Jalan Panjang Menuju Perdamaian: Pertemuan Trump, Putin, dan Zelensky Masih Sekadar Wacana

AKURAT.CO Ketegangan geopolitik Rusia–Ukraina kembali menjadi sorotan dunia, terutama bagi negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.
Gedung Putih dikabarkan tengah meninjau sejumlah lokasi netral untuk menggelar pertemuan trilateral antara Presiden AS Donald Trump, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah Budapest, Hongaria.
Dalam unggahannya di Truth Social pada Selasa (19/8/2025), Trump menyebut pertemuan tiga pemimpin itu akan menyusul rencana pertemuan bilateral antara Putin dan Zelensky.
Gedung Putih bahkan mengumumkan bahwa Putin telah menyetujui bertemu Zelensky sebagai langkah awal menuju proses perdamaian.
Namun, klaim Washington itu segera terbentur realitas. Pihak Rusia belum memberikan konfirmasi resmi, bahkan menekankan bahwa pertemuan tingkat kepala negara tidak bisa digelar mendadak.
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, menegaskan bahwa setiap pertemuan puncak harus melalui tahapan perundingan di level bawah terlebih dahulu.
“Setiap kontak presiden harus dipersiapkan secara bertahap,” kata Lavrov, Rabu (20/8/2025) kepada media pemerintah. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, bahkan memilih tidak berkomentar atas pernyataan Gedung Putih.
Perbedaan narasi antara Washington dan Moskow ini memperlihatkan kerumitan proses negosiasi damai, terutama soal jaminan keamanan yang disebut-sebut tengah dipertimbangkan AS untuk Ukraina.
Baca Juga: Kepolisian Jeju Terbitkan Panduan untuk Wisatawan Asing, Pelanggar Bisa Didenda Rp2,3 Juta
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyebut kesepakatan itu sebagai “fase berikutnya dari proses perdamaian” setelah Trump melakukan pembicaraan telepon dengan Putin.
Di sisi lain, kehati-hatian Rusia justru menunjukkan masih jauhnya jalan menuju pertemuan trilateral.
Sikap Moskow ini muncul setelah kunjungan mendadak Presiden Zelensky ke Washington, di mana ia berupaya mengamankan komitmen dukungan dari Trump dan sekutunya di Eropa.
Meski Eropa sempat menyambut baik sinyal keterbukaan Trump untuk memberi jaminan keamanan bagi Ukraina, detail teknis mengenai bentuk komitmen tersebut, dan apakah Putin akan menyetujuinya, masih menjadi misteri.
Perbedaan sikap Washington dan Moskow menegaskan betapa rapuhnya peluang perdamaian.
Dengan jaminan keamanan sebagai titik krusial, upaya menengahi konflik Rusia–Ukraina berisiko tersandera tarik ulur kepentingan politik dua kekuatan besar dunia itu.
Baca Juga: Microsoft Rilis Patch Darurat Perbaiki Masalah Pemulihan Windows
Laporan: Bayu Aji Pamungkas
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









