Akurat Logo

Kapten Timnas Iran Curhat Betapa Sengsaranya Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat

Fitra Iskandar | 15 Juni 2026, 11:33 WIB
Kapten Timnas Iran Curhat Betapa Sengsaranya Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat
Kapten Timnas Iran Curhat Betapa Sengsaranya Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat . Foto: Instagram: Instagram/mehditaremiofficial9

AKURAT.CO Tim Nasional Iran mengaku menghadapi situasi yang tidak biasa dalam ajang Piala Dunia 2026. Di tengah konflik bersenjata yang masih berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat, para pemain harus berjuang menghadapi berbagai kendala nonteknis yang dinilai mengganggu persiapan mereka di turnamen sepak bola terbesar dunia tersebut.

Kapten Iran, Mehdi Taremi, mengatakan suasana Piala Dunia kali ini jauh berbeda dibandingkan pengalaman yang pernah ia rasakan sebelumnya.

"Saya merasakan ketegangan sejak pertama kali tiba di Piala Dunia ini. Ketika ada ketegangan seperti ini, pengalaman indah yang biasanya identik dengan perdamaian dan kegembiraan menjadi berkurang," kata Taremi dalam konferensi pers menjelang laga pembuka melawan Selandia Baru di SoFi Stadium, Los Angeles.

Iran tiba di California Selatan pada Minggu setelah menjalani pemusatan latihan di Tijuana, Meksiko. Kamp latihan tersebut dipindahkan dari Amerika Serikat setelah pecahnya perang antara kedua negara.

Visa Ditolak dan Persiapan Terganggu

Konflik yang pecah sejak serangan Amerika Serikat ke Iran pada Februari lalu telah menimbulkan berbagai hambatan bagi skuad Team Melli.

Selain harus memindahkan lokasi latihan ke Meksiko, delegasi Iran juga menghadapi masalah visa. Sejumlah anggota rombongan dilaporkan tidak mendapatkan izin masuk ke Amerika Serikat.

Juru bicara tim menyebut dua anggota staf media Iran ditolak visanya menjelang pertandingan pertama mereka di Piala Dunia.

Tak hanya itu, para suporter Iran juga mengalami berbagai kendala dalam mendapatkan tiket pertandingan.

Pelatih Iran Amir Ghalenoei mengakui situasi tersebut memengaruhi konsentrasi tim.

"Sepak bola seharusnya menyatukan bangsa dan budaya. Kondisi yang terjadi saat ini tentu berdampak pada fokus teknis kami, tetapi saya terus berusaha agar para pemain tetap fokus pada strategi dan permainan," ujarnya.

FIFA Tolak Permintaan Iran

Sebelum perang pecah, Iran berencana menggelar pemusatan latihan di Tucson, Arizona. Namun rencana tersebut dibatalkan dan tim memilih bermarkas di Baja California, Meksiko.

Iran juga sempat mengajukan permintaan kepada FIFA agar seluruh pertandingan fase grup dimainkan di luar wilayah Amerika Serikat karena alasan keamanan dan logistik.

Namun FIFA menolak permintaan tersebut dengan alasan kontrak penyelenggaraan dan pengaturan jadwal tidak memungkinkan perubahan lokasi pertandingan.

Akibatnya, Iran hanya diperbolehkan masuk ke wilayah AS dalam waktu singkat menjelang pertandingan, sebelum kembali ke Meksiko setelah laga berakhir.

Iran dijadwalkan menghadapi Selandia Baru pada laga perdana, kemudian Belgia di California pekan depan, sebelum menutup fase grup melawan Mesir di Seattle pada 26 Juni.

Perjalanan Melelahkan Menuju Stadion

Taremi mengungkapkan perjalanan dari Tijuana menuju SoFi Stadium memakan waktu sekitar lima jam meski penerbangan yang digunakan relatif singkat.

Menurut Ghalenoei, kondisi tersebut tentu bukan situasi ideal bagi tim yang sedang berkompetisi di level tertinggi.

Meski demikian, ia menegaskan para pemain Iran terbiasa menghadapi kesulitan dan tetap bertekad memberikan kebahagiaan bagi masyarakat Iran.

"Kami orang Iran terbiasa mengubah kesulitan menjadi peluang. Kami hanya ingin membawa kebahagiaan bagi rakyat kami," katanya.

Bermain di Tengah Ketegangan Politik

Iran datang ke Piala Dunia sebagai salah satu tim yang lolos paling awal ke turnamen dan saat ini menempati peringkat ke-20 dunia versi FIFA.

Namun pecahnya perang membuat keikutsertaan Iran sempat menjadi perdebatan. Bahkan Presiden AS Donald Trump pernah menyatakan kekhawatirannya mengenai keamanan tim Iran jika bermain di Amerika Serikat.

Wilayah Los Angeles sendiri menjadi tuan rumah dua pertandingan Iran karena memiliki komunitas diaspora Iran terbesar di luar negeri, yang dikenal dengan sebutan "Tehrangeles".

Meski demikian, tidak semua warga keturunan Iran di Amerika mendukung tim nasional tersebut. Sejumlah kelompok oposisi terhadap pemerintah Iran dilaporkan berencana menggelar aksi protes selama pertandingan berlangsung.

Taremi mengaku memahami adanya perbedaan pandangan politik di kalangan warga Iran, tetapi menegaskan tim nasional hadir untuk menyatukan masyarakat melalui sepak bola.

"Kami bermain untuk seluruh rakyat Iran, baik yang tinggal di Iran maupun di luar negeri. Orang-orang mungkin memiliki pandangan yang berbeda, tetapi kami datang untuk mempersatukan dan membawa kebahagiaan bagi semua warga Iran. Kami tidak terlibat dalam politik. Kami datang untuk bermain sepak bola," tegas Taremi.

Di tengah tekanan perang, masalah visa, dan ketegangan politik yang membayangi turnamen, Timnas Iran berharap tetap mampu fokus di lapangan dan menciptakan kejutan di Piala Dunia 2026.

Sumber: ABC

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.