Pramono Pakai Teknologi Hidrotermal, Pengolahan Sampah Organik Pasar Kramat Jati Hanya Dua Jam

AKURAT.CO Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta terus berbenah mengatasi pengolahan sampah di Jakarta. Salah satu solusi yang tengah dilakukan, yaitu mengolah sampah organik menggunakan teknologi hidrotermal.
Gubernur Jakarta, Pramono Anung, menyatakan penggunaan teknologi hidrotermal mampu memangkas waktu pengolahan sampah organik dari metode konvensional sekitar tujuh hingga 10 hari menjadi dua jam setiap proses pengolahan.
"Dengan teknologi hidrotermal waktu pengolahan sampah dapat dipangkas menjadi sekitar duam jam untuk setiap batch," kata Pramono, saat meninjau pengolahan sampah organik di Pasar Kramat Jati, Senin (11/4/2026).
Baca Juga: PGN Gelar Program Tukar Sampah Plastik untuk BBG di Momen HUT ke-61
Teknologi hidrotermal memanfaatkan uap panas bertekanan tinggi untuk mengurai sampah organik tanpa proses pembakaran.
Menurutnya, penggunaan teknologi ini menjadi jawaban dalam memperkuat pengelolaan sampah dari sumber, khususnya di pasar tradisional yang menghasilkan sampah organik dengan jumlah besar.
"Ini merupakan inovasi yang sangat baik karena mampu mempercepat proses pengolahan sekaligus menghasilkan produk yang bernilai ekonomis," ujarnya.
Sesuai hasil uji coba pada April lalu, total sampah organik yang berhasil diolah di Pasar Kramat Jati mencapai 1.708,1 kilogram.
Dari proses pengolahan tersebut dihasilkan 936 liter pupuk cair, dengan efisiensi waktu pengolahan hingga 80 kali lebih cepat dibandingkan dengan metode konvensional.
Selain pupuk cair, pengolahan juga menghasilkan residu padat yang dapat dimanfaatkan kembali sebagai media tanam maupun pupuk organik. "Capaian ini menunjukkan bahwa inovasi pengelolaan sampah dapat memberikan hasil nyata dan terukur," tegasnya.
Baca Juga: Pramono Anung Ajak KAJ Dukung Gerakan Pilah Sampah dan Jaga Toleransi di Jakarta
Pramono mengatakan, penggunaan teknologi hidrotermal akan serentak diterapkan di seluruh pasar tradisional yang dikelola Pasar Jaya, untuk mengurangi beban sampah yang dikirim ke TPST Bantargebang.
"Ke depan, kami ingin implementasi di Pasar Kramat Jati menjadi percontohan bagi pasar-pasar lain di bawah naungan Perumda Pasar Jaya," ucapnya.
Untuk diketahui, Pasar Kramat Jati memiliki 1.803 tempat usaha dan menghasilkan sekitar enam ton sampah setiap hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 75 hingga 80 persen merupakan sampah organik, seperti sisa sayuran, buah-buahan, dan makanan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








